Persaingan Ketat, Laba Bank Mandiri 2019 Cuma Tumbuh 9,9%

Bank Mandiri mencatatkan laba bersih tumbuh 9,9% pada 2019, melambat dibanding 2018 yang tumbuh 21,2%.
Image title
24 Januari 2020, 13:43
(kiri-kanan) Direktur Treasury, International Banking & SAM Bank Mandiri Darmawan Junaidi, Direktur Manajemen Risiko Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Consumer & Retail Transaction Hery Gunardi, Direktur Utama Royke Tumilaar, Pejabat Eksekutif Keuangan dan
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Bank Mandiri mencatat penyaluran kredit sepanjang 2019 tumbuh 10,6%.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan laba bersih pada tahun lalu tumbuh 9,9% menjadi Rp 27,5 triliun. Pertumbuhan laba tersebut melambat dibanding 2018 yang mencapai 21,2%. 

Hal ini disebabkan oleh penyaluran kredit perseroan yang tumbuh melambat dari 12,4% menjadi 10,6%. Adapun penyaluran kredit sepanjang tahun lalu mencapai Rp 907,5 triliun. Margin bunga bersih atau NIM juga turun dari 5,66% menjadi 5,56%. Adapun pendapatan bunga bersih naik 8,8% menjadi Rp 59,4 triliun. 

Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar menjelaskan, bisnis industri perbankan tahun lalu diwarnai dengan persaingan ketat serta maraknya usaha pembiayaan berbasis digital. Meski demikian, perusahaan tetap selektif dalam menyalurkan kredit. 

"Kami berpatokan pada kajian sektor guideline dan assessment karakter perusahaan yang ketat untuk memastikan pemenuhan kewajiban oleh calon debitur," katanya dalam konferensi pers kinerja 2019 yang digelar di Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (24/1).

(Baca: Kredit Macet Bengkak, Laba BRI 2019 Tumbuh Melambat jadi Rp 34 Triliun)

Advertisement

Penyaluran kredit Bank Mandiri pada tahun lalu masih ditopang oleh kredit segmen korporasi yang penyalurannya pada tahun lalu hanya tumbuh 7,69% menjadi Rp 329,8 triliun. Lalu kredit segmen komersial mencapai Rp 151,4 triliun, tumbuh 8,91% dibanding tahun sebelumnya.  Di sisi lain, segmen kredit mikro masih tumbuh 20,11% menjadi Rp 123 triliun. 

Perusahaan juga mencatatkan kualitas kredit membaik terlihat dari rasio kredit bermasalah atau NPL yang turun sebesar 42 bps tahun lalu menjadi 2,33%. Dampaknya, biaya pencadangan (CKPN) pun turun 14,9% menjadi Rp 12,1 triliun.

Adapun dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga atau DPK tercatat naik 10,97% menjadi Rp 933,1 triliun. Penopang pengimpunan DPK ini berasal dari tabungan yang tumbuh 5,01% mencapai Rp 315,9 triliun dan giro yang naik 23,5% menjadi Rp 236,4 triliun. 

(Baca: BUMN Siapkan Posisi buat Mantan Bos Taspen Iqbal Latanro)


"Di tengah ketatnya persaingan dan likuiditas ditambah dengan kondisi makro ekonomi global yang belum membaik, Bank Mandiri juga memacu penguatan dana murah," kata Royke.

Dia menambahkan, saat ini posisi permodalan dan likuiditas Bank Mandiri berada pada rasio yang baik dengan CAR bank only di 21,38% dan RIM sebesar 93,93%. "Rasio yang sangat baik ini jelas akan meningkatkan optimisme kami untuk bisa menjaga sustainabilitas kinerja,"  jelas Royke.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait