Rupiah Makin Loyo ke 14.200/US$ Efek Penurunan Bunga BI

Nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi ini bergerak melemah ke Rp 14.200 per dolar AS.
Image title
Oleh Agustiyanti
20 November 2020, 11:05
rupiah, rupiah melemah, kurs rupiah, penurunan bunga bi
ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI
Ilustrasi. Rupiah dibuka di posisi Rp 14.160 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan di pasar spot pagi ini melemah 0,32% kembali menembus level Rp 14.200 per dolar AS. Rupiah antara lain tertekan keputusan Bank Indonesia kemarin (19/11) yang memangkas bunga acuan sebesar 0,25% menjadi 3,75%.

Mengutip Bloomberg, rupiah dibuka melemah 5 poin dari posisi kemarin di posisi Rp 14.160 per dolar AS. Rupiah terus bergerak melemah hingga ke posisi Rp 14.200 per dolar AS hingga pukul 10.30 WIB.

Rupiah terpantau paling lemah di antara mata uang Asia. Mayoritas pagi ini menguat terhadap dolar AS. Yuan Tiongkok menguat 0,11%, ringgit Malaysia 0,17%. won Korea Selatan 0,12%, dolar Taiwan 0,02%, peso Filipina 0,11%, dan dolar Singapura 0,05%.

Sementara baht Thaliland melemah 0,06%, dolar Hong Kong 0,01% dan yen Jepang 0,08%.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate yang dipublikasikan BI pukul 10.00 WIB juga menempatkan rupiah di posisi Rp 14.228 per dolar AS, melemah 61 poin dari posisi kemarin.

Vice President Monex Investindo Futures menjelaskan, pelemahan pada rupiah antara lain dipicu oleh keputusan BI kemarin yang memangkas bunga acuan. Hal tersebut mengurangi selisih imbal hasil Surat Berharga Negara dengan negara maju.

"Ini tentu bisa mengurangi ketertarikan investor untuk masuk ke aset rupiah," ujar Ariston kepada Katadata.co.id, Jumat (20/11).

Selain itu, pasar juga mengkhawatirkan laju kasus positif covid-19 secara global yang terus meningkat. Hal ini dapat menghambat pemulihan ekonomi, sementara vaksin masih belum dirilis juga.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, tekanan pada pasar global terus mereda dan mendorong rupiah menguat pada sepanjang bulan ini dibandingkan posisi bulan lalu. Namun, Perry menilai rupiah masih berada di bawah nilai fundamentalnya dan masih berpotensi menguat.

"BI akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar, melalui efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas di pasar," ujar Perry dalam Konferensi Pers Kebijakan Moneter BI, Kamis (20/11).

Pada Oktober hingga 16 November, aliran modal asing masuk ke pasar keuangan Indonesia mencapai US$ 3,6 miliar. Kondisi ini mendorong rupiah menguat 3,94% secara poin to poin pada 18 November 2020 dibandingkan Oktober.  Namun dalam sepekan ini, rupiah bergerak melemah. 

 

Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait