Modal Minus Rp 24 T, OJK Masih Pelajari Skema Penyelamatan Jiwasraya

Per September 2019, Jiwasraya mencatatkan modal minus Rp 24 triliun dan disebut membutuhkan Rp 32,89 triliun untuk mencapai modal minumum OJK.
Image title
Oleh Cindy Mutia Annur
11 November 2019, 15:01
jiwasraya, asuransi jiwasraya, ojk
Dok. Jiwasraya
Kementerian BUMN akan membentuk PT Jiwasraya Putera, perusahaan patungan antara PT Jiwasraya dengan kepemilikan 64%, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) lebih dari 20%, PT Telkomsel 13%, serta Pegadaian dan PT Kereta Api Indonesia sebesar 3%. Hal ini merupakan bagian dari skema penyelamatan Jiwasraya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan masih mempelajari data-data keuangan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan mekanisme penyelamatan BUMN asuransi itu. Per September 2019, Jiwasraya mencatatkan modal atau ekuitas minus Rp 24 triliun dan disebut membutuhkan dana Rp 32,89 triliun.

"Masih kami bicarakan, belum final (kebutuhan suntikan dana). Kami lihat dulu datanya," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank OJK Riswinandi saat ditemui di sela-sela acara HUT AFPI ke-1 di Jakarta, Senin (11/11).

Riswinandi tak mau berkomentar banyak terkait masalah yang sudah lebih dari satu tahun membelit BUMN asuransi ini.  Demikian pula ketika ditanya pihak yang dapat dipersalahkan akibat kerugian yang dihadap Jiwasraya. "Kami akan lihat dulu (datanya)," kata dia.

(Baca: Kemelut Gagal Bayar Jiwasraya, Tantangan Besar bagi Erick Thohir )

Ia juga enggan menjawab alasan dirinya dan OJK tidak hadir dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR terkait Jiwasraya pada Kamis (7/11) lalu. Padahal, DPR mengaku telah mengundang OJK. "Saya tidak ingin berkomentar," ungkap dia.

Sebelumnya, Jiwasraya menyatakan kepada DPR membutuhkan dana mencapai Rp 32,98 triliun guna memperbaiki permodalan perusahaan sesuai ketentuan minimal yang diatur OJK atau risk based capital (RBC) sebesar 120%.

Hal tersebut terungkap dalam salinan dokumen Jiwasraya saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR pada Kamis (7/11). Dokumen tersebut juga menunjukkan, modal atau ekuitas Jiwasraya per September 2019 negatif sebesar Rp 23,92 triliun. Adapun rapat antara DPR dan Jiwasraya digelar tertutup.

(Baca: Jiwasraya Minta Pemerintah Suntik Rp 32 T, BPK: Lebih Baik Dipailitkan)

Dokumen tersebut juga menjelaskan kesulitan keuangan yang kini dialami Jiwasraya, antara lain, terjadi akibat kesalahan dalam pembentukan produk Saving Plan dan pengelolaan investasi yang tidak hati-hati. 

Produk ini ditawarkan dengan imbal hasil  pasti sebesar 9% hingga 13% sejak 2013 hingga 2018, dengan periode pencairan setiap tahun. Namun pada kenyataannya, imbal hasil yang ditawarkan itu lebih besar dibandingkan rata-rata hasil investasi di pasar. 

Perusahaan juga diketahui banyak melakukan investasi pada aset berisiko untuk mengejar imbal hasil tinggi, sehingga mengabaikan prinsip kehati-hatian. Pada tahun lalu, sebesar 22,4% atau Rp 5,7 triliun dari total aset finansial perusahaan ditempatkan pada saham, tetapi hanya 5% yang ditempatkan pada saham LQ45. Lalu 59,1% atau Rp 14,9 triliun ditempatkan pada reksa dana, tetapi hanya 2% yang dikelola oleh top tier manajer investasi. 

Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan kerugian hingga modal Jiwasraya minus seperti tergambar dalam Databooks di bawah ini.

Katadata.co.id telah berusaha mengkonfirmasi permasalahan modal tersebut kepada manajemen Jiwasraya dan Kementerian BUMN. Namun, belum ada jawaban dari kedua pihak. Menteri BUMN Erick Tohir yang ditemui pagi ini dalam peresmian LRT Jabodebek pun tak bisa berkomentar lantaran sedang kehilangan suaranya akibat sakit. 

Namun, Erick sebelumnya menyebut masalah gagal bayar Jiwasraya akan menjadi salah satu fokusnya dalam memimpin Kementerian BUMN. Pihaknya pun telah memiliki tiga strategi guna menyelamatkan BUMN asuransi tersebut, salah satunya melalui pendirian anak usaha Jiwasraya yang kini telah terealisasi.

Reporter: Cindy Mutia Annur
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait