Chatib Basri Sarankan Ubah Bentuk Stimulus Fiskal untuk Hadapi Corona

Chatib Basri menilai stimulus fiskal untuk mendorong permintaan tak akan efektif di tengah imbauan social distancing demi mencegah penyebaran virus corona.
Image title
16 Maret 2020, 13:50
Chatib Basri, stimulus fiskal, social distancing, virus corona, pandemi corona, insentif fiskal
Donang Wahyu | KATADATA
Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai pemerintah harus mengubah bentuk stimulus fiskal dengan perkembangan upaya mengatasi penyebaran virus corona saat ini.

Pemerintah mengimbau untuk belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah serta membatasi kontak atau social distancing guna mencegah penyebaran virus corona. Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai perkembangan tersebut berpengaruh pada situasi ekonomi dan efektifikasi kebijakan ekonomi seperti fiskal.

"Jika orang mengurangi aktifitas nya termasuk pergi berbelanja, menghindari keramain, kontak people to people, maka pola kebijakan yang tujuannya mendorong permintaan melalui belanja tidak akan efektif," ujar Chatib Basri dalam akun Instagram miliknya, dikutip Senin (16/3).

Ia menilai orang akan cenderung mengurangi aktivitas atau menggeser pola belanja ke online. Namun, jumlahnya masih relatif terbatas lantaran pasokan juga berpotensi terganggu seiring aktivitas bekerja yang terbatas.

"Maka upaya mendorong permintaan melalui fiskal juga terbatas. Karena itu, bentuk stimulus fiskal juga harus diubah sesuai kondisi agar lebih efektif," kata dia.

Advertisement

(Baca: Kerja dari Rumah, Sri Mulyani Terbitkan Ragam Stimulus Dampak Corona)

Chatib pun menyarankan pemerintah memfokus kebijakan fiskal kepada sejumlah hal. Pertama, mempriotitaskan perkotaan. Dampak virus corona kemungkinan akan lebih besar dibanding desa karena kepadatan penduduk dan intensitas interaksi. Industri juga ada diperkotaan dan juga kebutuhan pasokan makanan lebih tinggi di kota.

"Di sisi lain, desa juga memiliki fasiltas kesehatan yang kurang dibanding kota, maka juga tetap harus diperhatikan. Komposisi ini harus dihitung masak-masak,"jelas dia.

Kedua, mengalokasikan fiskal untuk program kesehatan. Pemerintah harus memastikan bila penderitanya COVID-19 menjadi masif, kapasitas rumah sakit, dokter, hingga obat cukup.

"Setelah kondisi bisa diatasi, dan aktifitas menjadi normal, barulah pengelolaan permintaan dilakukan," kata dia.

(Baca: Pembebasan Sementara Pajak Penghasilan Karyawan demi Dorong Daya Beli)

Ketiga, memastikan bahwa kelompok menengah bawah memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Akibat terganggunya aktifitas ekonomi, program seperti program keluarga harapan, bantuan pangan nontunai, dan prakerja menjadi penting.

Keempat, merelokasi untuk belaja yang kurang penting atau bukan prioritas. Kelima, memastikan bahwa stok makanan terkendali. Kenaikan harga akibat tidak tersedianya stock pangan akan menimbulkan kepanikan

"Setelah situasi kembali normal, barulah standard counter cyclical fiscal monetary untuk mendorong aggregate demand bisa dijalankan dan efektif," terang dia.

Jumlah kasus positif virus corona hingga kemarin telah mencapai 117. Sebanyak lima orang tewas akibat pandemi tersebut. 

i

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait