Rupiah Melemah Tertekan Kekhawatiran Pasar soal Kebijakan The Fed

Agatha Olivia Victoria
24 Mei 2021, 10:02
rupiah, nilai tukar, dolar AS
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/pras.
Ilustrasi. Rupiah bergerak melemah saat mayoritas mata uang Asia bergerak menguat.

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,07% ke level Rp 14.346 per dolar AS pada pasar spot pagi ini, Senin (24/5). Namun, rupiah bergerak melemah seiring kekhawatiran pengetatan kebijakan moneter oleh Bank Sentral AS, The Federal Reserve sebagai imbas lonjakan inflasi.

Mengutip Bloomberg, rupiah berbalik melemah ke posisi Rp 14.357 per dolar AS hingga pukul 09.30 WIB. Mayoritas mata uang Asia menguat pagi hari ini. Yen Jepang naik 0,04%, dolar Hong Kong 0,01%, dolar Singaoura 0,06%, dolar Taiwan 0,1%, peso Filipina 0,01%, dan rupee India 0,36%. Sementara, won Korea Selatan melemah 0,11%, yuan Tiongkok 0,04%, ringgit Malaysia 0,02%, dan baht Thailand 0,01%.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra memperkirakan, rupiah berpotensi terus melemah hari ini seiring dengan ekspektasi pasar yang masih tinggi terhadap kenaikan inflasi di AS. Kenaikan inflasi berpotensi mengubah kebijakan moneter The Fed menjadi lebih ketat. "Pengetatan moneter di Negeri Paman Sam bisa mendorong penguatan dolar AS," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Senin (24/5).

Saat berita ini ditulis, indeks dolar AS naik 0,03% ke level 90.04. Dengan perkembangan itu, mata uang Negeri Paman Sam pun terlihat melemah terhadap mayoritas mata uang utama dunia seperti pound Inggris, dolar Australia, dolar Kanada, namun melemah terhadap franc Swiss dan euro.

Selain itu, menurut dia, pasar menantikan pernyataan Anggota Dewan Gubernur The Fed terkait kebijakan moneter ke depan pada Selasa malam. Maka dari itu, potensi pelemahan mata rupiah kemungkinan ke arah Rp 14.400 per dolar AS dengan potensi support di kisaran Rp 14.300 per dolar AS.

Di sisi lain, Ariston menyebutkan bahwa kenaikan kasus Covid-19 di dunia menjadi kekhawatiran pasar. "Ini bisa memicu investor keluar dari aset berisiko," ujar dia.

Melansir laman resmi Worldometers, kasus positif corona dunia mencapai 167,52 juta hingga pukul 09.00 WIB. Angka kematian tercatat 3,48 juta dengan kesembuhan 148,53 juta.

Beberapa pejabat Fed pada pekan lalu mempertimbangkan perubahan kebijakan moneter berdasarkan pemulihan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan. "Sejumlah peserta menyarankan, jika ekonomi terus membuat kemajuan pesat menuju tujuan komite, mungkin tepat dalam pertemuan mendatang untuk mulai membahas rencana penyesuaian laju pembelian aset," bunyi risalah pertemuan The Fed akhir pekan lalu, seperti dikutip dari Reuters. 

Namun, pandangan tersebut mungkin akan terpukul bulan ini dengan rilis data yang menunjukkan pertumbuhan pekerjaan lesu pada bulan April 2021. Meskipun inflasi lebih tinggi, hanya terdapat penambahan 266 ribu pekerjaan bulan lalu.

Indeks harga konsumen Negeri Paman Sam melonjak menjadi 4,2% pada April, kenaikan terbesar sejak September 2008 dan mengikuti kenaikan 2,6% pada Maret 2021. Kenaikan inflasi ini terjadi seiring lonjakan permintaan di tengah ekonomi yang dibuka kembali. Hal tersebut menambah kekhawatiran pasar keuangan akan periode inflasi yang lebih tinggi dan berkepanjangan.

Departemen Tenaga Kerja AS pada awal bulan Mei 2021 juga menunjukkan terdapat tekanan harga yang mendasari inflasi, memperpanjang aksi jual saham di Wall Street. Namun, sebagian besar ekonom tidak tergoyahkan dalam keyakinan bahwa lonjakan harga akan bersifat sementara.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait