Perang Dagang Mereda, Rupiah Melemah ke 14.215 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah pada perdagangan di pasar spot sore ini, Selasa (1/10) melemah 0,14% ke posisi Rp 14.215 per dolar AS.
Agatha Olivia Victoria
Oleh Agatha Olivia Victoria
1 Oktober 2019, 17:07
rupiah, dolar as
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Ilustrasi. Nilai tukar rupiah pada perdagangan di pasar spot sore ini, Selasa (1/10) melemah 0,14% ke posisi Rp 14.215 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan di pasar spot sore ini, Selasa (1/10) melemah 0,14% ke posisi Rp 14.215 per dolar AS. Ketegangan perang dagang yang mereda membuat indeks dolar AS menguat dan menekan rupiah.

Sementara kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah bertengger pada level Rp 14.196 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi kemarin Rp 14.174 per dolar AS.

"Meredanya tensi dagang mendorong dolar AS lebih tinggi sehingga rupiah melemah," kata Ekonom Bank Permata Josua Pardede kepada Katadata.co.id, Selasa (1/10).

Ia menjelaskan indeks dolar AS sempat naik 0,27% menjadi 99,377. Menurut Josua, angka ini tertinggi sejak Mei 2017. 

Sementara mengutip Bloomberg,  mayoritas mata uang negara Asia melemah terhadap dolar AS. Yuan Tiongkok melemah 0,36%, rupee India 0,37%, ringgit Malaysia 0,14%, baht Thailand 0,7%, peso Filipina 0,19%, serta dolar Singapura dan Hong Kong masing-masing 0,31% dan 0,02%.

(Baca: Dibuka Menguat, Rupiah Hari Ini Terancam Melemah karena Demonstrasi)

Ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok semakin mereda setelah pemerintahan AS membantah bahwa pihaknya mempertimbangkan untuk membatasi investasi AS di perusahaan-perusahaan Tiongkok. Bantahan ini mengisyaratkan bahwa pemerintah AS masih ingin menjaga hubungan baik dengan Pemerintah Tiongkok di tengah negosiasi perdagangan di antara mereka.

"Tiongkok juga memberikan keringanan baru untuk pembelian kedelai AS bebas tarif," ucap Josua.

Pasar saham AS ditutup menguat pada awal sesi perdagangan AS pekan ini. Di sisi lain, euro terkoreksi 0,03% terhadap dolar AS setelah rilis data inflasi Jerman yang menunjukkan pelambatan. Inflasi Jerman Uni Eropa selaras turun 0,9% secara tahunan, jauh di bawah target inflasi Bank Sentral Eropa, European Central Bank (ECB). Laju inflasi Jerman tercatat paling lambat sejak hampir 3 tahun.

"Akibatnya, investor mulai skeptis tentang efektivitas stimulus ECB. Skeptisisme ini mendorong euro lebih rendah," kata Josua.

(Baca: Dipicu Sentimen Perang Dagang, Harga Emas Kembali Anjlok)

Secara keseluruhan, Josua menilai pasar saham regional cenderung terapresiasi meskipun pasar keuangan Tiongkok tutup dalam lima hari ke depan bertepatan dengan libur nasional. Ia menuturkan, hal ini berpotensi mendorong penurunan volume perdagangan.

Mengutip akun twitter resmi Kementerian Perekonomian, secara tahun kalender, rupiah berada di posisi menguat 1,37%. Nilai ini lebih baik dibandingkan kondisi Malaysia dan Vietnam.

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko, kuatnya nilai rupiah secara tahun kalender tak terlepas dari arus modal asing yang konsisten masuk ke pasar dalam negeri. Selain faktor menurunnya suku bunga global, inflow ke emerging market juga dipicu meningkatnya ketidakpastian perekonomian terutama di AS.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait