Efek Kilauan Harga Emas ke Saham Emiten Tambang

Harga saham emiten-emiten tambang terdampak kilau harga emas yang sempat mencatatkan rekor tertinggi pada perdagangan kemarin.
Image title
Oleh Muchammad Egi Fadliansyah
29 Juli 2020, 14:48
harga emas, harga emas dunia, pandemi corona, harga emas cetak rekor
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.
Ilustrasi. Kenaikan harga emas membuat saham-saham emiten tambang turut terdongkrak.

Harga emas dunia melesat pada awal paruh kedua tahun ini dan sempat mencatatkan rekor harga tertinggi pada perdagangan kemarin (28/7). Laju harga emas pun turut mendongkrak  saham-saham emiten di sektor tambang, terutama yang turut memproduksi emas. 

Sejak awal pekan hingga perdagangan sesi pertama hari ini, harga saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk atau PSAB melonjak 46,45 % ke level Rp 268 per saham, PT Merdeka Gold Tbk atau MDKA naik 11,80% ke level Rp 1,800 per saham, PT United Tractors Tbk atau UNTR 11,77% ke level Rp 21,600 per saham, PT Aneka Tambang Tbk atau ANTM 7,30% ke level 735 per saham, dan PT Vale Indonesia Tbk atau INCO 5,50% ke level Rp 3,450 per saham. 

Analis MNC Sekuritas, Catherina Vincentia, mengatakan bahwa perlambatan ekonomi disertai pengumuman resesi diberbagai negara dan prediksi ekonomi dunia akan negatif tahun ini menyebabkan investor mengalihkan asetnya kepada komoditas yang tidak beresiko, seperti emas. Pasar melihat harga emas yang paling menguntungkan dan aman,” katanya kepada Katadata.co.id, Rabu (29/7).

 Dikutip dari Reuters, harga emas di pasar spot hari ini, Rabu (28/7) berada di level US$ 1.956,13 per ons, sedangkan harga emas berjangka naik 0,41% ke posisi US% 1.952,6 per ons. Harga emas dunia di pasar spot kemarin sempat menyentuh level US$ 1.980 per ons dan membawa harga emas batangan Antam menyentuh Rp 1 juta per gram.

Kenaikan harga emas memang membuat saham-saham emiten produsen emas turut terdongkrak. Namun, ia memprediksi kondisi tersebut tak akan berlangsung lama. "Karena pasar hanya menanggapi euforia jangka pendek dan cepat atau lambat aksi ambil untung akan menurunkan harga,” ujarnya.

Ia pun memprediksi, harga komoditas emas pada semester II tahun ini akan berada pada level US$ 1,750 per ons. Bahkan, Bloomberg dan Bank Dunia memberikan prediksi lebih rendah atau berada di level US$ 1,680 per ons. Meski demikian, komoditas emas masih akan tetap diburu pasar. Alasannya emas tetap dipercaya pasar sebagai aset safe heaven. Meski demikian, ia masih merekomendasikan sejumlah saham produsen emas, seperti ANTM, MDKA, dan INCO.

Senada, Analis Binaartha Sekuritas, M Nafan Aji Gusta Utama menjelaskan pelaku pasar memburu emiten-emiten produsen emas seiring dengan kenaikan harga komiditas tersebut. Ia pun menilai beberapa saham emiten produsen emas dapat dicermati, seperti PT Aneka Tambang Tbk dan PT United Tractors Tbk.

Meski demikian, harga saham emiten emas sepanjang semester I 2020 justru melema meski harga emas meningkat.Harga saham ANTM pada sepanjang semester I terkoreksi 27,98% ke level Rp 605 dan UNTR terjungkal 23,11% ke level Rp 16,550. Hanya MDKA yang berhasil meningkat 27,57% ke level Rp 1,070 per saham selama sesi perdagangan periode 1 Januari hingga 30 Juni.  

Reporter: Muchammad Egi Fadliansyah
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait