Dana Asing Masuk Rp 4,87 Triliun, Rupiah Menguat 0,53% dalam Sepekan

Kurs rupiah pekan ini ditutup di posisi Rp 14.090 per dolar AS, menguat 0,53% dibandingkan akhir pekan lalu.
Agatha Olivia Victoria
Oleh Agatha Olivia Victoria
27 November 2020, 17:52
aliran modal asing, rupiah, rupiah menguat
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/pras.
Ilustrasi. Rupiah menguat 0,53% sepanjang pekan ini.

Nilai tukar rupiah pada pasar spot menguat 0,53% dalam satu pekan terakhir. Rupiah terkerek derasnya aliran modal asing yang masuk seiring perkembangan vaksin Covid-19 dalam pekan ini.

Mengutip Bloomberg, rupiah pada perdagangan pekan ini ditutup di posisi Rp 14.090 per dolar AS. Sementara kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, menempatkan rupiah hari ini di posisi Rp 14.145 per dolar AS, menguat 0,58% dibandingkan Jumat pekan lalu. Kurs JISDOR dipublikasikan bank sentral setiap hari pada pukul 10.00 WIB.

Analis HFX Berjangka Adhy Pangestu mengatakan penguatan rupiah dalam satu pekan ini terjadi karena aliran modal asing yang masuk cukup deras ke Tanah Air seiring ptimisme perkembangan vaksin corona. BI mencatat aliran modal asing masuk dalam bentuk portofolio sebesar Rp 4,87 triliun sepekan ini. Dana asing masuk terbesar ke pasar Surat Berharga Negara.

Secara perinci, modal asing masuk Rp 3,51 triliun ke pasar SBN dan Rp 1,36 triliun ke pasar. Namun, modal asing sepanjang tahun ini masih mencatatkan net outflow yaitu Rp 141,13 triliun.

Adhy memperkirakan dana asing akan kembali masuk pada pekan depan. Alasannya, investor mulai melihat iklim investasi Indonesia kembali membaik. Namun, dana yang masuk kemungkinan mulai terbatas menjelang akhir tahun. "Aktivitas pasar mulai kehilangan peminat," ujar Adhy kepada Katadata.co.id, Jumat (27/11).

Laporan Capital Flows, Exchange Rate, and Policy Frameworks in Emerging Asia mencatat besarnya likuiditas global merupakan faktor utama yang mendorong kenaikan aliran modal ke negara-negara berkembang.

"Ini selain faktor prospek pertumbuhan yang lebih baik serta kebijakan lalu lintas modal yang kondusif di sejumlah negara berkembang," tulis laporan yang dipublikasikan tim kerja beranggotakan 12 bank sentral anggota Bank for International Settlements Asian Consultative Council, termasuk BI, Jumat (27/11).

Adapun volatilitas aliran modal tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas dan tekanan terhadap nilai tukar. Dengan demikian, hal tersebut pada akhirnya dapat mempengaruhi stabilitas moneter dan sistem keuangan.

Maka dari itu, diperlukan respons kebijakan bank sentral yang tepat untuk mengatasi volatilitas aliran modal dan nilai tukar. Bank sentral pada umumnya melakukan monitoring terhadap likuiditas valuta asing, termasuk mengamati kecepatan perubahan nilai tukar serta pengaruh aliran modal terhadap harga aset. Hal tersebut guna menjamin pasar keuangan tetap berfungsi dengan baik.

Laporan tersebut juga mencatat, beberapa bank sentral melakukan intervensi di pasar valuta asing apabila terjadi volatilitas nilai tukar yang berlebihan untuk menjaga stabilitas eksternal.

Sementara itu, jumlah bank sentral yang menerapkan kebijakan makroprudensial untuk menjaga kestabilan sistem keuangan pun mulai mengalami kenaikan. "Pandemi Covid-19 menjadi stress-test bagi kerangka kebijakan bank sentral saat ini," demikian tertulis dalam laporan tersebut. 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait