Sentimen Pasar Membaik, Rupiah Perkasa di Level 14.300/US$

Image title
4 Agustus 2021, 10:17
rupiah, kurs rupiah, nilai tukar
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Ilustrasi. Kurs rupiah hari ini berpeluang menguat ke arah Rp 14.300 per dolar AS, dengan potensi resistensi di level Rp 14.380 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,06% ke level Rp 14.332 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot hari ini.  Rupiah diprediksi masih akan melanjutkan penguatannya didorong perbaikan sentimen pasar global terhadap aset berisiko.

Mengutip Bloomberg, kurs berbalik melemah ke level Rp 14.337 per dolar AS hingga pukul 10.00 WIB. Kendati posisi ini masih lebih tinggi dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di level Rp 14.342 per dolar AS.

Mata uang Asia lainnya bergerak bervariasi. Dolar Taiwan menguat 0,07% bersama dengan won Korea Selatan 0,15%, rupee India 0,08%, yuan Tiongkok 0,09%, dolar Hongkong 0,04% dan dolar Singapura 0,1%. Sementara yen Jepang melemah 0,03%, bersama peso Filipina 0,31%, ringgit Malaysia 0,11% dan bath Thailand 0,16%.

Analis pasar uang Ariston Tjendra mengatakan rupiah berpeluang menguat ke arah Rp 14.300 per dolar AS, dengan potensi resistensi di level Rp 14.380 per dolar AS. Potensi penguatan dipengaruhi membaiknya sentimen pasar terhadap aset berisiko yang ditandai kenaikan pada indeks saham.

"Minat pasar terhadap aset berisiko terlihat masih tinggi dengan kenaikan indeks saham AS dan sebagian Eropa semalam." kata Ariston kepada Katadata.co.id, Rabu (4/3).

Indeks saham AS kompak menguat pada penutupan perdaganga kemarin. Nasdaq Composite ditutup menguat 0,55% ke level 14, bursa saham London indeks FTSE 100 menguat 0,34% ke level 7.105, Indeks Perancis CAC 40 0,72% ke level 6.723, indeks Spanyol IBEX 35 0,16% sebesar 8.772 dan Euro Stoxx 50 0,03% ke level 4.117.

Ariston mengatakan, penguatan pada aset berisiko terutama didorong laporan kinerja perusahaan yang membaik sepanjang kuartal kedua yang lalu.  Emiten produsen mobil listrik dunia Tesla pada minggu terakhir Juli merilis laporan keuangan perusahaan dengan performa yang memuaskan.

Pendapatan perusahaan pada kuartal II tercatat US$ 11,96 miliar melonjak hampir dua kali lipat dari periode yang sama tahun lalu US$ 6,04 miliar. Kinerja ini juga lebih tinggi dari prediksi analis sebesar US$ 11,3 miliar.

Mengutip Reuters, kenaikan pada pendapatan perusahaan turut mendongkrang keuntungan yang didapatkan perusahaan terutama didorong oleh penjualan yang lebih tinggi dari kendaraan listriknya yang lebih murah. Meski begitu meningkatnya kekhawatiran terhadap kekurangan chip global masih jadi kekhawatiran terhadap produksi perusahaan di masa mendatang.

Catatan baik juga datang dari dua raksasa media sosial yang kompak melaporkan kenaikan pendapatan. Facebook minggu lalu merilis pendapatan periode April-Juni sebesar US$ 29,08 miliarlebih tinggi dari prediksi analis US$ 27,89 miliar. Ini juga mengalami kenaikan signifikan 56% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Twitter juga merilis pendapatan kuartal II yang kian moncer. Laporan yang dibagikan bulan lalu itu menunjukkan perusahaan membukukan pendapatan US$ 1,19 miliar, naik 74% dari pendapatan tahun lalu US$ 683 juta. Ini juga lebih tinggi dari prediksi analis US$ 1,07 miliar.

Produsen minuman bersoda Coca-Cola yang pertengahan Juli juga melaporkan pendapatan kuartal II sebesar US$ 10,13 miliar, naik dari periode yang sama tahun lalu US$ 7,15 miliar. Nilai ini juga melampaui perkiraan analis US$ 9,32 miliar.

Dari dalam negeri, sentimen lonjakan Covid-19 yang belum kondusif berpeluang menahan penguatan rupiah. Laporan kasus positif Covid-19 yang masih tinggi akan mempengaruhi kinerja perekonomian beberapa bulan mendatang.

"Pasar masih mewaspadai pergerakan kasus covid-19 di Indonesia yang masih menunjukan kenaikan meski tren terlihat menurun." kata Ariston.

Kasus Covid-19 pada Selasa (3/8) bertambah 27.913 sehingga total kasus mencapai 2,25 juta. Sementara itu, terdapat 13.282 kasus sembuh dan 493 meninggal sehingga total kasus mencapai 14.138.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait