Investor Was-was Lonjakan Kasus Covid-19 Dunia, Rupiah Loyo 14.465/US$

Kurs rupiah melemah pagi ini karena pasar keuangan dibayangi oleh kekhawatiran lonjakan kasus Covid-19 di dunia yang dapat menghambat pemulihan ekonomi.
Agatha Olivia Victoria
3 Mei 2021, 09:42
rupiah, covid-19, pandemi corona
ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/rwa.
Ilustrasi. Rupiah pagi ini melemah terhadap dolar AS bersama mayoritas mata uang Asia.

Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,10% ke level Rp 14.460 per dolar AS pada pasar spot pagi ini. Kurs rupiah loyo akibat kekhawatiran lonjakan kasus Covid-19 di dunia.

Mengutip Bloomberg, rupiah bergerak kian melemah ke posisi Rp 14.465 per dolar AS hinga pukul 09.30 WIB. Sebagian besar mata uang Asia melemah pagi ini. Yen Jepang turun 0,13%, dolar Singapura 0,11%, dolar Taiwan 0,22%, won Korea Selatan 0,5%, rupee India 0,05%, yuan Tiongkok 0,04%, ringgit Malaysia 0,44%, dan baht Thailand 0,11%. Hanya dolar Hong Kong dan peso Filipina yang menguat masing-masing 0,01% dan 0,04%.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra mengatakan, pasar keuangan dibayangi oleh kekhawatiran lonjakan kasus Covid-19 di dunia yang dapat menghambat pemulihan ekonomi. "Kekhawatiran ini menahan penguatan rupiah pada akhir pekan lalu dan bisa menekan rupiah hari ini," ujar Ariston kepada Katadata.co.id, Senin (3/5).

Di sisi lain, sambung dia, pemulihan ekonomi mulai nampak di sebagian negara di dunia, termasuk Indonesia. Kondisi ini masih memberikan optimisme ke pelaku pasar dan menahan pelemahan lebih lanjut kurs Garuda hari ini.

Ariston pun memproyeksikan rupiah berpotensi bergerak melemah hingga sore hari ini. "Kisaran di Rp 14.500 dengan potensi support di Rp 14.420 per dolar AS," katanya.

Bloomberg melaporkan, jumlah kasus virus corona di dunia kembali meningkat. Hingga saat ini, jumlahnya mencapai 153,48 juta.

Jumlah kasus Covid-19 secara harian di India melewati angka 400 ribu untuk pertama kalinya, tertinggi untuk negara mana pun.  Sementara itu, Presiden AS Joe Biden melarang sebagian besar perjalanan dari India ke Negeri Paman Sam, sambil menawarkan lebih banyak persediaan medis.

Australia mengumumkan bahwa warganya di India akan didenda hingga US$ 51.000 dan lima tahun penjara jika mereka kembali ke negaranya.

Di AS, infeksi mingguan berada pada level terendah sejak pertengahan Oktober 2020. Negara bagian New York melaporkan kematian harian paling sedikit dalam lebih dari lima bulan.

Sementara itu, Indonesia melaporkan kasus Covid-19 hari Minggu (2/5) bertambah 4.394 menjadi 1.677.274 orang. Adapun angka kematian pasien corona meningkat 144 menjadi 45.796 orang.

Kementerian Kesehatan mencatat, penambahan kasus tersebut didapatkan dari pemeriksaan 32.389 orang. Sebanyak 21.402 diperiksa melalui tes polymerase chain reaction (PCR), sedangkan 10.987 lewat antigen.

Sedangkan tambahan kasus terbanyak hari ini berasal dari DKI Jakarta yakni 854 orang dan Jawa Barat sebanyak 672 pasien. Berikutnya adalah Riau yang melaporkan tambahan 583 kasus baru postif corona.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengingatkan masyarakat bahwa Covid-19 masih ada dan menyebar di Indonesia hingga saat ini. Presiden juga mengingatkan masyarakat tak berpuas diri dan lengah meski ada penurunan kasus aktif.

Kasus corona memang mulai menurun seiring berjalannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan vaksinasi. Meski demikian, ia meminta masyarakat tetap waspada. “Kasus harian juga menurun. Tapi jangan berpuas diri, optimis berlebihan, merasa situasi terkendali, belum,” kata Jokowi dalam keterangan virtual, Minggu (2/5).   

Presiden juga meminta masyarakat memprioritaskan kesehatan dengan menaati protokol yang ada. Secara khusus ia mengulang instruksi kepada kepala daerah untuk melarang warga mudik. “Saya minta gubernur, bupati, dan wali kota ingatkan masyarakat disiplin dan sinergi dengan pusat dengan melarang mudik warga,” ujar dia.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait