Perbanas Lihat Tantangan Berat Perbankan pada Periode ke-2 Jokowi

Perbankan dinilai perlu menggeser penyaluran kredit ke sektor konsumer dan ritel.
Image title
18 Oktober 2019, 15:37
perbankan, ritel
Ilustrasi. Perbankan dinilai perlu menggeser penyaluran kredit ke sektor konsumer dan ritel.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Kartika Wirjoatmodjo menilai tantangan sektor perbankan pada masa pemerintahan Joko Widodo periode kedua akan meningkat. Salah satu yang perlu dilakukan perbankan, menurut dia, adalah menggeser fokus bisnis ke sektor konsumer dan ritel.

Ia menjelaskan dalam lima tahun terakhir, perbankan menghadapi dua tantangan utama yakni terkait meningkatnya kredit macet dan likuiditas yang mengetat. Saat ini, menurut dia, kondisi likuiditas perbankan sudah mulai membaik. Namun, terdapat tantangan terkait harga komoditas yang diperkirakan masih bergejolak terpengaruh dampak perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

"Jadi perbankan harus shifting (berubah). Kalau tadinya fokus di komoditas, sekarang harus bergeser ke yang sifatnya ritel, misalnya FMCG (konsumer), healtcare, e-commerce,  dan sebagainya," ujar Tiko ketika ditemui di Jakarta, Jumat (18/10).

(Baca: BI Perkirakan Pertumbuhan Kredit Perbankan Tahun ini Melambat)

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk ini menyakini pertumbuhan di sektor-sektor tersebut macih cukup baik. Selain menggeser fokus ke sektor konsumer dan ritel, perbankan dinilai perlu menggeser segmen kredit  ke nominal yang lebih kecil.

Ia mencontohkan pada sektor properti, segmen penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dapat diarahkan dari semula di atas Rp 1 miliar menjadi di bawah Rp 500 juta. Hal serupa juga dapat diterapkan pada Kredit Kendaraan Bermotor (KKB).

(Baca: Survei BI: Kredit Baru Tumbuh Melambat pada Kuartal III 2019)

Kendati demikian, ia mengakui perubahan segmen bisnis akan sulit dilakukan oleh bank-bank kecil karena keterbatasan jaringan. Ia pun menyarankan perbankan untuk bekerja sama dengan perusahaan teknologi finansial alias fintech untuk memperluas jaringan. 

"Karena untuk masuk ke penetrasi yang ultramikro, itu butuh jaringan luas," jelas dia.

Di sisi lain, Tiko percaya kabinet baru yang akan dibentuk Jokowi pada periode kedua akan membangun optimisme pelaku pasar. Dengan demikian, menurut dia, aluran dana masuk akan tetap mengalir ke Indonesia (capital inflow).

"Sehingga, pertumbuhan kredit bisa kembali di atas 10%," kata dia. 

Pertumbuhan kredit sepanjang tahun ini tercatat melambat dibanding tahun lalu. Pada Juni 201, penyaluran kredit perbankan tercatat tumbuh 9,94%, melambat dibandingkan Mei 2019 yang tumbuh sebesar 11,05% seperti tergambar dalam grafik di bawah ini.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait