Beda dengan IMF, Faisal Basri Sebut Ekonomi RI Berpotensi Negatif 2,5%

Ekonom Indef Faisal Basri menilai pertumbuhan ekonomi domestik tahun ini berpotensi negatif 2,5%, lebih buruk dari ramalan IMF yang tumbuh 0,5%.
Image title
24 April 2020, 17:48
pandemi virus corona, pertumbuhan ekonomi, covid-19, virus corona, faisal basri
Arief Kamaludin|KATADATA
Ekonom Indef Faisal Basri menyebut pemulihan ekonomi di Indonesia usai pandemi virus corona tak akan secepat prediksi IMF.

Dana Moneter Internasional atau IMF memperkirakan ekonomi Indonesia pada tahun ini masih mampu tumbuh sebesar 0,5% serta akan pulih pada 2021. Namun, Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance  Faisal Basri menilai pertumbuhan ekonomi Tanah Air pada tahun ini berpotensi negatif 2,5% dan tidak serta merta pulih pada tahun depan.

"Prediksi IMF ini konservatif, tidak akan secepat itu recovery 2021. Indonesia amat sulit diprediksi karena penanganan covid-19 tidak karu-karuan," kata Faisal dalam Webinar Katadata bertajuk Ongkos Ekonomi Hadapi Krisis Covid-19, Jumat (24/4).

Ia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam skenario terbaik mencapai 0,5%. Sementara dengan skenario terburuk, berpotensi negatif 2-2,5%.

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan mulai meningkat pada 2021 menjadi 4,9%, kemudian pada 2022 tumbuh sebesar 5%. Sementara pada 2023 dan 2024 diperkirakan masing-masing tumbuh 5,2%.

Advertisement

Prediksi tersebut dipertimbangkan dengan melihat upaya pemulihan corona oleh pemerintah. Sebagai contoh, pelarangan mudik baru dilakukan saat sejumlah masyarakat telah terlanjur kembali ke kampung halamannya.

(Baca: IMF Ramal Ekonomi RI Tahun Ini Hanya Tumbuh 0,5%, Terendah Sejak 1998)

Kemudian, penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar  baru diterapkan setelah jumlah kasus corona tinggi. Terlebih lagi, situasi PSBB di Jakarta dinilai tak ada perubahan dengan hari biasa. "Masih saja macet di Pancoran, Jakarta. Seperti tidak ada PSBB," ujar dia.

Selain itu, kemampuan tes corona di Indonesia dinilai masih rendah dibandingkan negara lainnya. Hal ini membuat penanganan corona di Indonesia berjalan lambat.

Oleh karenanya, Faisal tidak bisa memperkirakan puncak kasus corona di Indonesia. Kebijakan yang dinilai bertele-tele tersebut juga menimbulkan ongkos ekonomi yang lebih besar. Apalagi, Indonesia tidak memiliki kemampuan fiskal yang besar seperti Amerika Serikat (AS).

Saat ini, lanjut dia, penambahan kasus corona harian di Indonesia juga masih fluktuatif. Kondisi tersebut berbeda dengan negara lainnya yang telah menunjukkan angka penurunan kasus harian. "Jadi, tidak ada pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan mencapai 8%," ujar dia.

(Baca: Ekonomi Jakarta Kontraksi 53%, Anies Susun APBD 2021 Lebih Realistis)

Sebagaimana diketahui, dalam laporan World Economic Outlook yang dirilis IMF pada Selasa (15/4), ekonomi Indonesia diperkirakan hanya tumbuh 0,5% pada tahun ini akibat pandemi virus corona. Prediksi pertumbuhan ekonomi ini merupakan yang terendah sejak krisis ekonomi 1998-1999.

Selanjutnya, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan pulih pada tahun depan dan mencapai 8,2%. Ini seiring pemulihan ekonomi dunia yang diprediksi tumbuh 5,8% dan ASEAN-5 sebesar 7,8%.

Adapun proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan itu menggunakan skenario dasar IMF. Dalam skenario tersebut, pandemi virus corona telah mereda pada semester kedua dan karantina atau lockdown yang dilakukan sejumlah negara perlahan dihentikan.

Reporter: Rizky Alika
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait