Rupiah Menguat ke 14.230 per Dolar di Tengah Penantian Data Inflasi AS

Rupiah pada perdagangan pagi ini menguat 0,18% ke level Rp 14.230 per dolar AS di tengah penantian data inflasi AS.
Agatha Olivia Victoria
10 Juni 2021, 10:24
rupiah, nilai tukar, inflasi AS, rupiah menguat
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi. Mayoritas mata uang Asia pagi ini menguat terhadap dolar AS.

Nilai tukar rupiah dibuka stagnan di level Rp 14.255 per dolar Amerika Serikat pada pagi hari ini. Namun rupiah bergerak menguat ke level Rp 14.230 per dolar AS di tengah penantian data inflasi Negeri Paman Sam.

Mayoritas mata uang Asia juga menguat pagi ini. Mengutip Bloomberg, yen Jepang naik 0,05%, dolar Singapura 0,02%, dolar Taiwan 0,14%, peso Filipina 0,06%, yuan Tiongkok 0,06%, dan baht Thailand 0,06%. Sedangkan, dolar Hong Kong melemah 0,01%, rupee India 0,12%, dan ringgit Malaysia 0,02%. Sementara won Korea Selatan stagnan. 

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra mengatakan, pasar menantikan dan mewaspadai data penting AS yaitu data indeks Harga konsumen (IHK), yang merupakan salah satu indikator inflasi. Data ini akan dirilis malam ini sekitar pukul 19.30 WIB. "Kenaikan inflasi di atas perkiraan, bisa memicu penguatan dolar AS dan sebaliknya," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Kamis (10/6).

Advertisement

Saat berita ini ditulis, indeks dolar AS naik 0,06% ke level 90.17. Mata uang Negeri Paman Sam pun terlihat menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia seperti euro, pound Inggris, dolar Australia, dolar Kanada, dan franc Swiss.

Ariston menilai, data inflasi AS sudah menunjukkan kenaikan di atas target bank sentral AS sebesar 2% selama dua bulan terakhir. Mewaspadai data inflasi tersebut, rupiah mungkin bisa melemah tipis lagi hari ini ke arah Rp 14.270 per dolar AS.

Dari pergerakan nilai tukar rupiah kemarin, ia menyebutkan bahwa memang sudah terlihat kekhawatiran pasar terhadap perubahan kebijakan moneter di AS. Rupiah ditutup melemah tipis meskipun imbal hasil atau yield obligasi Negeri Adidaya tenor 10 tahun sudah turun ke level 1,5%.

Bahkan, lanjut Ariston, data survei tingkat keyakinan konsumen Indonesia bulan Mei 2021 menunjukkan optimisme yang lebih tinggi dari bulan sebelumnya. "Dengan dukungan data tersebut, mata uang Garuda berpotensi menguat ke arah Rp 14.230 per dolar AS," katanya.

Analis Pasar Uang PT Bank Mandiri Tbk Rully Arya memperkirakan rupiah masih akan melanjutkan penguatannya. "Kisaran di rentang Rp 14.230-14.285 per dolar AS," ujar Rully kepada Katadata.co.id, Kamis (10/6).

Pergerakan tersebut, sambung dia, didorong oleh faktor ekspektasi perbaikan ekonomi, baik global maupun domestik. Sentimen positif dan optimisme itu akan mendorong arus modal asing terus masuk cukup besar baik di pasar saham maupun pasar surat berharga negara (SBN).

Pemerintah pada Selasa (8/6) meraup Rp 34 triliun dari pelaksanaan lelang tujuh seri surat utang negara (SUN) pada Selasa (8/6). Nominal tersebut melewati target indikatif Rp 30 triliun.

Direktur Surat Utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Deni Ridwan menyampaikan, penguatan permintaan SUN di pasar perdana masih berlanjut pada lelang hari ini. "Perkembangan itu didukung oleh kondisi pasar global dan domestik," kata Deni kepada Katadata.co.id.

Deni berpendapat kecenderungan penurunan yield obligasi AS dan penguatan nilai tukar rupiah menjadi sentimen positif yang memengaruhi penawaran pada lelang kali ini. Dia menilai investor tertarik karena kondisi likuiditas perbankan domestik yang masih sangat berlimpah dan penurunan premi risiko investasi (credit default swap/CDS) lima tahun dibandingkan dengan level lelang sebelumnya.

Dirinya menyebutkan, total penawaran lelang tujuh seri tersebut yakni mencapai Rp 78,46 triliun. "Jumlah ini meningkat dibandingkan penawaran pada lelang SUN sebelumnya yang sebesar Rp 78,16 triliun," ujarnya.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait