Temui Sri Mulyani, Sandiaga Bahas Dana Hibah dan Pinjaman Lunak

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno meminta Menteri Keuangan Sri Mulyani memperpanjang penggunaan sisa dana hibah tahun lalu dan pinjaman lunak untuk pelaku ekonomi kreatif di daerah.
Agatha Olivia Victoria
12 Januari 2021, 16:09
SANDIAGA UNO JABAT MENTERI PAREKRAF
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/wsj.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno meminta dana hibah untuk sektor pariwisata yang belum terserap tahun lalu dapat digunakan pada tahun ini.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menemui Menteri Keuangan Sri Mulyani, Senin (11/1) malam. Dalam pertemuan tersebut, Sandiaga meminta Sri Mulyani memperpanjang waktu penggunaan sisa dana hibah tahun lalu dan  memberikan pinjaman lunak bagi pelaku ekonomi kreatif di daerah melalui BUMN di bawah Kementerian Keuangan.

Sandiaga menjelaskan, dana hibah pariwisata 2020 yang terserap dari pagu Rp 3,3 triliun hanya mencapai 70%. Sisanya tak terserap karena keterbatasan regulasi dan waktu. "Harapan dari sektor Parekraf agar ini bisa dilanjutkan, diperluas, dan diperbanyak," kata Sandiaga dalam akun instgram resminya, Senin (11/1).

Permintaan tersebut dilontarkan karena jutaan lapangan kerja di sektor tersebut hilang akibat Pandemi Covid-19. Sandiaga menilai ini menjadi waktu yang tepat untuk menciptakan kembali peluang usaha dan lapangan kerja.

Sektor pariwisata mendapat alokasi anggaran dari program Pemulihan Ekonomi Nasional 2020 senilai Rp 3,87 triliun dari pos bantuan sektoral k/l dan pemda. Stimulus tersebut berupa dana hibah sebesar Rp 3,3 triliun yang diberikan untuk pemulihan hotel, restoran, serta daerah yang terdampak Covid-19.

Selain itu, sektor pariwisata juga mendapatkan  insentif maskapai penerbangan sebanyak Rp 430 miliar untuk memudahkan akses perjalanan wisatawan ke destinasi wisata. Ada pula insentif tambahan sebesar Rp 70 miliar untuk membangun kepercayaan dan minat pasar terhadap pariwisata dan ekonomi kreatif di Tanah Air.

Sandiaga dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan rencananya untuk mendorong pariwisata yang berkelanjutan kepada Bendahara Negara. Dengan demikian, pembiayaan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif diharapkan tak melulu bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, melainkan terbuka bagi pihak-pihak lain yang mendukung sektor pariwisata berbasis lingkungan hidup.

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini juga ingin mendorong Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia untuk membantu lebih banyak pelaku ekonomi kreatif, terutama yang berada di daerah.Kemenparekraf juga akan memulai komunikasi dengan lembaga pembiayaan yang berada di bawah naungan Kementerian keuangan yaitu PT Sarana Multi Infrastruktur terkait kerjasama pembiayaan lainnya di sektor Parekraf. "Ini sudah mendapat lampu hijau dari Ibu Sri Mulyani," kata dia.

Direktur Program Institute of Development for Economics and Finances Esther Sri Astuti menilai sektor pariwisata bukan prioritas pada saat pandemi seperti ini. Apalagi, kasus positif Covid-19 kian hari semakin melonjak. Kementerian Kesehatan mencatat penambahan kasus Covid-19 pada Senin (11/1) sebesar 8.692. Dengan begitu, total orang yang terinfeksi virus corona mencapai 836.718.

Penambahan kasus lebih sedikit dibandingkan lima hari terakhir di mana angka positif terus memecahkan rekor baru. Dari angka 8.854 pada 6 Januari 2021 hingga mencapai 10.617 pada 8 Januari 2021.

Ia pun meminta pemerintah fokus pada penanganan virus corona terlebih dahulu. Kalau pandemi hilang dari Indonesia, perekonomian bisa pulih dengan seger," ujar Esther kepada Katadata.co.id, Selasa (12/1).

Untuk mengatasi pandemi, intervensi pemerintah sangat dibutuhkan. Jika tidak, kasus pandemi di Tanah Air akan berlarut-larut.  alokasi anggaran harus diperbesar utamanya untuk vaksin dan 3T (tracing, testing, dan treatment). Proteksi tenaga medis, obat, dan alat kesehatan juga diperlukan. "Rumah sakit banyak yang overload. Tenaga medis banyak mengundurkan diri," katanya.

Berdasarkan penelitian dari Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), terdapat 83% tenaga kesehatan yang mengalami kelelahan fisik dan mental tingkat sedang atau disebut burn out akibat pandemi corona.  "Burn out itu yang dialami seseorang karena adanya stres yang berkepanjangan," kata Ketua Prodi Magister Kedokteran Kerja Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI dr. Dewi Soemarko pada Senin (11/1).

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait