Ditopang Modal Asing, Neraca Pembayaran Surplus US$ 4,7 M pada 2019

Neraca pembayaran pada tahun lalu membaik dibandingkan 2018 yang mengalami defisit US$ 7,1 miliar seiring kenaikan surplus transaksi modal dan finansial.
Image title
10 Februari 2020, 20:42
neraca pembayaran, surplus transaksi modal dan finansial, defisit transaksi berjalan, aliran modal asing
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA
Ilustrasi. Surplus transaksi berjalan dan finansial pada tahun lalu mencapai US$ 36,3 miliar, meningkat dibandingkan 2018 yang mencapai US$ 25,2 miliar.

Neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada sepanjang tahun lalu mencatatkan surplus sebesar US$ 4,7 miliar, membaik dibandingkan 2018 yang mengalami defisit sebesar US$ 7,1 miliar. Bank Indonesia mencatat capaian NPI tersebut terutama didorong oleh peningkatan yang signifikan pada surplus transaksi modal dan finansial.

"Surplus NPI tersebut terutama ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat serta defisit transaksi berjalan yang tetap terkendali," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam keterangan resmi, Senin (10/2).

Surplus transaksi berjalan dan finansial pada tahun lalu mencapai US$ 36,3 miliar, meningkat dibandingkan 2018 yang mencapai US$ 25,2 miliar. Peningkatan tersebut ditopang oleh aliran modal masuk pada investasi langsung maupun portofolio.

Investasi langsung pada tahun lalu meningkat dari US$ 12,5 miliar menjadi US$ 20 miliar, sedangkan investasi portofolio melonjak dari US$ 9,3 miliar menjadi US$ 21,6 miliar.

Advertisement

 (Baca: Neraca Pembayaran Surplus, IHSG Turun 0,7% terseret Bursa Saham Asia)

Sementara itu, investasi lainnya secara neto tercatat defisit sebesar US$ 5,4 miliar, berbanding terbalik dibandingkan 2018 yang mencatatkan surplus US$ 3,3 miliar.

Selain surplus pada transaksi modal dan finansial, menurut Onny, defisit transaksi berjalan pada 2019 juga membaik dari US$ 30,6 miliar atau 2,94% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2018 menjadi US$ 30,4 miliar.

Perkembangan tersebut terutama ditopang oleh neraca perdagangan barang yang mencatat surplus US$ 3,5 miliar, berbeda dibandingkan tahun sebelumnya yang mengalami defisit US$ 0,02 miliar. Kendati demikian, neraca perdagangan jasa mencatatkan kenaikan defisit dari US$ 6,5 miliar menjadi US$ 7,8 miliar.

(Baca: Ekonomi Stabil, BI Pertahankan Bunga Acuan di Level 5%)

Defisit pada neraca pendapatan primer juga meningkat dari US$ 30,8 miliar menjadi US$33,8 miliar dipengaruhi oleh peningkatan pembayaran bunga utang pemerintah dan swasta nonbank serta pembayaran atas investasi portofolio.

Sementara itu, neraca pendapatan sekunder surplus mencapai US$ 7,6 miliar, meningkat dibanding 2018 sebesar US$ 6,9 miliar. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh meningkatnya penerimaan transfer personal dalam bentuk remitansi tenaga kerja seiring peningkatan jumlah pekerja migran Indonesia.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait