Resesi Sudah Pasti di Kuartal 3, Hampir Semua Komponen Ekonomi Negatif

Pemerintah memastikan Indonesia memasuki periode resesi pada kuartal ketiga seiring kontraksi ekonomi yang diperkirakan mencapai hingga 2,9%. Hampir seluruh komponen ekonomi diprediksi negatif.
Agatha Olivia Victoria
4 November 2020, 16:03
resesi ekonomi, pertumbuhan ekonomi, BPS, kontraksi ekonomi
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Ilustrasi. Ekonomi Indonesia diprediksi kembali terkontraksi pada kuartal tiga 2020.

Badan Pusat Statistik akan mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2020 pada esok hari, Rabu (4/11). Perekonomian RI diramal masih akan mengalami kontraksi hingga 2,9%.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Febrio Kacaribu mengatakan berdasarkan estimasinya, hampir seluruh komponenn produk domestik bruto pada kuartal III 2020 masih akan negatif. "Kecuali konsumsi pemerintah yang akan terlihat tumbuh signifikan," ujar Febrio dalam Simposium Nasional Keuangan Negara Tahun 2020, Rabu (4/11).

Berdasarkan paparannya, pengeluaran pemerintah diperkirakan bertumbuh 9,8% hingga 18,8%. Sementara konsumsi rumah tangga dan lembaga nonprofit rumah tangga tumbuh negatif 3% sampai 1,5%.

Kemudian, investasi diramal terkontraksi 8,5% hingga 6,4%, ekspor minus 13,9% sampai 8,7%, dan impor negatif 26,8% hingga 16%. Secara keseluruhan tahun, ekonomi Indonesia akan tumbuh minus 1,7% sampai 0,6%.

Advertisement

Febrio menyebut peran belanja pemerintah memang sangat sentral dalam kondisi pandemi saat ini. "Hal tersebut menjadikan APBN sebagai instrumen countercyclical yang dapat memperbaiki perekonomian," katanya.

Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan perekonomian RI kuartal III 2020 akan terkontraksi pada kisaran 3,13%. Konsumsi rumah tangga yang memilikii kontribusi terbesar pada PDB masih akan terkontraksi meski tak sedalam  kuartal II 2020. Ini terutama dipengaruhi oleh kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar transisi di berbagai daerah di Indonesia yang mendorong peningkatan pada pergerakan masyarakat.

"Meskipun situasinya belum kembali ke level normal," ujar Josua kepada Katadata.co.id, Rabu (4/11).

Beberapa data yang mengindikasikan konsumsi rumah tangga menunjukkan perbaikan yang terbatas sepanjang kuartal III tahun 2020 yaitu laju pertumbuhan penjualan ritel, indeks kepercayaan konsumen, pertumbuhan penjualan mobil dan motor, dan impor barang konsumsi.

Menurut Josua, mobilitas masyarakat merupakan komponen yang bisa mengindikasikan pemulihan aktivitas. Mobilitas terlihat agak membaik sejak Juli sampai September 2020. Namun demikian, kelompok kelas menengah ke atas dinilai ia masih juga menahan belanja. "Karena mereka tidak bisa jalan-jalan karena PSBB ini," kata dia.

Selain itu, dia menyebut kaum milenial juga cenderung memilih untuk jalan-jalan dibanding membeli rumah atau mobil. Oleh karena itu, dana pihak ketiga pun meningkat.

Josua memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal IV  masih akan terkontaksi karena kasus Covid-19 yang belum terkendali. Stimulus yang digelontorkan pemerintah untuk kelompok menengah atas dalam bentuk subsidi tiket pesawat untuk mengungkit daya beli tak efektif sepanjang kasus masih tinggi. 

"Kuartal I 2021 kemungkinan ekonomi baru akan kembali positif," katanya. 

Sementara itu, laporan Office of Chief Economist Group Bank Mandiri memprediksi ekonomi Indonesia kemungkinan baru akan membaik ke level pra-Covid di kuartal kedua 2021 seperti tergambar dalam databoks di bawah ini.

 Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menuturkan bahwa dengan masih akan terkontraksinya perekonomian pada kuartal III, Indonesia akan masuk ke dalam jurang resesi. Namun, jatuhnya RI ke status resesi tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena penanganan kesehatan harus menjadi fokus utama saat ini.

Sementara kemungkinan pertumbuhan ekonomi dapat dipercepat dan dipertahankan dalam jangka panjang, menurut dia, akan sangat bergantung pada investasi yang berperan penting untuk industrialisasi dengan tujuan meningkatkan nilai tambah dari output. "Untuk menarik investasi, efisiensi di pasar tenaga kerja merupakan salah satu faktor krusial yang juga akan membantu menjaga kesejahteraan tenaga kerja," ujar Teuku dalam hasil risetnya yang diterima Katadata.co.id.

Teuku menjelaskan bahwa fokus dan implementasi strategi penanggulangan virus akan sangat berperan penting dalam kondisi perekonomian Indonesia selama masa sulkit ini. Sebagaimana dibuktikan oleh banyak negara yang sudah jauh di depan kita dalam hal pemulihan bahwa tidak mungkin mencapai pemulihan ekonomi tanpa pemulihan kesehatan.

Apabila krisis kesehatan telah ditangani dan strategi pemulihan melalui stimulus moneter dan fiskal telah dilaksanakan secara efektif, dirinya memperkirakan pertumbuhan PDB akan kembali ke wilayah positif dan dapat mencapai level pra-pandemi pada tahun 2021.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait