Rupiah Melemah Tipis Tertekan Rencana Pemakzulan Trump

Nilai tukar rupiah pada perdagangan sore ini, Kamis (26/9) melemah 0,1% ke posisi Rp 14.165 per dolar Amerika Serikat (AS).
Agatha Olivia Victoria
Oleh Agatha Olivia Victoria
26 September 2019, 17:19
dolar as, rupiah
ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI
Ilustrasi. Nilai tukar rupiah pada perdagangan sore ini, Kamis (26/9) melemah 0,1% ke posisi Rp 14.165 per dolar Amerika Serikat (AS).

Nilai tukar rupiah pada perdagangan sore ini, Kamis (26/9) melemah 0,1% ke posisi Rp 14.165 per dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah tertekan rencana pelengseran Presiden AS Donald Trump dan aksi demonstrasi yang berlanjut di sejumlah daerah. 

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah juga terlihat melemah sehingga berada di level Rp 14.162 per dolar AS. Nilai tersebut turun 28 poin dari level kemarin pagi yakni Rp 14.134 per dolar AS.

Analis Pasar Uang PT Bank Mandiri Tbk Rully Arya Wisnubroto menjelaskan, koreksi mata uang rupiah hari ini disebabkan oleh faktor global, yakni penguatan dolar AS. Adapun indeks dolar tercatat menguat 0,09% ke level 99,1. 

"Dolar AS menguat terhadap beberapa mata uang utama seperti Euro," kata Rully kepada Katadata.co.id, Kamis (26/9).

Mengutip Bloomberg,  euro dan poundsterling melemah masing-masing 0,09% dan 0,28% terhadap dolar AS. Franc Swiss dan rubel rusia masing-masing juga melemah 0,27% dan 0,23%.

(Baca: Pasar Jenuh Jual, IHSG Ditutup Melesat 1,37%)

Sejumlah mata uang Asia juga turut terkapar terhadap dolar AS. Dolar Singapura turun 0,15%,  won Korea Selatan dan yuan Tiongkok masing-masing 0,1%, serta ringgit Malaysia dan baht Thailand masing-masing 0,08%.

Namun, yen Jepang dan peso Filipina berhasil naik masing-masing 0,15%. Demikian pula dengan rupee India yang menguat 0,08% serta dolar Hongkong dan dolar Taiwan yang naik masing-masing 0,1%.

Arya menjelaskan, dolar AS menguat seiring penantian pasar menunggu kepastian perkembangan negosiasi dagang AS dan Tiongkok. Selain itu, pasar juga menunggu perkembangan politik di AS, terutama terkait pemakzulan Presiden Trump.

Sebelumnya, sebanyak 219 dari 435 anggota dewan AS mendukung pemakzulan atau upaya melengserkan Presiden AS Donald Trump. Seluruh anggota dewan yang setuju berasal dari Fraksi Demokrat.

(Baca: Transkrip Pembicaraan Dirilis, Trump dan Presiden Ukraina Disorot)

Upaya pemakzulan Trump ini dipicu oleh laporan dari whistleblower di kalangan intelijen yang mengeluhkan tentang pembicaraan telepon Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. 

Adapun Trump dituding mendesak Ukraina melalui telepon untuk menginvestigasi kasus korupsi di negeri tersebut. Kasus ini melibatkan Joe Biden, mantan wakil presiden AS yang berpotensi menjadi rival politiknya pada Pemilu AS 2020, serta putranya Hunter. Desakan tersebut dengan ancaman pembekuan dana bantuan kepada angkatan bersenjata Ukraina.

Sementara dari dalam negeri, menurut Arya, demonstrasi berturut-turut selama tiga hari menjadi sentimen pelemahan rupiah. "Pasar khawatir dengan kondisi politik dalam negeri," terang dia.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait