Ekonomi Amerika Pulih dari Pandemi, Tumbuh 6,5% pada Kuartal II

Ekonomi Amerika Serikat tumbuh lebih rendah dibandingkan ekpektasi para analis pada kuartal II 2021 yang mencapai 8,4%. Namun,PDB AS sudah lebih besar daripada sebelum pandemi.
Image title
30 Juli 2021, 06:20
ekonomi amerika, ekonomi AS, pertumbuhan ekonomi amerika, pertumbuhan ekonomi AS, ekonomi AS pulih
ANTARA FOTO/REUTERS/Bryan R Smith/nz/cf
Ekonomi Amerika Serikat pada kuartal kedua 2021 lebih besar dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.

Ekonomi Amerika Serikat pulih dari pandemi Covid-19 pada kuartal kedua tahun ini. Produk domestik bruto AS tumbuh 6,5% secara tahunan, lebih baik dibandingkan pertumbuhan 6,3% pada kuartal pertama.  

Pertumbuhan PDB AS ini jauh di bawah ekspektasi para ekonom  sebelumnya yang mencapai 8,4%. Sebelum kasus Covid-19 meningkat kembali di AS, para ekonom bahkan memperkirakan pertumbuhan mampu mencapai 10%. 

Meski ekonomi AS saat ini lebih besar daripada sebelum pandemi,  tingkat pertumbuhannya mungkin mencapai puncaknya tahun ini. Namun, dengan kecepatan yang jauh lebih lambat dari yang diharapkan seiring penyerbaran varian Delta. 

PDB adalah ukuran semua barang dan jasa yang diproduksi pada periode April hingga Juni. Menurut Departemen Perdagangan AS, tingkat PDB kuartalan naik menjadi US$19,4 triliun pada kuartal kedua, lebih tinggi dari $19,2 triliun pada kuartal keempat 2019.

Advertisement

“Kami telah mencatat bahwa laju pertumbuhan PDB kuartal II adalah ukuran yang baik dari 'batas kecepatan' ekonomi, mengingat gangguan rantai pasokan yang meluas. Batas kecepatan itu sedikit lebih rendah dari yang kami duga," ujar Mike Englund, kepala ekonom di Action Economics dalam risetnya, Jumat (30/7) seperti dikutip CNBC. 

Englund mengatakan dia akan menyesuaikan perkiraannya untuk paruh kedua. Ia memperkirakan, ekonomi Amerika tahun ini  tumbuh sebesar 6,1% secara tahunan dan prediksi  The Fed sebesar 6,8% hingga 7,3% terlalu tinggi. 

Laju pertumbuhan pada kuartal kedua adalah yang tercepat sejak kuartal ketiga tahun lalu, ketika ekonomi bangkit kembali 33,4% setelah jatuh dalam pada kuartal kedua 2020. Selain itu, ini adalah tingkat pertumbuhan terbaik sejak 2003.

Ekonom dikejutkan oleh beberapa elemen dari laporan kuartal kedua. Persediaan tetap menjadi hambatan, sementara banyak bisnis yang diharapkan akan mulai bangun kembali. Pengeluaran pemerintah juga negatif, seperti juga beberapa kategori konstruksi.

“Segala sesuatu yang diharapkan lemah menjadi sedikit lebih lemah. Ada lebih banyak kejutan lemah daripada kejutan kuat,” kata Tom Simons, ekonom pasar uang di Jefferies.

Kinerja konsumsi adalah titik terang dan melampaui ekspektasi. Konsumsi naik 11,8% selama kuartal pertama, dengan pertumbuhan 12% dalam layanan. Konsumen adalah sekitar 70% dari semua aktivitas.

Simons mengatakan hambatan dari memudarnya stimulus sudah muncul pada kuartal kedua, setelah ledakan besar pengeluaran pemerintah. Ia mencontohkan, pengeluaran pemerintah nonpertahanan turun 10,4%, setelah naik 40,8% pada kuartal pertama.

Simons mengatakan aktivitas ekonomi diperkirakan akan meningkat pada September ketika sekolah dibuka kembali dan pekerja diharapkan kembali ke kantor mereka.

"Saya pikir masih ada alasan untuk optimis tentang sisa tahun ini dan 2022," katanya.

Inflasi adalah bagian dari hambatan di kuartal kedua. Diukur dengan pengeluaran konsumsi inti, inflasi naik 6,1%, tingkat tertinggi sejak 1983.

“Kami tidak berharap inflasi tetap pada tingkat itu. Alasan mengapa kami masih mengharapkan pertumbuhan yang solid tahun ini adalah karena kami tidak akan melihat inflasi yang tinggi," kata Luke Tilley, kepala ekonom di Wilmington Trust.

Tilley mengatakan varian Delta menjadi faktor perlambatan pertumbuhan tahun ini. Namun,  kondisi akan mengarah negatif jika ekonomi melambat karena konsumen telah menghabiskan tabungan mereka atau mengubah kebiasaan belanja untuk jasa.

Dia menunjukkan cara bisnis merespons pandemi membentuk perbedaan pengeluaran. Ia mencontohkan, pengeluaran untuk struktur turun tetapi kekayaan intelektual dan peralatan lebih tinggi.

“Teknologi memungkinkan kita untuk terus membelanjakan uang terlepas dari apa yang terjadi dengan Covid-19. Itu membuat ekonomi secara keseluruhan tetap berjalan tetapi itu juga berarti Anda dapat secara permanen menghilangkan beberapa pekerjaan lebih cepat, ”kata Diane Swonk, kepala ekonom di Grant Thornton.

Swonk mengatakan wabah Covid-19 yang lebih besar dapat memicu perilaku konsumen yang dapat memengaruhi pengeluaran dan memperlambat pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. 

Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait