Rupiah Loyo ke 13.917/US$ Tertekan Rencana Pengetatan PSBB Jawa-Bali

Kurs rupiah pagi ini melemah ke posisi Rp 13.917 per dolar AS seiring sentimen rencana pengetatan PSBB Jawa-Bali.
Agatha Olivia Victoria
7 Januari 2021, 10:14
rupiah, psbb, pengetatan jawa bali, pandemi corona
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/pras.
Ilustrasi. Rupiah melemah terhadap dolar AS bersama mayoritas mata uang Asia.

Nilai tukar rupiah pada pembukaan pasar spot pagi ini melemah 0,07% ke level Rp 13.905 per dolar AS. Rupiah bergerak melemah dari posisi pembukaan ke Rp 13.917 per dolar AS hingga pukul 10.00 WIB, antara lain akibat sentimen rencana pengetatan Pembatasan Sosial Berskala Besar di Jawa dan Bali.

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia pun melemah. Yen Jepang turun 0,16%, dolar Singapura 0,1%, won Korea Selatan 0,29%, peso Filipina 0,03%, ringgit Mlaaysia 0,42%, dan baht Thailand 0,05%. Sementara itu, dolar Taiwan, rupee India, dan yuan Tiongkok menguat masing-masing 0,01%, 0,09%, dan 0,03, sedangkan dolar Hong Kong terlihat stagnan, 

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan rencana PSBB di Jawa dan Bali bisa memberi tekanan ke rupiah. "Kebijakan ini berpotensi melambatkan pertumbuhan ekonomi Tanah Air," ujar Ariston kepada Katadata.co.id, Kamis (7/1).

Pemerintah akan membatasi kegiatan masyarakat di Pulau Jawa dan Pulau Bali pada 11-25 Januari 2021. Kebijakan ini bertujuan menekan penularan kasus Covid-19.Pasien positif Covid-19 bertambah 8.854 orang per 6 Januari 2021. Total Kasus mencapai 788.402 dengan 652.513 pasien dinyatakan sembuh dan 23.296 orang meninggal dunia.

Advertisement

Kebijakan tersebut akan berlaku bagi daerah yang memenuhi beberapa kriteria yang telah ditetapkan. Pertama, wilayah dengan tingkat kematian di atas rata-rata tingkat kematian nasional atau di atas 3%.

Kedua, wilayah dengan tingkat kesembuhan di bawah rata-rata nasional yakni 82%. Ketiga, wilayah dengan tingkat kasus aktif di atas rata-rata tingkat kasus aktif nasional sekitar 14%. Ketiga, wilayah dengan tingkat keterisian rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR) ruang ICU dan isolasi di atas 70%.

Sementara itu dari sisi eksternal, Ariston menyebutkan bahwa Partai Demokrat AS yang hampir dipastikan menguasai Senat bakal memberi tekanan kepada mata uang Negeri Paman Sam. "Ini karena prospek stimulus AS yang lebih besar bisa digulirkan dengan mudah oleh pemerintah presiden terpilih, Joe Biden," kata dia.

Saat berita ini ditulis, indeks dolar AS melemah 0,05% ke level 89,48. Namun, mata uang Negeri Paman Sam masih terlihat menguat terhadap mata uang utama seperti euro, pound Inggris, dolar Australia, dan franc Swiss.

Dengan sentimen tersebut, ia memperkirakan nilai tukar rupiah masih bisa menguat meski terbatas. Potensi pergerakan berada di level Rp 13.850-13.950 per dolar AS.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji turut memproyeksikan adanya potensi apresiasi rupiah terhadap dolar AS. "Kemungkinan di antara Rp 13.860-13.940 per dolar AS," kata Nafan kepada Katadata.co.id.

Ramalan peningkatan kinerja data cadangan devisa RI yang dirilis besok akan memberikan katalis positif bagi rupiah. Sementara berbagai proyeksi terkait dengan data makroekonomi AS seperti meningkatnya US Unemployment Claims serta terkoreksinya ISM Services PMI akan memberikan tekanan bagi dolar AS terhadap berbagai mata uang lainnya.

 Sebelumnya,  Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2020 sebesar US$ 133,6 miliar, relatif sama dengan akhir bulan sebelumnya yaitu US$ 133,7 miliar. Perkembangan itu terutama dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, penerimaan pajak dan devisa migas, serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 9,9 bulan impor atau 9,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. "Posisi tersebut juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor," tulis Erwin dalam keterangan resminya, Jakarta, Senin (7/12).

Bank sentral menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Ke depan, BI memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga, seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam mendorong pemulihan ekonomi.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait