Tunggu Data Neraca Dagang, Rupiah Menguat ke 14.875 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah pada perdagangan pasar spot pagi ini, Jumat (15/5) dibuka menguat 0,07% ke level Rp 14.875 per dolar AS.
Agatha Olivia Victoria
15 Mei 2020, 09:07
rupiah, nilai tukar, dolar AS, rupiah hari ini
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj.
Ilustrasi. Rupiah menguat bersama mayoritas mata uang lainnya.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan pasar spot pagi ini, Jumat (15/5) dibuka menguat 0,07% ke level Rp 14.875 per dolar AS. Rupiah menguat ditengah penantian data neraca perdagangan April yang bakal dirilis BPS hari ini.

Mengutip Bloomberg, mayoritas mata uang Asia melemah. Yen Jepang terkoreksi 0,07%, dolar Singapura 0,04%, dolar Taiwan 0,1%, won Korea Selatan 0,11%, peso Filipina 0,12%, rupee India 0,14%, yuan Tiongkok 0,05%, dan ringgit Malaysia 0,17%.

Hanya baht Thailand yang berhasil menguat 0,04%, sedangkan dolar Hong Kong tak bergerak.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji memproyeksi data neraca perdagangan Indonesia pada April mengalami defisit. Namun, data penjualan ritel AS yang diprediksikan mengalami penurunan akan menekan dolar AS hari ini. "Ini diharapkan bisa memberi katalis positif bagi rupiah," kata Nafan kepada Katadata.co.id, Jumat (15/5).

Advertisement

(Baca: Harga Emas Dunia Menanjak, Logam Mulia Antam Naik Rp 7.000 per Gram)

Saat berita ini ditulis, indeks dolar AS bahkan sudah menurun 0,16% ke level 100,30. Meski demikian, Nafan mengatakan kurs rupiah masih akan dalam tren penurunan. Apalagi, di tengah penantian rilis neraca pembayaran triwulan I 2020 pada Rabu (20/5).

Dalam neraca pembayaran, neraca transaksi berjalan Ind onesia juga masih diperkirakan mengalami defisit. "Untuk support dan resistance rupiah pada hari ini berada di level Rp 14.725 dan 14.990," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut penjualan ritel AS pada bulan Maret terkontraksi hingga 6,2%. Pencapaian tersebut merupakan yang terdalam sejak 2009.

(Baca: Jumlah Kematian akibat Virus Corona Tembus 300 Ribu Orang)

Selain itu,  AS yang menjadi pusat ekonomi dunia juga mengklaim pengangguran bertambah 26 juta orang. Ini hanya dalam waktu 5 minggu. Kemudian, consumer confidence AS pada Maret hanya 71,2 atau terendah sejak 2011. 

Pertumbuhan domestik bruto Negeri Paman Sam pada kuartal I 2020 pun minus 4,8% dibanding periode yang sama tahun lalu. "Jadi ini menimbulkan kewaspadaan bagi kita semua karena dampaknya sangat dalam dan dahsyat dalam perekonomian," kata Sri Mulyani pada rapat kerja bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat dalam konferensi video di Jakarta, Kamis (30/4).

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait