Modal Asing Masuk Rp 6,34 T dalam Sepekan, Rupiah Menguat 0,48%

Rupiah menguat 0,48% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu ditopang oleh aliran modal asing masuk Rp 6,13 triliun pada 24-27 Mei 2021.
Agatha Olivia Victoria
28 Mei 2021, 21:28
rupiah, aliran modal asing, nilai tukar rupiah
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Modal asing masuk di pasar surat berharga negara Rp 5,45 triliun, sedangkan di pasar saham Rp 0,69 triliun pada 24-27 Mei 2021.

Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 14.285 per dolar AS pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (28/5). Rupiah menguat 0,48% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu ditopang oleh aliran modal asing masuk Rp 6,13 triliun pada  24-27 Mei 2021.

Kepala Departemen Komunikasi Erwin Haryono menjelaskan, modal asing masuk di pasar surat berharga negara Rp 5,45 triliun, sedangkan di pasar saham Rp 0,69 triliun. Namun, aliran modal asing sepanjang tahun ini masih mencatatkan jual bersih Rp 12,29 triliun. 

"Premi CDS Indonesia 5 tahun juga turun dari 77,69 bps pada 21 Mei 2021 menjadi 75,81 bps," kata Erwin dalam siaran pers, Jumat (28/5). 

Imbal hasil (yield)  surat berharga AS turun ke level 1,6%, sedangkan yield SBN 10 tahun stabil di level 6,42%. 

Dalam sepekan ini, pasar terus mengkhawatirkan kenaikan inflasi AS yang berpotensi mengubah kebijakan Bank Sentral, The Federal Reserve. Hari ini, pasar tengah menantikan data indikator inflasi AS lainnya, yaitu Core Price Consumption Expenditures (PCE) Index bulan April 2021.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, dolar AS naik lebih tinggi terhadap mata uang lainnya karena kenaikan imbal hasil obligasi menjelang rilis data inflasi hari ini. Mengutip Bloomberg, indeks dolar AS meningkat 0,44% ke level 90.36 saat berita ini ditulis.

Ia menyebutkan bahwa data yang dirilis di Negeri Paman Sam pada hari Kamis (27/5) mencatat bahwa 406.000 klaim pengangguran awal diajukan sepanjang minggu. "Angka tersebut mencapai titik terendah dalam 14 bulan setelah pemutusan hubungan kreja (PHK) mereda," ujar Ibrahim dalam hasil risetnya, Jumat (28/5).

Di sisi lain, Ibrahim menuturkan bahwa berdasarkan laporan New York Times, Presiden AS Joe Biden akan mengumumkan anggaran U$ 6 triliun untuk tahun 2022 untuk memastikan investasi dalam proyek infrastruktur, pendidikan, dan perawatan kesehatan utama. Jika ini berhasil melewati Kongres yang terpecah, pengeluaran Negeri Adidaya akan mencapai tingkat tertinggi sejak Perang Dunia II.

Menurut dia, proposal anggaran tersebut datang saat pemulihan ekonomi AS tampaknya mendapatkan momentum. Pada hari Kamis, jumlah penduduk AS yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran turun ke level terendah pasca pandemi 406.000, menjelang data gaji bulanan bulan Juni yang diawasi secara luas minggu depan.

Sebelumnya, Analis Pasar Uang Ariston Tjendra mengatakan,  The Fed akan bersiap mengubah kebijakan moneternya menjadi lebih ketat bila ada indikasi kenaikan inflasi tidak untuk sementara saja. Inflasi AS berdasarkan indikaor indeks harga konsumen telah naik di atas 2% selama dua bulan terakhir, Maret dan April 2021 masing-masing sebesar 2,6% dan 4,2%. The Fed menetapkan target inflasi 2% sebagai ukuran untuk menetapkan kebijakan moneter yang baru yang lebih ketat.

Pasar saat ini tengah menantikan data indikator inflasi AS lainnya, yaitu PCE Index bulan April yang akan dirilis, untuk mengonfirmasi isu kenaikan inflasi ini. "Di sisi lain, sikap Bank Indonesia yang memutuskan suku bunga acuan tetap di level 3,5% menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah karena perbedaan imbal hasil yang besar dengan dolar AS masih terjaga," ," ujar Ariston kepada Katadata.co.id, Senin (27/5).

Dolar AS mendapat dukungan dari pandangan yang muncul bahwa The Fed secara perlahan tapi pasti mencapai diskusi tentang pengetatan kebijakan moneter. Namun, para pejabat The Fed meremehkan kekhawatiran pasar bahwa kenaikan inflasi akan mendorong respons kebijakan secara spontan.

Kendati begitu, mereka mengatakan waktu pembicaraan terkait perubahan kebijakan kemungkinan sudah dekat. "Itu mungkin di balik kekuatan dolar AS yang kami lihat saat ini," kata Ahli Strategi Mata Uang Commonwealth Bank of Australia Kim Mundy melalui telepon dari Sydney dikutip dari Reuters.

Para ekonom memperkirakan harga inti PCE akan melonjak 2,9% pada bulan April 2021. Sebelumnya, data tersebut menunjukkan kenaikan 1,8% pada Maret.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait