Rupiah Perkasa ke 13.982 per Dolar AS Tunggu Keputusan Bunga Acuan BI

Nilai tukar rupiah hari ini dibuka menguat di tengah penantian pasar terkait suku bunga acuan BI yang akan diumumkan siang ini.
Agatha Olivia Victoria
19 Desember 2019, 08:54
rupiah, nilai tukar rupiah, rupiah hari ini, rupiah menguat dolar as, bunga BI
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi. Nilai tukar rupiah hari ini dibuka menguat di level Rp 13.986 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah pada pembukaan pasar pagi ini, Kamis (19/12) menguat 0,04% ke level Rp 13.982 per dolar AS. Rupiah berjaya di tengah penantian pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia siang ini.

Beberapa mata uang Asia juga kompak dengan rupiah. Mengutip Bloomberg, dolar Taiwan naik 0,1%, won Korea Selatan melaju 0,3%, peso Filipina menguat 0,07%, serta rupee India dan baht Thailand  yang perkasa masing-masing 0,01% dan 0,04%.

Sementara, mayoritas mata uang Asia melemah. Yen Jepang turun 0,07%, dolar Hong Kong 0,02%, dolar Singapura 0,04%, yuan Tiongkok 0,09%, dan ringgit Malaysia 0,05%.

(Baca: Rupiah Menguat di Tengah Penantian Pasar Terkait Hasil Pertemuan BI)

Advertisement

Direktur Riset Center Of Reform on Economics Piter Abdullah Redjalam menilai, rupiah berpotensi melanjutkan penguatan hari ini. "Dari domestik, adanya keyakninan pasar akan kebijakan BI menjadi sentimen penguatan," kata Piter kepada Katadata.co.id, Kamis (19/12).

BI diperkirakan akan menahan suku bunga acuannya atau BI 7 Days Reverse Repo Rate hari ini di level 5%. Dengan suku bunga tetap, instrumen keuangan investasi di Indonesia dinilai masih lebih menarik sehingga arus modal akan kembali masuk.

Dari sisi global, Piter mengatakan bahwa kesepakatan tahap pertama antara AS dan Tiongkok terkait perang dagang memunculkan optimisme investor. Sebelumnya, Penasihat Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan perjanjian fase pertama antara AS dan Tiongkok telah selesai. Dia pun memperkirakan ekspor AS ke Tiongkok akan berlipat ganda berdasarkan kesepakatan.

(Baca: IHSG Bakal Dipengaruhi Pengumuman BI, Berikut Saham Pilihan Analis)

Menurut Piter, sentimen Brexit juga mendukung penguatan rupiah. "Hasil pemilu mengurangi ketidakpastian di Eropa," ujarnya.

Adapun pekan lalu, Boris Johnson kembali menduduki jabatan perdana menteri Inggris. Ini sesudah partainya meraih kemenangan telak sebanyak 76 kursi parlemen.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait