Bank Sentral Jepang Bakal Tambah Stimulus, Rupiah Berpotensi Menguat

Kurs rupiah diprediksi bergerak di level Rp 15.300 - 15.500 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Agatha Olivia Victoria
27 April 2020, 09:18
rupiah, kurs, stimulus bank sentral jepang, stimulus, pandemi corona
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Ilustrasi. Kurs rupiah hari ini dibuka melemah 0,36% ke level Rp 15.455 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,36% ke level Rp 15.455 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot pagi ini, Senin (27/4). Meski dibuka melemah, rupiah berpotensi menguat hari ini mengikuti momentum positif dari pekan lalu dan rencana stimulus tambahan Bank Sentral Jepang.

Mata uang Asia bergerak bervariasi pagi ini. Mengutip Bloomberg, yen Jepang melemah 0,04%, dolar Hong Kong 0,01%, rupee India 0,5%, dan yuan Tiongkok 0,21%.

Sedangkan dolar Singapura menguat 0,11%, dolar Taiwan 0,1%, won Korea Selatan 0,25%, peso Filipina 0,1%, ringgit Malaysia 0,08%, dan baht Thailand 0,06%.

(Baca: Sri Mulyani Siap Terima Bantuan IsDB untuk Penanganan Covid-19)

Advertisement

Vice President monex Investindo Futures Ariston Tjendra memperkirakan rupiah bisa menguat hari ini. "Mengikuti momentum penguatan yang didapat di akhir pekan lalu," ucap Tjendra kepada Katadata.co.id, Senin (27/4).

Menurut ia, sentimen positif datang dari harga minyak mentah yang mulai stabil. Selain itu, adanya rencana pembukaan lockdown di beberapa negara akibat mulai meredanya kasus positif virus corona turut menjadi sentimen penguatan.

(Baca: Kasus Corona AS Hampir 1 Juta, Pengangguran Diramal Melonjak jadi 16%)

Di sisi lain, Tjendra menilai sentimen positif turut datang dari isu Bank Sentral Jepang yang mempertimbangkan stimulus pembelian obligasi tanpa batas. "BOJ akan mengumumkan hasil rapat moneternya Selasa besok," ujarnya.

Dengan demikian, kurs rupiah terhadap dolar AS berpotensi bergerak di antara Rp 15.300-15.500 hari ini.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait