Reaksi Investor Berlebihan, Rupiah Terancam Tembus Rp 15 Ribu per US$

Nilai tukar rupiah pada perdagangan siang ini, Jumat (13/3), anjlok 2,05% ke posisi 14.820 per dolar Amerika Serikat.
Image title
13 Maret 2020, 13:49
Penukaran uang dolar AS di sebuah gerai Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB) di Malang, Jawa Timur, Kamis (23/2).
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Ilustrasi. Nilai tukar rupiah pada perdagangan siang ini anjlok 2% ke posisi Rp 14.820 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan siang ini, Jumat (13/3), anjlok 2,05% ke posisi Rp 14.820 per dolar AS. Rupiah melemah seiring kepanikan pasar terhadap kecepatan penyebaran virus corona dan dampak terhadap perekonomian.

Mengutip Bloomberg, rupiah dibuka melemah ke level 14.595 per dolar AS dari posisi kemarin 14.522. Rupiah terus loyo ke posisi 14.820 per dolar AS  pada pukul 09.39 WIB, tetapi tak bergerak lagi hingga pukul 13.15 WIB. 

Kurs Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (JISDOR) yang dipublikasikan Bank Indonesia juga menempatkan rupiah di posisi 14.815 per dolar AS, anjlok 325 poin dibanding posisi kemarin.

Jika mengacu kurs Bloomberg, rupiah sepanjang tahun ini sudah melemah 6,8%. Sedangkan mengacu kurs JISDOR, rupiah melemah 914 poin.

Advertisement

Seberapa dalam potensi pelemahan rupiah?

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede menjelaskan pelemahan rupiah hari ini terdorong sentimen negatif dari bursa saham AS yang anjlok hampir 10%. Demikian pula dengan Indeks Harga Saham Gabungan yang turun lebih dari 5%. 

"Investor bukan cuma panik tapi sudah overreacting, berlebihan responsnya, ini juga yang membuat rupiah melemah cukup dalam," ujar Josua kepada Katadata.co.id. 

(Baca: Rupiah Tembus Rp 14.800, Sri Mulyani: Aspek Kesehatan Masih Mengancam)

Semua investor saat ini menarik investasinya dari aset-aset berisiko dan menempatkan ke instrumen yang lebih aman. Ia pun menilai terdapat potensi pelemahan lebih lanjut hingga menyentuh level Rp 15 ribu per dolar AS.

"Kami harapkan dengan berbagai stimulus yang sudah diumumkan pemerintah ini akan menenangkan pasar. Jangan lupa, rupiah juga pernah menyentuh 15.200 per dolar AS saat The Fed menaikkan bunga," kata dia. 

Josua menilai BI tak mungkin mengintervensi besar-besaran rupiah dalam kondisi ketidakpastian saat ini. Apalagi, pelemahan nilai tukar tak hanya dialami rupiah.

"Pasar diharapkan jangan panik. Memang imbauan ini agak klise, tapi ini yang perlu dilakukan. Sejauh ini BI selalu ada di pasar dan cadangan devisa kita cukup besar," ujarnya. 

(Baca: Saham LQ45 Berguguran, IHSG Sesi Pertama Melemah 5,02%)

Kepala Ekonom Center of Reform on Economics Piter Abdullah menjelaskan ketidakpastian terkait penyebaran virus corona semakin meningkat, dan minimnya berita baik membuat investor menghindari aset berisiko, termasuk rupiah. Dengan kondisi tersebut, ia menilai wajar jika rupiah menembus level psikologis 14.500 per dolar AS. 

"Dengan melihat sentimen pasar yang sangat negatif, tekanan pelemahan rupiah masih akan besar. Tanpa intervensi BI maka rupiah sangat mungkin melemah melewati Rp 15 ribu per dolar AS," ungkap dia.

Sebagian mata uang Asia pada perdagangan siang ini juga melemah terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia turun 0,44%, baht Thailand 0,47%, won Korea Selatan 1,03%, dan yen Jepang 0,88%.

Sementara sebagian lainnya masih berhasil menguat. Yuan Tiongkok naik 0,69%, rupee India 0,25%, peso Filipina 0,09%, serta dolar Singapura dan dolar Hong Kong masing-masing 0,2% dan 0,07%.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait