Daya Beli Masih Lesu, Indeks Harga Konsumen Agustus Deflasi Lagi 0,05%

BPS kembali mencatatkan deflasi pada Agustus sebesar 0,05% disumbang oleh penurunan harga pangan dan tiket pesawat.
Agatha Olivia Victoria
1 September 2020, 11:27
Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) berbincang dengan pedagang mengenai harga cabai saat Sidak Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Legi, Solo, Jawa Tengah, Rabu (29/1/2020). Sidak tersebut untuk memantau kenaikan harga kebutuhan pokok seperti cabai yang menca
ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha
Ilustrasi. Deflasi pada Agustus terutama disumbang oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan.

Badan Pusat Statistik mencatat indeks harga konsumen kembali mengalami deflasi pada Agustus mencapai 0,05%. Pada bulan Juli, IHK juga tercatat mengalami deflasi sebesar 0,01%. 

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan deflasi pada Agustus membuat tingkat inflasi secara keseluruhan tahun atau year to date hanya mencapai 0,93%. Sementara secara tahunan atau year on year, indeks harga konsumen pada Agustus masih mencatatkan inflasi sebesar 1,32%. 

"Dari 90 kota yang disurvei, 53 kota alami deflasi dan 37 kota alami inflasi. Deflasi tertinggi di Kupang 0,92%, sedangkan inflasi tertinggi di Meulaboh 0,88%," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (1/9). 

Suhariyanto menjelaskan, kelompok makanana, minuman, dan tembakau mengalami deflasi 0,86% dengan andil 0,22%. Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga yakni daging ayam ras dengan andil 0,09%, bawang merah 0,07%, sedangkan tomat, telur ayam ras, jeruk, dab pisang masing masing 0,01%.

"Daging ayam ras mengalami penurunan harga di 83 kota dengan penurunan tertinggi di Tanjung Pandan mencapai  27% dan Tanjung Selor 23% Harga bawang merah turun di 90 kota dengan penurunan tertinggi di Tasikmalaya 32% dan Palangkaraya 30%," katanya. 

Kendati demikian,  masih ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga sehingga menyumbang inflasi yaitu minyak goreng dan rokok kretek filter. Kedua komoditas ini masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,01%.

Adapun kelompok pengeluaran lain yang mengalami deflasi adalah transportasi mencapai 0,14% dengan andil mencapai 0,02%. Komoditas yang memberikan pengaruh paling besar adalah penurunan tarif angkutan udara dengan andil 0,02%. Penurunan tarif angkutan udara terjadi di 25 kota, dengan penurunan terbesar di Ternate mencapai 20% dan Sintang  sebesar 17%.

Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi paling tinggi 2,02% andilnya 0,13%, Komoditas yang paling dominan mengerek inflasi adalah harga emas perhiasan yang memberikan andil mencapai 0,12%. Kenaikan harga emas perhiasan terjadi di 90 kota, tertiinggi di Pangkal Pinang mencapai 31% dan Palangkaraya 22%. 

Di sisi lain, berdasarkan kelompok penyebab utama, deflasi di sumbang oleh harga barang yang bergejolak mencapai 1,44% dengan andil 0,24%. Harga barang yang diatur pemerintah juga mengalami deflasi 0,02% meski tak memberikan sumbangan yang signifikan. Di sisi lain, komponen inti mengalami inflasi 0,92% dengan andil 0,19% terutama disebabkan oleh kenaikan harga emas

"Tetapi inflasi inti ini tren tahunannya terus menurun dan Agustus 2020 hanya sebesar 2,03% Ini menunjukan bahwa daya beli masyarakat masih belum pulih karena pandemi covid-19," katanya.

Indonesia terakhir kali mengalami deflasi selama dua bulan berturut-turut pada Agustus dan September 2018. Pada tahun tersebut, terjadi krisis finansial global. Adapu pada Juli 2020, deflasi terjadi akibat penurunan harga pada beberapa kelompok pengeluaran, yaitu makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,73% secara bulanan, ransportasi sebesar 0,17%, serta perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,01%.

 

Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait