Rupiah Melemah ke 14.272 per US$ Tertekan Penurunan PMI Manufaktur RI

Rupiah tertekan rilis PMI Manufaktur RI per Februari sebesar 50.9, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.
Agatha Olivia Victoria
1 Maret 2021, 10:25
rupiah, nilai tukar, PMI manufaktur
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj.
Ilustrasi. Beberapa mata uang Asia pagi ini turut melemah terhadap dolar AS.

Nilai tukar rupiah melemah 0,14% ke level Rp 14.255 per dolar AS pada pembukaan di pasar spot pagi ini, Senin (1/3). Hasil rilis data PMI Manufaktur RI yang lebih rendah pada Februari 2021 menekan rupiah.

Selain rupiah, beberapa mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS. Mengutip Bloomberg, yen Jepang turun 0,1%, dolar Taiwan 0,22%, peso Filipina 0,06%, rupee India 1,44%, dan ringgit Malaysia 0,1%. Sementara dolar Hong Kong menguat 0,01%. dolar Singapura 0,15%, won Korea Selatan 0,1%, yuan Tiongkok 0,13%, dan baht Thailand 0,1%.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji mengatakan, hasil rilis PMI Manufaktur RI per Februari sebesar 50.9, lebih rendah dibandingkan PMI Manufaktur per Januari sebesar 52.2. "Hal ini memberikan sentimen negatif bagi rupiah terhadap dolar AS," kata Nafan kepada Katadata.co.id, Senin (1/3).

Di sisi lain, proyeksi rendahnya inflasi di Tanah Air turut berpotensi menekan kinerja rupiah terhadap dolar AS. Data indeks harga konsumen Indonesia akan dirilis siang ini pukul 11.00 WIB.

Advertisement

Sementara itu, Nafan menilai bahwa proyeksi ekspansifnya kinerja ISM Manufacturing PMI maupun Final Manufacturing PMI AS berpotensi memberikan katalis positif bagi kinerja mata uang Negeri Paman Sam. Namun saat berita ini ditulis, indeks dolar AS melemah 0,05% ke level 90.89.

Secara teknikal, menurut Nafan, terlihat beberapa pola bullish engulfing line candlestick pattern pada grafik harian nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. "Ini mengindikasikan adanya potensi depresiasi rupiah di antara Rp 14.115-14.370 per dolar AS," ujar dia.

Analis Pasar Uang Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto memperkirakan bahwa volatilitas rupiah akan kembali meningkat pada pekan ini. "Tekanan akan banyak dipengaruhi oleh sentimen luar negeri, yaitu kenaikan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun," ujar Rully kepada Katadata.co.id.

Imbal hasil surat utang Negeri Paman Sam tenor 10 tahun kemungkinan akan terus naik selama pekan ini. Penyebabnya, kata dia, kekhawatiran inflasi karena stimulus fiskal dan injeksi likuiditas bank sentral AS yang sangat besar.

Beberapa hari ini, mata uang emerging market memang cenderung melemah signifikan. "Rupiah juga masih akan melemah sepekan ini karena ketidakpastian masih tinggi," kata dia.

Pelemahan rupiah juga masih akan terjadi meskipun data-data dari dalam negeri kemungkinan besar masih akan kondusif. Salah satunya, data inflasi RI yang diramal masih stabil.

Satu pekan kemarin, rupiah tercatat telah melemah 1,21% pada pasar spot akibat tren kenaikan imbal hasil alias yield surat utang AS. Kenaikan imbal hasil obligasi negara itu menjadikan dolar AS lebih menarik karena spread dengan yield aset berisiko lainnya, termasuk rupiah semakin mengecil.

Apalagi, Bank Indonesia memangkas tingkat suku bunga acuannya baru-baru ini. Usai BI menurunkan bunga acuan sebesar 25 basis poin dari 3,75% menjadi 3,5%, rupiah terus melemah ke level Rp 14.025 per dolar AS pada penutupan pasar spot, Kamis (18/2). Keesokan harinya hingga beberapa hari ke depan, rupiah terus turun meski sempat menguat tipis berkat pernyataan Gubernur Bank Sentral AS, The Fed Jerome Powell pada Rabu (24/2).

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait