Rupiah Melemah ke 14.497 per Dolar AS di Tengah Penantian Arah The Fed

Rupiah melemah di tengah penantian pasar terhadap rapat bank sentral AS minggu ini.
Abdul Azis Said
28 Juli 2021, 10:04
rupiah, the fed, nilai tukar
Arief Kamaludin|KATADATA
Rupiah bergerak melemah ke level Rp 14.505 per dolar AS hingga pukul 09.20 WIB.

Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis 0,01% ke level Rp 14.495 per dolar AS pada perdagangan pasar spot hari ini. Rupiah melemah di tengah penantian pasar terhadap rapat bank sentral AS minggu ini.

Mengutip Bloomberg, rupiah bergerak melemah ke level Rp 14.497 per dolar AS hingga pukul 10.00 WIB. Posisi ini melanjutkan pelemahan dari posisi penutupan kemarin di level Rp 14.493 per dolar AS.

Mata uang Asia lainnya dan beberapa negara peers bergerak bervariasi. Yen Jepang melemah 0,03%, dolar Australia 0,03%, won Korea Selatan 0,33% dan rupee India 0,06%. Sementara beberapa lainnya yang menguat dolar Taiwan 0,16%, dolar Hongkong 0,05%, dolar Singapura 0,1%, peso Filipina 0,06%, yuan Tiongkok 0,1%, ringgit Malaysia 0,04%, bath Thailand 0,06% serta dolar Selandia Baru 0,06%.

Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan bergerak pada fase konsolidasi, dengan level support 14.150 per dolar AS dan resistance Rp 14.450 per dolar AS. Indikasi tersebut sudah berlangsung sejak awal pekan ini di tengah rencana rapat kebijakan moneter bank sentral AS the Federal Reserve (The Fed) malam ini.

Advertisement

"Indikasi kebijakan tapering off  dapat mendorong penguatan dolar AS ke depan, tetapi penegasan mempertahankan pelonggaran moneter dapat mendorong pelemahan dolar AS," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Rabu, (28/7).

The Fed sebelumnya telah memberi sinyal akan adanya pengetatan stimulus moneter atau tapering off lewat rencana percepatan kenaikan suku bunga dari semula  2024  ke 2023. Sinyal ini juga didorong oleh rilis data ekonomi AS yang mulai menunjukkan adanya pemulihan ekonomi domestik AS. Tingkat inflasi juga terus meroket hingga menyentuh level tertinggi dalam 13 tahun terkahir pada Juni di level 5,4%.

Keputusan The Fed untuk mengurangi stimulus ini memicu kekhawatiran pasar, terutama potensi akan adanya aliran modal asing keluar dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Bank Indonesia mulai mengantisipasi kemungkinan tapering off oleh The Fed dan memperkirakan kebijakan tersebut paling cepat akan dilaksanakan pada awal tahun depan.

"Tapering oleh bank sentral AS paling cepat akan dilakukan awal 2022, secara bertahap. Sedangkan kenaikan bunga diprediksi November 2022," ujar Perry Warjiyo dalam pertemuan dengan para pemimpin redaksi pada akhir bulan lalu.

Di sisi lain, Ariston juga memprediksikan pergerakan rupiah berpeluang menguat terutama ditopang oleh tren penguatan mata uang negara berkembang Asia lainnya hari ini. Namun sejumlah faktor terutama lonjakan kasus Covid-19 masih akan menahan laju penguatan sehingga hanya berpeluang naik tipis.

"Tapi penguatan mungkin tidak jauh karena faktor Bank Sentral AS tersebut dan tekanan dari kenaikan kasus covid-19 di Indonesia yang masih tinggi." kata Ariston.

Satgas Covid-19 pada (27/7) mencatat jumlah kasus positif harian kembali bertambah 45.203 kasus baru, sehingga jumlah sudah mencapai 3,23 juta kasus positif sejak awal pandemi. Jumlah konfirmasi sembuh dan meninggal kompak mencetak rekor tertinggi mencapai 47.128 kasus sembuh dan 2.069 meninggal.

Lonjakan kasus COvid-19 di dalam negeri mulai menunjukkan tren kenaikannya sejak pertengahan bulan lalu, dan sempat menyentuh rekor tertingginya pada 15 Juli mencapai 56.757 kasus. Tren kasus sempat menunjukkan penurunan memasuki minggu ketiga Juli, seiring turunnya jumlah pengetesan.

Jumlahnya sempat turun di bawah 30 ribu kasus pada 26/7 sebelum akhirnya naik lagi mendekati 50 ribu kasus pada Selasa kemarin.

 

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait