Investor Khawatir Data Neraca Dagang Jeblok, Rupiah Bergerak Melemah

Nilai tukar rupiah dibuka menguat, tetapi bergerak melemah pagi ini akibat kekhawatiran investor terkait data neraca perdagangan yang dirilis hari ini.
Agatha Olivia Victoria
15 Oktober 2019, 09:53
Dolar
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi. Nilai tukar rupiah pagi hari ini, Selasa (15/10) dibuka menguat ke level Rp 14.137 per dolar AS tetapi bergerak melemah pagi ini.

Nilai tukar rupiah pagi hari ini, Selasa (15/10) dibuka menguat ke level Rp 14.137 per dolar AS. Namun saaat berita ini ditulis, rupiah ditransaksikan melemah ke level Rp 14.142 per dolar AS atau turun 0,02% dibanding kemarin.sore di level Rp 14.139 per dolar AS.

Selain mata uang Garuda, dolar Hongkong dan rupee India terpantau melemah. Dolar Hongkong turun satu poin dan rupee turun 0,29%.

Sementara mayoritas mata uang Asia menguat terhadap mata uang Negeri Paman Sam. Yen Jepang naik 0,06%, dolar Singapura 0,08%, dolar Taiwan 0,13%, won Korea Selatan 0,14%, peso Filipina 0,03%, yuan Tiongkok 0,06%, ringgit Malaysia 0,05%, serta baht Thailand 0,09%.

Vice President Monex Investindo Futures Ariston Tjnedra menilai  terdapat sentimen dari dalam negeri yang mempengaruhi rupiah hari ini, yakni pasar menunggu data neraca perdagangan.

"Selain soal defisit, yang dikhawatirkan juga soal penurunan aktivitas ekspor dan impor. Data yang di bawah ekspektasi bisa melemahkan rupiah," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Selasa (15/10).

(Baca: Tiongkok Ingin Negosiasi Lagi Sebelum Teken Kesepakatan dengan AS)

Di sisi lain pasar kembali khawatir mengenai prospek negosiasi dagang AS dan Tiongkok. Meskipun sudah tercapai kesepakatan parsial Jumat (11/10) lalu, menurut dia, kesepakatan tersebut butuh waktu satu bulan untuk dituangkan dalam perjanjian. 

Negosiasi dagang antara AS dan Tiongkok yang berlangsung selama dua hari terakhir, Kamis (10/10) sampai Jumat (11/10), berakhir dengan kedua belah pihak yang berseteru akhirnya berhasil merumuskan kesepakatan yang akan diluncurkan dalam beberapa tahap.

Ini merupakan perkembangan yang sangat signifikan dalam upaya untuk menyelesaikan perang dagang yang telah berlangsung selama 15 bulan. Pada tahap pertama beberapa poin kesepakatan antara lain mencakup pertanian, nilai tukar, dan perlindungan hak atas kekayaan intelektual.

(Baca: AS-Tiongkok Rujuk, Trump Umumkan Kesepakatan Dagang Tahap 1)

Namun,  pengumuman tersebut tidak merinci banyak hal. Bahkan penandatanganan dokumen yang akan lebih merinci kesepakatan tersebut, baru akan dilakukan lima pekan kemudian. Dalam rentang waktu tersebut Trump mengatakan bahwa kesepakatan tersebut bisa saja runtuh, walau dia optimistis hal tersebut tidak akan terjadi.

Dengan tercapainya kesepakatan ini, AS pun membatalkan rencana kenaikan tarif pada 15 Oktober 2019 terhadap impor asal Tiongkok senilai US$ 250 miliar dari 25% menjadi 30%.

Meski demikian, rencana kenaikan tarif pada 15 Desember 2019 masih sesuai rencana. Rencana tersebut akan menyasar produk Tiongkok senilai US$ 160 miliar yang akan dikenakan tarif sebesar 15%. "Friksi dagang antar keduanya dikhawatirkan pasar akan berlanjut karena masih adanya kenaikan tarif," ucap Ariston.

Tjandra pun memperkirakan rupiah hari ini berpotensi melemah. Ia meramal rupiah kan berada pada rentang Rp 14.100-14.190 per dolar AS hingga sore nanti.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait