Pernyataan Bank Sentral AS Menjatuhkan Rupiah ke Level 14.625 per US$

Kurs rupiah pada perdagangan pagi ini melemah ke Rp 14. 625 per dolar AS seiring pernyataan The Fed yang membuka kemungkinan untuk mengurangi pembelian obligasi.
Agatha Olivia Victoria
15 April 2021, 10:36
rupiah, the fed, kurs rupiah melemah
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi. Kurs rupiah menguat bersama mayoritas mata uang Asia lainnya.

Nilai tukar ">rupiah dibuka melemah 0,11% ke level Rp 14.617 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot pagi ini, Kamis (15/4). Kurs rupiah loyo usai pernyataan dari Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell terkait kemungkinan pengurangan pembelian obligasi.

Mengutip Bloomberg, rupiah bergerak melemah dari posisi pembukaan ke Rp 14.625 per dolar AS hingga pukul 10.20 WIB. Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong loyo 0,01%, dolar Singapura 0,03%, dolar Taiwan 0,04%, won Korea Selatan 0,13%, yuan Tiongkok 0,1%, ringgit Malaysia 0,05%, dan baht Thailand 0,18%. Sementara yen Jepang menguat 0,05% dan Peso Filipina 0,01%.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih terkait dengan perkembangan imbal hasil atau yield surat utang Negeri Paman Sam. "Hari ini yield obligasi AS kembali meningkat setelah pernyataan Powell," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Kamis (15/4).

Powell membuka kemungkinan pengurangan pembelian obligasi oleh bank sentral terlebih dahulu sebelum menaikan suku bunga acuan. Hal ini akan dilakukan jika terlihat kemajuan pencapaian target Fed yaitu tak ada pengangguran dan inflasi.

Advertisement

Ariston menyebutkan bahwa yield obligasi AS saat ini berada di kisaran 1,64%, naik dari 1,61%. Menurut dia, kenaikan imbal hasil tersebut bisa memicu pelemahan berlanjut nilai tukar rupiah terhadap mata uang negeri Paman Sam.

Selain itu, menurut dia, data-data ekonomi Indonesia yang menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi masih tertahan turut menjadi sentimen negatif terhadap rupiah. Data tersebut, mencakup survei tingkat keyakinan konsumen Indonesia Maret yang membaik dari 85,8 menjadi 93,4 tetapi masih dalam zona positif. Penjualan retail pada Februari juga masih menurun dari minus 16,4% menjadi 18,1%.

Sementara itu data neraca dagang yang diproyeksi surplus melebihi US$ 1,5 miliar, menurut Ariston, dapat menahan pelemahan rupiah. "Potensi kisaran hari ini ada di antara Rp 14.580-14.630 per dolar AS," ujarnya.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan ditutup melemah hari ini. "Rentang pergerakan Rp 14.590-14.635 per dolar AS," kata Ibrahim dalam hasil kajiannya, Rabu (14/4).

Dia mengatakan bahwa perkembangan peta zonasi risiko per 11 April 2021 menunjukkan adanya peningkatan pada zona merah atau risiko tinggi. Wilayah zona merah bertambah dari 10  menjadi 11 kabupaten/kota.

Zona oranye atau risiko sedang juga meningkat dari 289 menjadi 316 kabupaten/kota. Sementara zona kuning atau risiko rendah menurun dari 207 menjadi 178 kabupaten/kota. Sementara itu, terdapat 8 kabupaten/kota dengan zona hijau atau tidak ada kasus dan 1 kabupaten/kota tidak terdampak. 

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito meminta semua pihak meningkatkan kualitas penanganan Covid-19. Kenaikan jumlah daerah zona merah sudah terjadi dalam 2 minggu berturut-turut.

"Perkembangan ini tidak baik dan juga harus dijadikan peringatan. Meskipun mayoritas daerah berada di zona oranye dan zona kuning, sehingga saya perlu menekankan bahwa kondisi ini dinamis," kata Wiku dalam International Media Briefing, Selasa (13/4)

Selain upaya yang dilakukan pemerintah, menurut Wiku, perkembangan penanganan Covid-19 di Indonesia bergantung pada perilaku masyarakat menerapkan perubahan perilaku. Perkembangan penanganan pandemi bersifat dinamis, sehingga diperlukan kerja sama berbagai pihak agar menghasilkan perkembangan ke arah yang lebih baik.

Pasien positif corona bertambah 5.656 orang pada Rabu (14/4). Total Kasus mencapai 1.583.182 dengan 1.431.892 pasien dinyatakan sembuh dan 42.906 orang meninggal dunia.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait