Pemerintah Waswas Kepemilikan Asing di Surat Utang Negara Kian Tinggi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui besarnya porsi asing pada Surat Utang Negara meningkatkan risiko pada perekonomian.
Michael Reily
9 Agustus 2019, 16:21
Darmin Nasution, Surat Utang
KATADATA | Arief Kamaludin
Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menyebut porsi kepemilikan asing yang besar pada Surat Utang Negara bisa meningkatkan risiko terhadap perekonomian Indonesia.

Pemerintah mengaku mulai khawatir dengan porsi kepemilikan asing yang sudah hampir mencapai setengah dari total Surat Utang Negara (SUN) yang beredar. Data Neraca Pembayaran Bank Indonesia menyebut rasio kepemilikan asing terhadap SUN pada kuartal II 2019 mencapai 46,6%, naik dibanding kuartal I 2019 sebesar 46%.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan porsi kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) sudah mencapai lebih dari 40%. Hal ini, menurut dia, meningkatkan risiko bagi perekonomian Indonesia.

"Sekali goyang (perekonomian), mereka langsung keluar. Ekonomi kita terbanting. Mengurangi ketergantungan tentu bukan pekerjaan jangka pendek, tetapi harus sedikit demi sedikit dikurangi," ujar Darmin di Jakarta, Jumat (9/8).

(Baca: Menko Darmin Akui Ekonomi Indonesia Kalah Efisien Dibandingkan Vietnam)

Advertisement

Salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan asing pada portofolio surat utang pemerintah, antara lain dengan mendorong inklusi keuangan.

"Tapi tentu tidak bisa kalau hanya sekadar menmbuka tabungan, inklusi keuanggannya tidak hanya itu tetapi juga produk keuangan lainnya," jelas dia.

Sementara ditemui ditempat terpisah, Menteri Keuangan Sri Muluani menekankan pentingnya pendalaman pasar keuangan guna menurunkan porsi investasi asing pada SUN. Pasalnya, tingginya porsi asing menimbulkan kerentanan pada pasar keuangan di Tanah Air saat ekonomi global tengah goyah.

"Ditengah kondisi global yang sedang bergejolak, ini menimbulkan vulnerability (kerentanan pada sektor keuangan)," terang dia.

(Baca: Nilai Valuasi Tak Capai US$ 1,5 M, Inalum Sanggup Akuisisi Saham Vale)

Selain pendalaman pasar keuangan, menurut dia, ia juga menekankan pentingnya meningkatkan inklusi keuangan di Tanah Air. Saat ini, menurut dia, Indonesia dan India adalah negara besar di dunia yang tingkat inklusinya paling rendah.

Padahal, lanjut Sri Mulyani, masyarakat yang sadar dengan produk keuangan diharapkan akan membuat kepemilikan domestik terhadap SUN meningkat sehingga mengurangi porsi asing.

Berdasarkan data Neraca Pembayaran Indonesia, aliran modal asing pada kuartal II 2019 mencapai US$4,5 miliar. Adapun porsi kepemilikan asing terhadap SUN meningkat dari 46% pada kuartal I 2019 menjadi 46,6%. 

Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait