Tak Terpukul Resesi Ekonomi, Rupiah Terus Menguat ke 14.380 per US$

Nilai tukar rupiah menguat 1,27% di posisi Rp 14.380 per dolar AS, paling perkasa di Asia. Padahal, Indonesia resmi masuk resesi dengan pertumbuhan ekonomi kuartal III negatif 3,49%.
Agatha Olivia Victoria
5 November 2020, 17:10
rupiah, nilai tukar, pandemi corona, pilpres as, biden menang pilpres as
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc.
Ilustrasi. Rupiah melesat pada perdagangan hari ini antara lain berkat hasil Pilpres AS yang mendekati kemenangan Joe Biden atas Donald Trump.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan di pasar spot sore ini, Kamis (5/11) melesat 1,27% ke level Rp 14.380 per dolar AS. Rupiah menguat meski Badan Pusat Statistik merilis ekonomi kuartal III terkontraksi hingga 3,49%, lebih buruk dari proyeksi pemerintah yang minus 2,9%. 

Penguatan rupiah kembali menjadi yang paling perkasa di Asia sejak sesi pembukaan tadi pagi. Mengutip Bloomberg, yen Jepang hanya menguat 0,27%, dolar Hong Kong 0,02%, dolar Singapura 0,28%, dolar Taiwan 0,25%, won Korea Selatan 0,82%, peso Filipina 0,16%, rupee India 0,48%, yuan Tiongkok 0,42%, ringgit Malaysia 0,33%, dan baht Thailand 0,34%.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate, rupiah berada pada level Rp 14.439 per dolar AS, naik 0,81%. Kurs tengah Bank Indonesia tersebut dipublikasikan pada pukul 10.00 WIB.

Advertisement

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menyebutkan bahwa keperkasaan rupiah kembali terjadi seusai rilis pertumbuhan ekonomi kuartal III yang menunjukan perbaikan. Padahal, mata uang Garuda sempat sedikit melemah ke posisi di atas Rp 14.400 per dolar AS usai dibuka melesat di Rp 14.385 per dolar AS.

Namun di sisi lain, dia menilai ada kemungkinan besar kemenangan Joe Biden dalam pemilu AS turut menjadi sentimen positif. "Pasar lebih menyukai program Biden dibandingkan Donald Trump," kata Ariston kepada Katadata.co.id.

Menurut Ariston, Biden lebih mengedepankan kolaborasi dengan negara-negara lain dibandingkan Trump yang lebih konfrontatif. Kemenangah Biden membuat bursa saham saham Asia dan Eropa pun menguat, nilai tukar negara-negara emerging market lainnya pun menguat terhadap dolar AS. Saat berita ini ditulis pun, indeks mata uang Negeri Paman Sam menurun 0,41% ke level 93,02.

Joe Biden hingga kini memiliki 264 dari 270 suara elektoral yang diperlukan untuk menyatakan kemenangan. Sedangkan, Trump yang sudah sempat mengklaim kemenangan di negara bagian Wisconsin dan Michigan pada hari sebelumnya memegang 214 suara.

Pemilu saat ini bergantung pada penghitungan suara dari beberapa negara bagian yang tersisa. Adapun Trump sudah mengajukan tuntutan hukum dan penghitungan ulang di Pennsylvania dan Michigan.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah menguat antara lain karena kontraksi ekonomi pada kuartal ketiga membaik. "Bukan tidak mungkin ekonomi akan berbalik positif jika performa ini bisa dipertahankan dan pemerintah provinsi tidak menerapkan PSBB total," kata Ibrahim kepada Katadata.co.id, Kamis (5/11).

Perekonomian Indonesia terkontraksi 3,49% pada kuartal III 2020. Pencapaian itu lebih baik dibandingkan kuartal kedua yang sebesar negatif 5,32%. Hal ini menunjukkan proses pemulihan ekonomi nasional dan pembalikan arah dari aktivitas ekonomi nasional mulai menuju arah zona positif.

Ibrahim menjelaskan, seluruh komponen pembentuk Produk Domestik Bruto membaik pada kuartal ketiga dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama ditopang oleh realisasi belanja bansos dan dukungan dunia usaha terutama UMKM. Percepatan belanja negara meningkat pesat sehingga telah membantu peningkatan.

Namun, menurut ia, yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah mendongkrak konsumsi rumah tangga. yang masih tumbuh negatif 4,04%. "Penyebabnya adalah konsumsi masyarakat menengah ke atas terbatas karena pandemi belum berakhir," ujar dia.

Adapun konsumsi rumah tangga menengah ke atas didominasi barang dan jasa yang sensitif terhadap mobilitas. Covid-19 membuat mobilitas terbatas maka konsumsi menengah atas tertahan.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait