Ekonomi Eropa Minus 6,8% Tahun Lalu Akibat Lockdown Berkepanjangan

Ekonomi Eropa pada kuartal IV minus 0,7% secara kuartalan karena langkah lockdown yang kembali dilakukan pemerintah negara-negara Eropa seiring gelombang dua kasus Covid-19.
Image title
2 Februari 2021, 19:02
Hannah McKay Para pelancong melihat papan informasi di stasiun King's Cross, saat negara Uni Eropa memberlakukan larangan perjalanan dari United Kingdom menyusul penyebaran penyakit virus korona (COVID-19), di London, Britain, Senin (21/12/2020).
ANTARA FOTO/REUTERS/Hannah McKay/aww/cf
Ilustrasi. Ekonomi zona euro diperkirakan baru akan mencapai tingkat ekonomi sebelum pandemi pada 2022.

Ekonomi Eropa terkontraksi 0,7% pada kuartal keempat tahun lalu dibandingkan kuartal sebelumnya seiring langkah pemerintah memperketat pembatasan sosial untuk menahan gelombang kedua Pandemi Covid-19. PDB Eropa sepanjang tahun lalu minus 6,8% dibandingkan 2019.

Zona euro mencatatkan pertumbuhan 12,4% pada kuartal ketiga dibandingkan kuartal sebelumya saat pemerintah negara-negara Eropa membuka kembali sebagian perekonomiannya. Namun, keadaan darurat kesehatan memburuk dalam tiga bulan terakhir tahun lalu, dengan Jerman dan Prancis menerapkan kembali karantina nasional. Pengetatan pembatasan sosial kembali membebani kinerja ekonomi.

Data yang dirilis minggu lalu menunjukkan bahwa Jerman tumbuh 0,1% secara kuartalan pada kuartal terakhir tahun 2020. Spanyol mengalami tingkat pertumbuhan PDB 0,4% pada periode yang sama sementara Prancis mengalami kontraksi sebesar 1,3%. Angka tersebut berada di atas ekspektasi analis dan menunjukkan bahwa beberapa bisnis telah mempelajari cara mengatasi sebaik mungkin dampak karantina.

Berita persetujuan vaksin virus corona yang muncul pada kuartal keempat tahun lalu juga memberikan optimisme bahwa pandemi dapat berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan. Namun, pelaksanaannya yang lambat memicu kekhawatiran para ekonom dapat menyebabkan pemulihan ekonomi membutuhkan waktu lebih lama.

"Kegagalan rencana vaksinasi Eropa dan mundurnya Brussel dari kebuntuannya dengan Inggris dan AstraZeneca telah menimbulkan keraguan tentang pemulihan Eropa," Anatole Kaletsky, pendiri dari Gakeval Research mengatakan dalam risetnya, seperti dikutip dari CNBC, Selasa (2/2).

Jumlah kasus harian Covid-19 yang masih tinggi pada awal tahun ini dan penyebaran varian baru virus membuat pemerintah negara-negara Eropa memperpanjang atau memberlakukan kembali penguncian untuk menahan penyebaran.

Kondisi ini membuat IMF menurunkan ekspektasi pertumbuhan untuk kawasan euro pada tahun 2021 sebesar 1% menjadi 4,2% tahun ini. Lembaga tersebut juga memangkas proyeksi ekonomi empat negara terbesar Eropa, yakni Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol.

Pejabat Bank Sentral Eropa memperkirakan zona euro baru akan mencapai tingkat ekonomi sebelum pandemi pada 2022. Kondisi ini kontras dengan Tiongkok, satu-satunya ekonomi besar yang tumbuh pada 2020 dengan peningkatan produksi 2,3%, dan AS yang diperkirakan pulih pada pertengahan tahun ini.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait