Harga Bawang & Tarif Pesawat Anjlok, BPS Catat Deflasi 0,1% pada Juli

BPS mencatat deflasi pada Juli disumbangkan oleh harga bawang merah hingga tarif pesawat yang anjlok.
Agatha Olivia Victoria
Oleh Agatha Olivia Victoria
3 Agustus 2020, 12:25
BPS, inflasi, deflasi, kenaikan harga barang
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/hp.
Ilustrasi. Penurunan harga bawang merah memberikan andil besar pada deflasi pada Juli.

Badan Pusat Statistik  mencatat terjadi deflasi sebesar 0,1% pada Juli 2020. Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang tajam pada komoditas bawang merah hingga tarif angkutan udara.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan bahwa dengan deflasi  pada bulan lalu, inflasi secara tahunan pada  Juli tercatat 1,54% dan secara tahun kalender 0,98%. Deflasi terjadi di 61 kota. "Dari 90 kota yang dipantau," kata Suhariyanto dalam konferensi virtual, Senin (3/8).

Deflasi tertinggi terjadi di Manokwari yakni 1,09%. Penyebab utama deflasi di kota itu adalah penurunan harga bawang merah dan bawang putih.

Sementara itu, deflasi terendah terjadi di Gunungsitoli, Bogor, Bekasi, Luwuk, dan Bulukumba masing-masing 0,01%. Sebaliknya, inflas tertinggi terjadi di Timika 1,45% disumbang kenaikan tarif angkutan udara. Inflasi terendah di Banyuwangi dan Jember masing-masing 0,01%.

Suhariyanto menilai, pergerakan inflasi di Indonesia terus menurun pada tahun ini. "Terlihat dari angka inflasi secara tahunan,"ujarnya.

Berdasarkan kelompok pengeluarannya, makanan, minuman, dan tembakau menjadi kelompok terbesar penyumbang deflasi. Dengan andil 0,19%, kelompok tersebut mengalami deflasi 0,73%.

Komoditas yang harganya turun cukup tajam dan dominan menyumbang deflasi yakni bawang merah yang memiliki peran 0,11%, daging ayam ras 0,04%, bawang putih 0,03%, beras, cabai rawit, dan gula pasir masing-masing 0,01%. Namun, masih ada beberapa komoditas pada kelompok itu yang menyumbang inflasi, yakni telur ayam ras sebesar 0,04% dan rokok putih 0,01%.

Selain kelompok makanan, minuman, dan tembakau, transportasi menjadi kelompok yang mengalami deflasi 0,17% dengan andil 0,02%. Komoditas yang menyumbang deflasi pada kelompok tersebut yaitu tarif angkutan udara sebesar 0,05%.

Kendati demikian, Suhariyanto menjelaskan bahwa masih ada komoditas yang mengalami kenaikan harga sehingga menyumbang inflasi. Komoditas yang dimaksud adalah tarif angkutan antar kota dan roda empat online masing-masing 0,01%. "Namun penurunan yang cukup dalam pada tarif transportasi udara tak bisa terkompensasi dengan kenaikan ini," katanya.

 Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga mengalami deflasi 0,01%. Tetapi dengan angka yang tipis, kelompok itu tak menyumbang angka deflasi secara keseluruhan.

Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru mengalami inflasi yang sangat tinggi yakni 0,93%. Kenaikan harga emas perhiasan dengan andil 0,05% menjadikan kelompok tersebut memberi andil inflasi secara keseluruhan sebesar 0,06%.

Menurut Suhariyanto, harga emas memang naik tajam dan mencapai puncaknya belakangan ini. Kenaikan tertinggi terjadi di 80 kota dengan tertinggi di Bungo 10%, kemudian Tarakan, Medan dan Padang yang masing-masing naik 9%.

Kelompok pendidikan juga mengalami inflasi yang cukup tinggi yakni 0,16% namun memberi andil yang sedikit terhadap inflasi yaitu 0,01%. Penyebabnya, kenaikan uang sekolah SD terutama swasta.

Adapun kelompok pakaian dan alas kaki mengalami inflasi 0,09%, perlengkapan, peralatan, dan bahan bakar rumah tangga 0,1%, kesehatan 0,29%, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,02%, rekreasi, olahraga, dan budaya 0,15%, pendidikan 0,16%, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,15%.

Jika dilihat menurut komponennya, Suhariyanto menyebut inflasi inti tercatat 0,16%. Sementara harag diatur pemerintah dan bergejolak mengalami deflasi masing-masing sebesar 0,07% dan 1,19%. "Maka kita harus masih berupaya meningkatkan daya beli masyarakat," ujarnya.

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait