OJK Beberkan Efek Pandemi Terhadap Sektor Keuangan pada 2020

OJK mencatat kredit perbankan pada tahun lalu terkontraksi 2,41%, premi asuransi turun 7,34%, dan piutang pembiyaan anjlok 17,1% dibanding 2019 akibat pandemi Covid-19.
Agatha Olivia Victoria
16 Januari 2021, 07:00
Pertemuan Tahunan OJK, wimboh santoso, kredit, pembiyaan, asuransi, industri jasa keuangan
Youtube/Otoritas Jasa Keuangan
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan kredit akan tumbuh 6,5% hingga 8,5% pada 2021 dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2021 pada Jumat (15/1).

Pandemi Covid-19 yang menghantam perekonomian berdampak pada industri jasa keuangan sepanjang 2020. Otoritas Jasa Keuangan mencatat penyaluran kredit perbankan terkontraksi 2,41%, premi asuransi turun 7,34%, dan piutang pembiyaan anjlok 17,1% dibandingkan 2019. Meski demikian, stabilitas sistem keuangan terjaga dengan baik. 

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menjelaskan,  kredit perbankan terkontraksi pada tahun lalu akibat perlambatan aktivitas sektor riil dan belum beroperasinya korporasi besar secara besar. Namun demikian, kredit Bank BUMN masih bisa tumbuh 0,63%, BPD 5,22%, serta Bank Syariah 9,5%.

"Ini tidak apa-apa mudah-mudahan sementara dan ketika permintaan pulih, perbankan dapat kembali menopang permintaan kredit dengan kondisi likuiditas yang saat ini cukup longgar," ujar Wimboh dalam Pertemuan Tahunan OJK 2021 di Jakarta, Jumat (15/1). 

Perbankan, menurut Wimboh, saat ini juga telah menurunkan suku bunga kredit, terutama pada jenis kredit investasi dan modal kerja yang kini berada di kisaran satu digit. Sesuai rencana bisnis yang disusun perbankan, penyaluran kredit diproyeksi akan tumbuh 6,5% hingga 8,5% pada tahun ini ditopang oleh pertumbuhan dana pihak ketiga yang mencapai 10% hingga 12%. 

Sejalan dengan kredit perbankan, piutang industri perusahaan pembiayaan dan premi asuransi juga akan menunjukkan pertumbuhan positif pada 2021. Hal tersebut seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat yang akan kembali pulih di antara 3-4%.

"Ini semua akan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi kita ke depan," kata Wimboh. 

Penghimpunan dana juga diperkirakan meningkat kembali sebagaimana sebelum pandemi yakni dikisaran Rp 150-180 triliun. Ini didukung kemungkinan maraknya penerbitan surat utang sebagai implikasi dari likuiditas global yang masih memadai dan berlanjutnya tren suku bunga rendah.

Sejalan dengan kredit perbankan, menurut dia, piutang industri perusahaan pembiayaan juga akan menunjukkan pertumbuhan positif pada tahun 2021. Hal tersebut seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat yang akan kembali pulih di antara 3-4%. 

Wimboh menjelaskan, berbagai kebijakan stimulus telah diberikan oleh OJK dan pemerintah untuk membantu masyarakat yang terdampak pamdemi, terutama para pelaku UMKM. Pertumbuhan kredit UMKM mulai tumbuh positif secara bulanan pada beberapa bulan terakhir. Penempatan dana pemerintah di perbankan sebesar Rp 66,7 triliun juga telah memberikan leverage sebesar 4,8 kali atau berhasil menyalurkan kredit Rp 323,8 triliun.

Kebijakan restrukturisasi kredit perbankan yang telah diperpanjang hingga 2022 telah mencapai Rp 971 triliun per akhir Desember 2020. Wimboh mengklaim kebijakan ini berhasil menghasilkan profil risiko perbankan yang terkendali dengan rasio kredit bermasalah bruto pada level 3,06% pada tahun lalu, naik dari 2,53% pada 2019 atau rasio kredit bermasalah nett 0,98%, turun dari 1,19%. 

Rasio kecukupan modal perbankan tetap terjaga sebesar 23,78%. Demikian pula dengan kondisi likuiditas perbankan yang mencatatkan ekses atau kelebihan pada tahun lalu mencapai Rp 2.111 triliun, jauh lebih besar dari tahun sebelumnya.Rp 1.251 triliun. Ini antara lain ditopang oleh Dana Pihak Ketiga yang tumbuh sebesar 11,11%.

Wimboh juga menjelaskan restrukturisasi kredit di perusahaan pembiayaan yang berjalan dengan baik . Hingga akhir 2020, total pembiayaan yang direstrukturisasi mencapai Rp 189,96 triliun atau 48,52% dari total pembiayaan. Ini, menurut Wimboh, mampu menjaga profil risiko perusahaan pembiayaan dengan rasio peningkatan pembiayaan bermasalah sebesar 4,5%.

Profil risiko IKNB juga masih terjaga dalam level yang terkendali. Risk-based capital industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing sebesar 540% dan 354%, jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 120%. Rasio pinjaman terhadap modal alias gearing ratio perusahaan pembiayaan juga yang tercatat sebesar 2,19%, jauh di bawah maksimum 10%.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Joko Widodo optimistis 2021 akan menjadi titik balik pemasalahan pandemi yang dialami. "Kami ingin perekonomian segera bangkit kembali dan pengendalian pandemi melalui vaksinasi menjadi kunci yang sangat menentukan agar masyarakat bisa bekerja kembali, bersekolah, ibadah dengan tenang, dan ekonomi nasional segera bangkit," ujar Jokowi dalam kesempatan yang sama.

Menurut dia, kesehatan masyarakat akan segera pulih dengan telah dimulainya program vaksinasi sejak dua hari lalu. Jokowi pun menargetkan vaksinasi untuk 180 juta penduduk Indonesia akan rampung pada tahun ini. 

Di sisi lain, percepatan pemulihan ekonomi nasional terus diupayakan pemerintah. Ia pun meminta kerja sama pemerintah dengan OJK, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjaminan Simpanan terus berjalan dengan baik seperti tahun ini.. "Setiap masalah selalu direspon cepat dan kerja sama itu diharapkan dilanjutkan tahun ini," kata dia.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
Video Pilihan

Artikel Terkait