Bank Belum Respons Pemangkasan Bulan Lalu, BI Diprediksi Tahan Bunga

BI telah memangkas suku bunga acuan sebesar 2% sepanjang tahun ini.
Agatha Olivia Victoria
19 Agustus 2020, 11:27
BI, bunga acuan, pandemi corona
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Ilustrasi. BI bakal mengumumkan arah kebijakan moneter pada hari ini, Rabu (19/8).

Bank Indonesia diperkirakan menahan suku bunga acuan pada bulan ini. Bank Sentral bakal mengumumkan arah kebijakan moneter pada hari ini, Rabu (19/8).

Direktur Riset Center Of Reform on Economics Piter Abdullah Redjalam memperkirakan suku bunga acuan BI akan ditahan kali ini. "Saat ini suku bunga acuan sudah terendah sepanjang sejarah," kata Piter kepada Katadata.co.id, Rabu (19/8).

Sepanjang tahun ini, BI telah memangkas suku bunga acuan mencapai 2% menjadi 4%, seperti tergambar dalam databoks di bawah ini.

Advertisement

Ia pun menilai otoritas moneter perlu melihat bagaimana dampak bunga acuan terhadap sektor riil. Perbankan membutuhkan waktu untuk merespons penurunan bunga acuan ke suku bunga simpanan maupun kredit. 

"Penurunan suku bunga yang bulan lalu juga belum berdampak," ujarnya.

 Senada, Pengamat Institut Kajian Strategis Universitas Kebangsaan RI Ekonomi Eric Sugandi memperkirakan suku bunga acuan akan bertahan di level 4%. "Pemangkasan lebih lanjut beresiko menekan rupiah," kata Eric di waktu yang berlainan.

Ia menilai  pemangkasan bunga acuan tidak akan banyak bermanfaat untuk mendorong pertumbuhan kredit. Permintaan kredit masih lemah sejalan dengan daya beli masyarakat. Dengan demikian, 

"Karena investor sektor riil masih belum agresif meminjam akibat konsumsi rumah tangga yang masih tertekan," ujarnya.

 BI pada paruh pertama tahun ini atau Januari-Juni 2020 telah menurunkan suku bunga acuan hingga 75 basis poin atau 0,75%. Angka 4% pada bulan ini merupakan yang terendah sejak bank sentral menerapkan BI 7-Day Reverse Repo Rate pada empat tahun lalu.

Angka suku bunga tersebut merupakan yang terendah sepanjang sejarah RI. Bahkan ketika krisis moneter 1998 terjadi, suku bunga Seritifkat Bank Indonesia dengan tenor satu bulan sempat mencapai 70%.

Ekonomi domestik terkontraksi hingga lebih dari 13%, inflasi naik 70%, dan membuat nilai tukar terdepreasi hingga di atas Rp 15 ribu per dolar Amerika Serikat. Kondisi krisis itu berbeda dengan saat ini. Pasalnya, inflasi masih terkendali di bawah 3% dan ekonomi domestik masih tumbuh. Nilai tukar meskipun bergerak flutuatik, namun pemicunya lebih karena faktor eksternal.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait