Pemulihan Ekonomi Eropa Kehilangan Momentum, Perlu Perbesar Stimulus

Bank sentral Eropa memutuskan untuk mempertahankan suku bunga dan kebijakan moneter yang lebih luas.
Image title
Oleh Agustiyanti
30 Oktober 2020, 12:45
Christine Lagarde, Presiden Bank Sentral Eropa yang akan datang, memberikan keterangan di hadapan Komite Urusan Ekonomi dan Moneter Parlemen Eropa di Brussels, Belgia, Rabu (4/9/2019).
ANTARA FOTO/REUTERS/Francois Lenoir
Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde mengatakan pemulihan ekonomi kawasan euro kehilangan momentum lebih cepat dari yang diharapkan.

Bank sentral Eropa mengisyaratkan akan lebih banyak memberikan stimulus moneter pada Kamis (30/10), karena dua ekonomi terbesar di kawasan tersebut bersiap untuk kembali melakukan karantina secara nasional.

ECB memutuskan mempertahankan suku bunga dan kebijakan moneter yang lebih luas, tetapi menyarankan bahwa tindakan kebijakan tambahan di zona euro dapat dilakukan secepatnya pada Desember.

"Dewan Pemerintahan akan menilai dengan hati-hati informasi yang masuk, termasuk dinamika pandemi, prospek peluncuran vaksin dan perkembangan nilai tukar," kata ECB dalam sebuah pernyataan pada Kamis (29/10),

Bank Sentral akan melakukan evaluasi perekonomian secara keseluruhan pada Desember. Berdasarkan penilaian terbaru itu, ECB akan mengkalibrasi ulang instrumennya, yang sesuai, untuk menanggapi kondisi saat ini.

Pada bulan September, ECB memperkirakan kontraksi 8% dalam PDB zona euro tahun ini, diikuti oleh rebound sebesar 5% pada tahun 2021. Dalam hal inflasi, ECB memperkirakan 0,3% untuk tahun 2020, diikuti oleh peningkatan menjadi 1% pada tahun 2021 Namun lembaga yang dipimpin oleh Christine Lagarde akan memperbarui prakiraan tersebut pada bulan Desember.

Pernyataan terbaru dari ECB menunjukkan bahwa pembuat kebijakan akan menyesuaikan kebijakan moneter mereka berdasarkan prakiraan mendatang tersebut. Berbicara pada konferensi pers setelah pengumuman tersebut, Presiden ECB Lagarde mengatakan pemulihan ekonomi kawasan euro kehilangan momentum lebih cepat dari yang diharapkan.

“Meningkatnya kasus Covid-19 dan intensifikasi terkait tindakan penahanan membebani aktivitas, yang merupakan kemunduran yang jelas dalam prospek jangka pendek,” kata Lagarde.

Hingga Kamis, Eropa telah melihat lebih dari 6 juta infeksi dan lebih dari 200.000 kematian akibat Covid-19. Data dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa menunjukkan bahwa Prancis, Spanyol, dan Inggris memiliki jumlah kasus tertinggi sejauh ini.

"Kami akan melihat semuanya. Kami akan menggunakan semua instrumen yang kami miliki dengan seluruh fleksibilitas yang kami miliki, untuk mengatasi situasi dan setiap perkembangan situasi," kata Lagarde.

Ekonom Pantheon Macro Claus Vistesen mengatakan ECB telah memberikan sinyal langsung untuk menambah kebijakan moneter. "Perkiraan pertumbuhan akan dipangkas pada bulan Desember, mendorong ECB untuk memberikan lebih banyak stimulus,” katanya

Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Rabu mengumumkan penutupan nasional kedua, meskipun sekolah dan pabrik akan tetap buka. Sementara Jerman pada Rabu mengumumkan penutupan terbatas, dengan restoran, bar, dan acara publik ditutup pada minggu depan.

Gelombang kedua infeksi dapat memberikan pukulan baru bagi ekonomi zona euro, yang diperkirakan akan pulih pada paruh kedua tahun 2020. Data awal yang dirilis pekan lalu menunjukkan bahwa aktivitas bisnis di kawasan euro menyusut pada Oktober di tengah pembatasan sosial baru. Namun, gambaran tersebut diperkirakan akan memburuk jika pemerintah terus melanjutkan langkah-langkah tambahan.

Masalah lain yang dihadapi ECB adalah kekuatan euro, yang telah terapresiasi hampir 5% terhadap dolar AS sejak awal tahun. Bank sentral mengatakan pada pertemuan September bahwa pihaknya membahas penguatan euro tetapi menekankan bahwa pihaknya tidak menargetkan nilai tukar dengan kebijakannya. Euro yang lebih kuat sering dipandang sebagai masalah bagi ekonomi Eropa, mengingat ketergantungan kawasan euro pada ekspornya.

Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait