Ekonomi RI Melambat, Wamenkeu Suahasil Sebut Dampak Perang Dagang

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut, pertumbuhan ekonomi yang melambat pada tahun ini tak terlepas dari imbas perang dagang AS-Tiongkok.
Agatha Olivia Victoria
Oleh Agatha Olivia Victoria
6 November 2019, 15:38
Wamenkeu Suahasil
Arief Kamaludin|KATADATA
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat pada tahun ini tak terlepas dari imbas perang dagang AS-Tiongkok.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat pada tahun ini tak terlepas dari imbas perang dagang AS-Tiongkok. Ia pun menjelaskan terdapat tiga jalur penting yang terkena imbas perang dagang.

"Pertama, lewat aliran modal masuk, ini penting," kata Suahasil dalam sambutannya pada acara Indonesia Banking Expo (IBEX) 2019 di hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (6/11).

Menurut dia,  aliran modal asing rentan terpengaruh oleh kondisi global, terutama pada investasi portofolio. Namun, sepanjang tahun ini hingga akhir Oktober,  BI mencatat aliran modal asing yang masuk melalui investasi portofolio mencapai Rp 217 triliun. 

Kedua, investasi langsung atau foreign direct investment (FDI).  Untuk itu, menurut Suahasil, iklim investasi menjadi fokus yang paling penting. Iklim investasi yang nyaman, menurut dia menjadi salah satu pekerjaan rumah Indonesia dalam memperkuat FDI agar tak mudah terimbas perang dagang.

"Tersedianya infrastruktur, regulasi yang baik, serta mendukung iklim dunia usaha," ujarnya.

(Baca: Konsumsi Diperkirakan Meningkat, Bisnis Masih Loyo Jelang Tutup Tahun)

Selain kedua jalur tersebut, terdapat jalur lainnya yang terkena imbas yakni jalur perdagangan. Ia mengatakan, permintaan ekspor Indonesia kini kian terpuruk akibat menurunnya pertumbuhan negara maju. Di sisi lain, impor juga ikut terimbas.

Berdasarkan data BPS, ekspor secara kumulatif pada Januari-September 2019  tercatat sebesar US$ 124,17 miliar, turun 8% dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara impor secara kumulatif tercatat sebesarUS$ 126.115,8 juta, turun 9,12% dibanding periode sama tahun sebelumnya. 

BPS menjelaskan, penurunan ekspor dan impor terjadi seiring dengan perlambatan ekonomi pada negara-negara mitra dagang utama Indonesia. Tiongkok yang menjadi negara tujuan ekspor Indonesia dengan porsi 17,2% mencatatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dari 6,5% pada kurtal III 2018 menjadi 6%. Demikian pula dengan AS dan Singapura. 

"Sehingga tiga jalur ini kami perhatikan dengan serius karena dampaknya kepada perekonomian domestik," ucap dia.

(Baca: Makin Melambat, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2019 Hanya 5,02%)

Ia pun mengaku, lewat ketiga jalur ini lah pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga tahun ini lebih rendah dari dua kuartal sebelumnya. Pada kuartal III 2019, ekonomi tercatat hanya tumbuh 5,02%, lebih rendah dari kuartal II 2019 yang sebesar 5,05%, dan kuartal I 2019 sebesar 5,07%.

Oleh karena itu, menurut dia, pemerintah akan memberi dukungan secara berlanjut agar momentum pertumbuhan ekonomi bisa terjaga. Meski begitu, ia menegaskan bahwa angka pertumbuhan ekonomi 5,02% bukanlah angka yang rendah.

Suahasil mengatakan, banyak negara lain yang perekonomiannya turun jauh lebih rendah. "Ini harus bisa memberikan optimisme untuk gerakkan ekonomi Indonesia," jelas dia. 

BPS mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2019 juga lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu seperti tergambar dalam grafik di bawah ini.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait