Astra Tebar Dividen Rp 8,6 Triliun, Harga Saham Melesat 5,06%

Pemegang saham Astra akan mendapatkan dividen Rp 214 per saham dari laba 2019, termasuk dividen interim Rp 57 per saham yang sudah dibayar tahun lalu.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
16 Juni 2020, 11:35
Refleksi layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/4/2020). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin sore ditutup positif dengan menguat 17 poin atau 0,38 persen ke level 4.513.
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/wsj.
Refleksi layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan PT Astra International Tbk memutuskan untuk membagikan dividen tunai kepada pemegang saham dari laba tahun buku 2019 sebesar Rp 8,66 triliun atau Rp 214 per saham. Besaran dividen tersebut setara 40%  dari laba bersih tahun lalu Rp 21,7 triliun. 

Adapun besaran dividen tersebut mencakup dividen interim sebesar Rp 57 setiap saham atau seluruhnya berjumlah Rp 2,3 triliun yang telah dibayarkan pada 30 Oktober 2019. "Sehingga sisanya sebesar Rp 157 setiap saham atau seluruhnya berjumlah Rp 6,35 triliun," kata Head of Corporate Communications Astra Boy Kelana Soebroto usai RUPST pada Selasa (16/6). 

Sisa dividen tunai ini akan dibayarkan pada 10 Juli 2020 kepada pemegang saham ASII yang namanya tercatat dalam daftar pada 26 Juni 2020 pukul 16.00 WIB. Alhasil, harga saham ASII pada perdagangan sesi I hari ini melesat 5,06% menjadi Rp 4.980. 

(Baca: Djony Bunarto Resmi Jadi Presdir Astra Menggantikan Prijono Sugiarto)

Pembayaran dividen akan dilakukan dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan pajak, Bursa Efek Indonesia dan ketentuan pasar modal lainnya yang berlaku.

Astra pada tahun lalu membukukan laba bersih senilai Rp 21,7 triliun. Namun, capaian itu stagnan dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp 21,6 triliun yang disebabkan pelemahan konsumsi atau daya beli.

Mengutip laporan keuangan perusahaan, sepanjang 2019 Grup Astra membukukan pendapatan bersih Rp 237, 1 triliun. Angka tersebut turun 1% dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 239 triliun.

(Baca: Bisnis Terpukul Pandemi, Bank Permata Perkirakan Laba Turun 75%)

Penurunan pendapatan Grup Astra terutama disebabkan oleh menyusutnya pendapatan dari divisi bisnis otomotif dan agribisnis. Sedangkan di lini bisnis lain seperti jasa keuangan, infrastruktur serta logistik justru mencatat peningkatan. Adapun penurunan pendapatan tersebut turut berimbas terhadap laba bersih perseroan.

Pelemahan kinerja grup Astra sepanjang tahun lalu tak lepas dari dampak pelemahan konsumsi domestik dan rendahnya harga-harga komoditas. Namun demikian, kinerja Astra diuntungkan oleh peningkatan kinerja bisnis jasa keuangan dan kontribusi dari tambang emas Astra yang baru diakuisisi.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait