Konsumsi Rumah Tangga Anjlok, Ekonomi RI Kuartal II Tumbuh Minus 5,32%

Ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 terkontraksi 5,32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau 4,19% dibandingkan kuartal I 2020.
Agatha Olivia Victoria
5 Agustus 2020, 11:46
pertumbuhan ekonomi, ekonomi terkontraksi, ekonomi kuartal II, pandemi corona, resesi ekonomi
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww.
Ilustrasi. BPS mencatat ekonomi tercatat terkontraksi atau minus 1,62% sepanjang semester pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Badan Pusat Statistik mencatat perekonomian Indonesia pada kuartal II 2020 terkontraksi sebesar 5,32% secara tahunan atau year on year.  Realisasi ini lebih buruk dibandingkan prediksi pemerintah yang minus 4,3% maupun realisasi kuartal I 2020 yang masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,97%. 

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan pandemi corona membawa dampak luar biasa buruk terhadap kesehatan hingga perekonomian, terutama konsumsi masyarakat. Pihaknya mencatat produk domestik bruto atas dasar harga konstan  pada kuartal II  2020 sebesar Rp 2.5889,6 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan sebesar Rp 3.6887,6 triliun.

"Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2020 mengalami kontraksi 5,32% secara tahunan atau yoy. Dibandingkan kuartal I, pertumbuhan ekonomi minus  4,92%," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/8). 

Adapun kumulatif atau sepanjang semester pertama tahun ini, ekonomi tercatat terkontraksi atau minus 1,62% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pergerakan inflasi rendah dan bahkan mengarah kepada deflasi, sedangkan investasi turun cukup dalam. Meski demikian, realisasi APBN lebih baik dibandingkan kuartal II 2019. 

Ia mencatat, hanya tiga sektor usaha yang mampu tumbuh pada kuartal kedua tahun ini dibandingkan kuartal I 2020, yakni pertanian sebesar 16.24%, informasi dan komunikasi sebesar 3,44%, dan pengadaan air sebesar 1,28%. Sementara sektor lainnya terkontraksi, dengan kontraksi paling dalam pada sektor transportasi dan pergudangan sebesar 29,22%, serta akomodasi dan pergudangan sebesar 22,31%.

Sementara secara tahunan, pertumbuhan hanya dicatatkan oleh tujuh sektor dengan pertumbuhan tertinggi pada sektor informasi dan telekomunikasi mencapai 10,88%. Sementara enam sektor lainnya tumbuh lebih lambat dan sepuluh sektor lainnya terkontraksi dengan kontraksi paling dalam pada sketor transportasi dan pergudangan sebesar 30,84%.

Menurut komponen pengeluaran, kontraksi terjadi pada seluruh komponen kecuali pada konsumsi pemerintah. Konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi andalan pertumbuhan ekonomi Indonesia terpukul cukup dalam dan negatif 6,51% dibandingkan kuartal I 2020 atau 5,51% dibandingkan kuartal II 2019. 

Dibanding kuartal I 2020, hanya konsumsi pemerintah yang berhasil tumbuh mencapai 22,32%, sedangkan konsumsi LNPRT -0,67%, investasi minus 9,71%, ekspor -12,81%, dan impor -14,61%.

Adapun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, hanya konsumsi LPNRT yang berhasil tumbuh 15,29%, sedangkan investasi -8,61%, konsumsi pemerintah -6,9%, ekspor -11,66% dan impor -16,96%.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia David Sumual menilai ekonomi Indonesia belum resesi secara teknis. Menurut dia, definisi resesi teknis adalah ketika negara mengalami pertumbuhan negatif  selama dua kuartal berturut--turut secara berturut-turut yang dilihat secara tahunan. "Kalau dilihat kuartalan kita sudah sering negatif berturut-turut yang biasanya pada kuartal II dan III," kata David kepada Katadata.co.id, Rabu (5/8).

Sejauh ini, ia menilai perekonomian masih belum banyak bergerak salah satunya karena belanja pemerintah yang belum maksimal. Maka dari itu, akselerasi pengeluaran tersebut perlu terus digenjot. David pun optimistis perekonomian kuartal III bisa positif.

"Namun kalau belanja pemerintah masih belum efektif seperti di kuartal II, kemungkinan akan kembali negatif pertumbuhannya," ujarnya. 

 Senada, Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede menjelaskan, resesi teknis secara umum didefinisikan sebagai pertumbuhan kuartalan  yang mengalami kontraksi secara berturut-turut. Namun, definisi tersebut berlaku pada perekonomian suatu negara yang sudah menghilangkan faktor musiman. 

"Mengingat data PDB Indonesia masih belum menghilangkan faktor musiman, maka teknikal resesi didefinisikan sebagai pertumbuhan tahunan yang mengalami pertumbuhan negatif pada 2 kuartal berturut-turut. Jadi Indonesia belum teknikal resesi," jelasnya. 

Berbeda dengan David dan Josua, Pengamat Ekonomi Institut Kajian Strategis Universitas Kebangsaan RI Eric Sugandi mengatakan dengan pertumbuhan ekonomi yang sudah pasti negatif pada kuartal II 2020, Indonesia sudah otomatis masuk ke dalam resesi teknikal. Ia menjelaskan resesi teknikal merupakan kondisi pertumbuhan ekonomi dua kuartal berturut-turut mengalami kontraksi. Indonesia sudah mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2020 jika dilihat secara kuartalan.

 Pemerintah sebelumnya optimistis ekonomi pada kuartal III dapat tumbuh positif, demikian pula dengan perekonomian sepanjang tahun ini. Namun, sejumlah lembaga meramal ekonomi Indonesia pada kuartal III masih akan negatif seperti terlihat dalam databoks di bawah ini.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait