Rupiah Diprediksi Melemah Terpengaruh Rilis Data Ekonomi AS

Rupiah berpotensi bergerak melemah seiring dua data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang dirilis tadi malam memperkuat wacana tapering off bank sentral.
Image title
13 Agustus 2021, 10:17
rupiah, nilai tukar, data ekonomi AS
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi. Rupiah bergerak melemah tipis dari posisi pembukaan ke Rp 14.382 per dolar AS hingga pukul 10.00 WIB.

Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis 0,006% ke level Rp 14.381 per dolar AS pada perdagangan pasar spot hari ini. Namun, analis memperingatkan kurs rupiah berpotensi bergerak melemah seiring dua data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang dirilis tadi malam memperkuat wacana tapering off bank sentral.

Mengutip Bloomberg,  rupiah bergerak melemah tipis ke Rp 14.382 per dolar AS hingga pukul 10.00 WIB. Namun, posisi ini stagnan dibandungkan angka penutupan kemarin. 

Mata uang Asia lainnya bergerak bervariasi. Peso Filipina menguat 0,01% bersama rupee India 0,25%, yuan Tiongkok 0,04% dan yen Jepang 0,01%. Sementara lainnya bergerak melemah, antara lain won Korea Selatan melemah 0,55%, dolar Taiwan 0,05%, dolar Hong Kong dan Singapura kompak melemah 0,01%, ringgit Malaysia 0,09% dan bath Thailand 0,29%.

Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan bergerak melemah ke kisaran Rp 14.410 per dolar AS, dengan potensi support di kisaran Rp 14.360. Rilis dua data ekonomi AS semalam terkait indeks harga produsen (PPI) yang naik signifikan dan klaim pengangguran mulai menunjukkan perbaikan berpotensi menarik kembali isu tapering off bank sentral.

"Hasil ini bisa mendukung kebijakan tapering off di akhir tahun yang sudah didengungkan oleh para pejabat Fed." kata Ariston kepada Katadata.co.id, Jumat, (13/8).

Melansir CNBC, indeks harga produsen (PPI) Amerika Serikat pada bulan Juli meningkat lebih dari eksepktasi ekonom. Departemen Ketenagakerjaan melaporkan PPI bulan lalu tumbuh 1% secara month-to-month (mtm), setelah kenaikan yang sama pada bulan sebelumnya. Selain itu, PPI melonjak 7,8% secara tahunan, rekor tertinggi sejak perhitungan terhadap PPI dimulai lebih dari satu dekade lalu.

Data terbaru tentang kenaikan harga produsen ini hanya berselang sehari setelah pemerintah juga melaporkan bahwa ada beberapa bukti perlambatan kenaikan inflasi pada harga konsumen. Harga konsumen di bulan Juli naik 0,5%, dibandingkan dengan lonjakan 0,9% di bulan Juni.

Hampir tiga perempat dari kenaikan 1% Juli pada PPI dihasilkan oleh kenaikan biaya layanan yang naik 1,1%. Ada keuntungan besar dan kuat dalam margin untuk mobil dan suku cadang mobil, yang melonjak 11,2%. Harga eceran untuk mobil baru dan mobil bekas telah meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini salah satunya dipengaruhi kekurangan pasokan chip global.

Dorongan kuat bagi bank sentral AS, The Federal Reserve (Fed) untuk menarik pedal gas tapering off juga datang dari rilis data ketenagakerjaan yang menunjukkan perbaikan. Ini terindikasi dari laporan klaim pengangguran pada minggu pertama Agustus 2021 yang melanjutkan penurunannya selama tiga minggu berturut-turut.

Departemen Ketenagakerjaan melaporkan, jumlah klaim pengangguran pekan lalu mencapai 375 ribu klaim. Ini mengalami penurunan dari posisi tiga minggu sebelumnya 424 ribu pada minggu ketiga Juli, 399 ribu pada minggu keempat Juli dan 387 ribu pada minggu terkahir bulan lalu. Laporan minggu lalu juga jadi klaim terendah ketiga sejak akhir Maret 2020.

Jumlah klaim pengangguran telah turun tajam sejak musim semi karena ekonomi telah pulih, dan mereka telah menetap di dekat level 400.000 dalam beberapa pekan terakhir. Rata-rata empat minggu sekarang adalah 396.250 klaim awal.

Dalam dua pekan terakhir, The Fed memberi sinyal akan mempercepat tapering off. Wakil Gubernur Fed Richard Clarida minggu lalu mengatakan ada kemungkinan Fed akan mengakhiri periode suku bunga rendah hanya sampai akhir tahun depan. Suku bunga Fed diperkirakan akan mulai kembali naik pada tahun 2023.

Namun langkah pengetatan kemungkinan akan lebih dulu dilakukan dengan pengurangan pembelin obligasi. Kabarnya langkah ini akan dimulai Oktober mendatang, yang mana Fed setiap bulan melakukan pembelian obligasi senilai US$ 120 miliar untuk membantu pemerintahan Biden mengatasi pandemi Covid-19.

Gubernur Fed Jerome Powel dalam konferensi akhir Juli lalu mengumumkan, bank sentral akan mempertimbangkan langkah tapering off dengan memperhatikan dua aspek utama, yakni kondisi inflasi dan pemulihan pasar tenaga kerja.

Kendati berpotensi kuat akan melemah, Ariston tidak menampik masih ada harapan rupiah tidak tergerus lebih dalam. Hal ini memperhatikan optimisme pasar terhadap aset berisiko yang menunjukkan perbaikan.

"Membaiknya IHSG yang artinya pasar melihat peluang pemulihan di aset berisiko mungkin bisa menahan pelemahan rupiah terhadap dollar AS." kata Ariston.

 

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait