IMF Revisi Ramalan Ekonomi Global, Resesi Tahun Ini Tak Sedalam Dugaan

IMF merevisi proyeksi ekonomi global pada tahun ini dari terkontraksi sebesar 5,2% pada tahun ini menjadi negatif 4,4%.
Image title
Oleh Agustiyanti
14 Oktober 2020, 09:18
IMF, ekonomi global, pandemi corona
Arief Kamaludin | KATADATA
Ilustrasi. IMF memproyeksi ekonomi global tahun depan tumbuh 5,2%, lebih rendah dibandingkan prediksi Juni sebesar 5,4%.

Dana Moneter Internasional atau IMF merevisi proyeksi perekonomian global pada tahun ini menjadi negatif 4,4%, lebih baik dari prediksi Juni yang minus 5,2%. Namun, ekonomi dunia diperkirakan tumbuh lebih lambat dari prediksi sebelumnya yang tumbuh 5,4% menjadi 5,2%.

Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath menjelaskan, proyeksi ekonomi tahun ini yang lebih baik dari prediksi awal karena kondisi kuartal II yang tak seburuk perkiraan dan tanda-tanda pemulihan ekonomi pada kuartal tiga. Meski demikian, resesi ekonomi tahun ini masih sangat dalam.

"Ini adalah krisis terburuk sejak Depresi Hebat dan diperlukan inovasi yang signifikan di bidang kebijakan baik nasional atau internasional untuk pulih dari bencana ini," ujar Gopinath Selasa (13/10) dikutip dari laman resmi IMF.

Dalam World Economic Outlook edisi Oktober yang baru dirilis IMF, ekonomi Tiongkok diperkirakan tumbuh lebih baik mencapai 1,9% dari prediksi pada Juni yang hanya tumbuh 0,9%. Sementara kontraksi ekonomi negara maju diprediksi sebesar 5,8%, jauh lebih rendah dari prediksi sebelumnya yang negatif 8,1%.

Ekonomi AS diperkirakan negatif 4,3%, lebih baik dari ramalan awal yang negatif hingga minus 8%. Demikian pula dengan ekonomi Eropa yang diprediksi terkontraksi 8,3%, lebih baik dari prediksi Juni minus hingga 10,2%.

Ekonomi Jepang diprediksi terkontaksi 5,3%, Inggris negatif 9,8%, sementara negara maju lainnya minus 3,8%.

Di sisi lain, IMF memproyeksi ekonomi negara emerging market lebih buruk dari ramalan Juni yakni terkontraksi 3,3% dari sebelumnya sebesar 3,1%. Ekonomi India terpukul paling dalam mencapai 10,3% lebih buruk dari prediksi Juni yang negatif 4,5%. Sementara ekonomi ASEAN-5 yang terdiri Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina ditaksir negatif 3,4%, lebih buruk dari prediksi Juni minus 2%.

"Pertumbuhan kumulatif pendapatan per kapita untuk negara berkembang dan ekonomi berkembang, tidak termasuk Tiongkok selama tahun 2020-2021 diproyeksikan lebih rendah daripada negara-negara maju," kata Gopinath.

Sementara pada tahun depan, ekonomi global diperkirakan tumbuh 5,2%, lebih rendah dari prediksi sebelumnya 5,4%. Ekonomi negara maju diperkirakan tumbuh 3,9%, lebih rendah dari ramalan Juni sebesar 3%.

Ekonomi AS akan tumbuh 3,1%, Eropa 5,2%, Jepang 2,3%, dan negara maju lainnya 3,6%.

Gopinath menekankan krisis Pandemi Covid-19 masih jauh dari selesai. Lapangan kerja masih jauh di bawah tingkat sebelum pandemi Covid-19. Pasar tenaga kerja telah menjadi lebih terpolarisasi dengan pekerja berpenghasilan rendah. Kaum miskin semakin miskin dengan 90 juta orang jatuh ke kemiskinan ekstrim.

OECD juga memperkirakan ekonomi global tak seburuk prediksi sebelummnya. Berdasarkan laporan terbaru OECD yang dirilis pada September, perbaikan proyeksi ekonomi dunia seiring pemulihan ekonomi beberapa negara seperti AS dan Tiongkok yang melebihi ekspektasi pada semester pertama tahun ini. Respons pemerintah di berbagai negara terhadap pandemi juga cukup masif.

Namun, laju pemulihan ekonomi telah kehilangan momentum baru-baru ini. "Pembatasan baru yang diberlakukan di beberapa negara untuk mengatasi kebangkitan virus cenderung memperlambat pertumbuhan," tulis OECD.

Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan meningkat tajam 5% pada 2021. Perkiraan tersebut dibuat dengan asumsi ancaman Covid-19 memudar, serta kepercayaan bisnis dan konsumen meningkat.

Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait