Data Ekspor Impor Membaik, Rupiah Malah Jatuh ke Rp 14.587 per US$

Kurs rupiah melemah 0,95% ke level Rp 14.587 per dolar AS meski data ekspor dan impor Juni membaik.
Agatha Olivia Victoria
15 Juli 2020, 17:03
rupiah, nilai tukar, hubungan as-tiongkok, kurs rupiah, 1 dolar berapa rupiah
ANTARA FOTO/Reno Esnir/foc.
Ilustrasi. Rupiah melemah di tengah penguatan mata uang Asia.

Nilai tukar rupiah pada pasar spot sore ini, Rabu (15/7) melemah 0,95% ke level Rp 14.587 per dolar Amerika Serikat. Rupiah  tersungkur imbas hubungan AS dan Tiongkok yang semakin memanas.

Rupiah melemah di tengah penguatan mayoritas  mata uang Asia terhadap dolar AS. Mengutip Bloomberg, yen Jepang naik 0,29%, dolar Singapura 0,23%, dolar Taiwan 0,02%, won Korea Selatan 0,43%, peso Filipina 0,13%, rupee India 0,37%, yuan Tiongkok 0,24%, ringgit Malaysia 0,18%, dan baht Thailand 0,05%. Sementara dolar Hong Kong tak bergerak signifikan.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate yang dipublikasikan Bank Indonesia pada pukul 10.00 WIB rupiah berada di posisi Rp 14.616 per dolar AS, turun 104 poin dibanding kemarin.

(Baca: Ekspor dan Impor Naik, Neraca Dagang Juni Surplus US$ 1,27 Miliar)

Advertisement

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai ada kecemasan seputar kenaikan tensi AS-Tiongkok seiring ketegangan di Laut Cina Selatan yang kembali memanas. "Setelah Inggris dilaporkan siap bergabung dengan AS dan Jepang di Indo-Pasifik untuk melawan Tiongkok," kata Ibrahim kepada Katadata.co.id, Rabu (15/7).

Lebih lanjut, para petinggi militer Inggris setuju mengerahkan kapal induk HMS Queen Elizabeth ke perairan tersebut. Dilansir dari The Australian, HMS Queen Elizabeth akan berlayar ke Indo-Pasifik untuk menggelar latihan perang dengan sekutu mereka yakni AS dan Jepang.

Selain itu, Ibrahim mengungkapkan ada kecemasan kenaikan tensi kedua negara ekonomi terbesar dalam kasus Hong Kong. Presiden AS Donald Trump mengatakan telah meneken aturan untuk mengenakan sanksi terhadap Tiongkok atas campur tangan Negeri Panda di Hong Kong. "Dia juga mengatakan telah menekan perintah eksekutif untuk mengakhiri status keistimewaan Hong Kong," ujarnya.

(Baca: Ekonomi Terpukul Corona, Penduduk Miskin RI Bertambah Jadi 26,43 Juta)

Sentimen-setimen eksternal tersebut menekan kurs rupiah hari ini. Padahal, menurut Ibrahim, data internal RI sudah membaik tercermin dari surplus neraca dagang Juni 2020 sebesar US$ 1,27 miliar. 

"Intervensi BI di pasar valas, obligasi dan SUN dalam perdagangan DNDF juga kurang membuahkan hasil sehingga berdampak terhadap keluarnya arus modal asing dari pasar dalam negeri," kata dia.

Dalam perdagangan esok hari, ia memperkirakan rupiah kemungkinan masih akan bergejolak dan mengalami pelemahan yang cukup tajam di level Rp 14.550-14.600 per dolar AS.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait