GoTo Berencana Gelar IPO Tahun Ini, Prioritas di Indonesia

GoTo akan memprioritaskan IPO di pasar saham Indonesia.
Agustiyanti
19 Mei 2021, 09:37
GoTo, IPO, IPO GoTo, GoTo masuk bursa, GoTo melantai di bursa
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nz
Ilustrasi. GoTo berencana menggelar IPO pada tahun ini.

Entitas hasil merger Gojek dan Tokopedia, GoTo berencana menggelar penawaran saham perdana atau Initial Public Offering sebelum akhir tahun ini. Perusahaan raksasa teknologi ini akan memprioritaskan IPO di pasar saham Indonesia.

CEO GoTo Andre Soelistyo menjelaskan, pihaknya kini tengah fokus mempersiapkan IPO setelah merampungkan proses merger. Penawaran saham perdana akan dilakukan pada GoTo sebagai perusahaan induk nonoperasional Gojek dan Tokopedia.

"Mudah-mudahan sebelum akhir tahun ini, kami sudah bisa IPO," ujar CEO GoTo Andre Soelistyo dalam pertemuan dengan beberapa pemimpin redaksi, Rabu (19/5) malam.

Andre menjelaskan, pihaknya akan memprioritaskan pasar saham di dalam negeri untuk menggelar IPO. Saat ini, pihaknya masih mempelajari sejumlah regulasi untuk dapat melantai di bursa efek.

Advertisement

"Sekarang saya belum bisa menjelaskan secara detail karena baru menyelesaikan proses merger. Jadi saya belum dapat menjelaskan porsi saham yang dilepas dan skema IPO-nya," kata Andre.

Terkait kemungkinan dual listing di bursa saham AS, Andre mengatakan saat ini juga masih dalam kajian. "Seperti kita ketahui sebelumnya, sudah ada Telkom dan Indosat. Kami masih mengkaji," ujarnya.

Grup GoTo menggabungkan layanan perdagangan elektronik (e-commerce), pengiriman barang dan makanan, transportasi, dan keuangan. Perusahaan juga akan memberikan layanan keuangan bernama GoTo Financial yang mencakup layanan GoPay, jasa keuangan, dan solusi bisnis mitra usaha.

Total valuasi GoTo mencapai US$ 18 miliar atau sekitar Rp 257 triliun (asumsi kurs Rp 14.300 per dolar AS) berdasarkan putaran penggalangan dana Gojek 2019 dan Tokopedia di awal 2020. Valuasi tersebut membawa GoTo sebagai startup unicorn dengan valuasi ke-11 tertinggi di dunia jika merujuk pada data CB Insights.

Laporan CB Insight juga menyebutkan perusahaan hasil merger ini menargetkan valuasi hingga US$ 40 miliar jika menjadi perusahaan publik. 

Pada 2020, lalu lintas transaksi GoTo mencapai 1,8 miliar. Jumlah mitra driver yang terdaftar mencapai lebih dua juta mitra. Jumlah mitra usahanya mencapai lebih 11 juta dan terdapat lebih 100 juta pengguna aktif bulanan.

Di tahun yang sama, perputaran ekonominya mencapai US$ 22 miliar atau sekitar Rp 314 triliun. Angka ini sekitar 2% dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Grup GoTo kini memiliki jajaran investor yang merupakan raksasa teknologi global, termasuk di dalamnya, Alibaba Group, Tencent, Facebook, hingga Google. 

Selain itu, ada investor lainnya yang masuk kelas blue-chip, seperti Astra International, BlackRock, Capital Group, DST, JD.com, KKR, Northstar, Pacific Century Group, PayPal, Provident, Sequoia Capital, SoftBank Vision Fund 1, Telkomsel, Temasek, Visa dan Warburg Pincus.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Gede Nyoman Yetna Setya  mengatakan belum menerima dokumen IPO dari GoTo.  "Kami belum menerima dokumen permohonan pencatatan baik dari Gojek, Tokopedia ataupun entitas gabungan Gojek-Tokopedia," kata Nyoman kepada awak media, Selasa (18/5).

Meski demikian, pihaknya saat ini telah mengantongi 25 nama perusahaan yang berencana menggelar IPO, terdiri dari empat perusahaan berskala kecil, 12 perusahaan skala menengah, dan sembilan perusahaan berskala besar.

Reporter: Yura Syahrul
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait