Tingkat Ketimpangan Turun pada September 2019, Terendah sejak 2011

Tingkat ketimpangan Indonesia yang ditunjukkan oleh rasio gini tercatat sebesar 0,38 pada September 2019.
Image title
Oleh Agustiyanti
15 Januari 2020, 13:10
Suasana deretan rumah di bantaran Sungai Ciliwung di Jakarta, Kamis (24/10/2019). Presiden Joko Widodo menargetkan angka kemiskinan bisa mendekati nol persen pada tahun 2045 dan telah menyiapkan lima kebijakan prioritas untuk mewujudkannya.
ANTARA FOTO/Reno Esnir
Ilustrasi. Tingkat ketimpangan Indonesia terus menurun setelah mencapai rasio gini tertinggi pada September 2014 sebesar 0,41.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh rasio gini pada September 2019 sebesar 0,38. Rasio gini tersebut juga merupakan yang terendah sejak 2011. 

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan rasio gini pada September turun dibandingkan Maret 2019 sebesar 0,382 maupun September 2019 sebesar 0,384. Penurunan ketimpangan tersebut terutama terjadi di perdesaan dengan rasio gini sebesar 0,315, turun dari Maret 2019 sebesar 0,317 dan September 2018 sebesar 0,319. 

"Ketimpangan di kota lebih tinggi dibandingkan desa," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (15/1). 

Ia menjelaskan, rasio gini pada September 2019 tercatat sebesar 0,391, turun dibanding Maret 2019 sebesar 0,392 tapi tak berubah dibanding September 2018. 

(Baca: Jumlah Penduduk Miskin RI Berkurang jadi 24,79 Juta per September 2019)

Selain rasio gini, ukuran ketimpangan lain yang sering digunakan adalah persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah atau yang dikenal dengan ukuran Bank Dunia.

Berdasarkan ukuran tersebut, menurut Suhariyanto, distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawa tercatat sebesar 17,71 persen. Hal ini berarti pengeluaran penduduk pada September 2019 berada
pada kategori tingkat ketimpangan rendah.

"Menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 16,9% yang berarti tergolong pada kategori ketimpangan sedang," jelas dia. 

Adapun untuk daerah perdesaan, angkanya tercatat sebesar 20,66 persen, yang berarti tergolong dalam kategori ketimpangan rendah.

(Baca: Ekspor-Impor Lesu, Defisit Neraca Dagang 2019 Turun jadi US$3,9 Miliar)

BPS juga mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2019 sebesar 24,79 juta orang, turun 360 ribu orang dibanding Maret 2019 atau 880 ribu dibanding September 2018.

Adapun secara presentase, jumlah penduduk miskin mencapai 9,22% dari total jumlah penduduk Indonesia, turun 0,19% dibanding Maret 2019 dan 0,44% dibanding September 2019.

Secara perinci, jumlah penduduk miskin di perkotaan pada September 2019 turun 137 ribu orang dibandingkan Maret 2019, sedangkan penduduk miskin pedesaan turun 221,8 ribu orang.  Dengan demikian, jumlah penduduk miskin di perkotaan tersisa 9,86 juta orang, sedangkan di perdesaan masih mencapai 14,93 juta orang. 

Sebelumnya, Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional atau Bappenas menargetkan tingkan ketimpangan pada tahun ini sebesar 0,385, turun dibanding target sebelumnya sebesar 0,37. 

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait