Pemerintah Larang Mudik Lebaran, BPS Soroti Dampaknya ke Ekonomi

Agatha Olivia Victoria
5 Mei 2021, 15:13
mudik Lebaran, larangan mudik konsumsi rumah tangga, konsumsi masyarakat, bps
ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/aww.
BPS menyebut, aktivitas mudik Lebaran berpengaruh besar pada konsumsi rumah tangga dan perekonomian secara keseluruhan.

Pemerintah kembali menerapkan larangan mudik Lebaran meski menargetkan ekonomi dapat tumbuh positif pada kuartal kedua tahun ini. Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto berpendapat, aktivitas mudik Lebaran berpengaruh besar pada konsumsi rumah tangga dan perekonomian secara keseluruhan. 

"Ketika Lebaran seharusnya ada peningkatan konsumsi makanan minuman, membeli pakaian baru, dan transportasi mudik. Perjalanan mudik juga berdampak pada hotel dan restoran di sekitar jalur mudik," ujar Suhariyanto dalam Konferensi Pers Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I 2021, Rabu (5/5).

Dengan demikian, menurut Suhariyanto, larangan mudik akan berpengaruh signifikan pada pola konsumsi rumah tangga pada momentum Lebaran tahun ini. Larangan mudik, menurut dia, akan menahan pengeluaran konsumsi untuk  transportasi, rekreasi, hotel, dan restoran. Ketiga jenis pengeluaran ini menyumbang 25% konsumsi rumah tangga. 

BPS mencatat, konsumsi rumah tangga menjadi sumbangan terbesar kontraksi ekonomi pada kuartal I 2021 . Konsumsi ini masih tercatat minus 2,23% sedangkan pertumbuhan ekonomi terkontraksi 0,74%.

Kendati demikian, Suhariyanto menekankan bahwa kebijakan larangan mudik saat ini adalah tindakan yang tepat. Jika pilihan tersebut tidak dilakukan, penyebaran pandemi berpotensi tak terkendali. 

Suhariyanto menilai, perkembangan kasus Covid-19 dunia belakangan ini kurang menggembirakan. Di India misalnya, terdapat lonjakan kasus karena acara keagamaan yang bisa menjadi pelajaran berharga bagi warga Indonesia. "Di Eropa juga kembali dilockdown dan Malaysia baru-baru ini kembali terdapat peningkatan kasus," ujar dia.

Pemerintah menyiapkan sejumlah strategi untuk mendongkrak konsumsi rumah tangga saat Ramadan dan Idul Fitri meski ada larangan mudik. Salah satunya melalui kebijakan subsidi ongkir Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) mencapai Rp 500 miliar. "Kami akan mendorong sisi konsumsi supaya permintaan mulai muncul," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam acara Sarasehan Akselerasi Pemulihan Ekonomi Nasional - Temu Stakeholders, Jumat (9/4).

Harbolnas akan berlangsung pada H-10 dan H-5 Lebaran 2021. Selain stimulus tersebut, ia optimistis konsumsi akan meningkat karena ada pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) untuk mobil dan rumah. Program Bangga Buatan Indonesia dan Bangga Wisata Indonesia yang tengah dicanangkan pemerintah juga akan mendorong konsumsi masyarakat.

Meski demikian, Sri Mulyani menegaskan, seluruh stimulus pemerintah didesain dengan sangat hati-hati dan teliti. Meski ingin mendorong ekonomi, pemerintah tak ingin kasus Covid-19 kembali meningkat. "Ini selalu dicari titik tengahnya," ujar dia.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait