Surplus Neraca Dagang Tak Mampu Angkat Rupiah

rupiah, rupiah stagnan, rupiah menguat, surplus neraca dagang
Image title
18 Agustus 2021, 16:43
Petugas menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (18/3/2020). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Rabu (18/3) hingga pukul 10.09 WIB, nilai tukar rupiah melemah 140 poin ata
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Rupiah hari ini stagnan di tengah penguatan mayoritas mata uang Asia lainnya terhadap dolar AS.

Nilai tukar rupiah ditutup stagnan di level Rp 14.372 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot hari ini setelah sempat bergerak melemah pada pembukaan tadi pagi. Rupiah tak bergerak dari posisi kemarin meski neraca perdagangan mencatatkan surplus US$ 2,6 miliar.

Mengutip Bloomberg, mayoritas mata uang Asia lainnya juga ditutup menguat. Penguatan juga terjadi pada yuan Tiongkok dan rupee India sebesar 0,08%, ringgit Malaysia 0,05%, bath Thailand dan dolar Singapura 0,15%, won Korea Selatan 0,69%, dolar Taiwan 0,01% serta dolar Hong Kong 0,07%. Sementara peso Filipina melemah 0,02% bersama yen Jepang 0,04%.

Diretkru TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah bergerak menguat dari posisi pembukaan usai rilis data neraca perdagangan Juli yang kembali mencetak surplus US$ 2,59 miliar. Nilai ini lebih tinggi dari surplus bulan sebelumnya US$ 1,32 miliar, namun masih lebih rendah dari surplus Juli 2020 sebesar US$ 3,26 miliar.

"Pelaku pasar merespon positif laporan BPS terkait neraca perdagangan pada Juli 2021 yang mengalami surplus US$ 2,59 miliar, realisasinya lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya," kata Ibrahim kepada Katadata.co.id, Rabu (18/8).

Nilai ekspor Indonesia Juli 2021 tercatat US$17,70 miliar. Realisasinya turun 4,53% dari realisasi bulan sebelumnya. Sementara dibandingkan Juli 2020, nilainya masih berhasil tumbuh 29,32%. Sementara, nilai impor Indonesia tercatat US$ 15,11 miliar, turun 12,22% dibandingkan Juni 2021 namun naik 44,44% secara tahunan.

Sementara berdasarkan jenisnya, surplus yang diperoleh dari transaksi perdagangan sektor nonmigas sebenarnya lebih tinggi yakni US$ 3,38 miliar. Namun nilainya berkurang karena terjadi defisit pada sektor migas US$ 790 juta.

Sementara dari faktor eksternal, menurut dia, ada sentimen laporan data penjualan retail terbaru mengindikasikan konsumen mulai mengurai pembeliannya. Penjualan ritel bulan Juli terkoreksi 1,1%, turun lebih banyak dari perkiraan Dow Jones yang akan turun 0,3%.

Konsumsi berkontribusi hampir 70% dari semua aktivitas di AS, sehingga penjualan ritel menjadi salah satu indikator penting yang diawasi pemerintah untuk menentukan perekonomian memasuki fase pemulihan. Sementara, pada saat yang bersamaan bank sentral AS, The Federal Reserve juga memberikan tolok ukur langkah tapering off alias pengetatan stimulus baru akan diambil apabila kondisi inflasi dan ketenagakerjaan menunjukkan pemulihan.

Wacana tapering off semakin tenggelam saat beberapa pekan lalu pemerintah merilis tingkat inflasi Juli tumbuh melambat 5,4% year-on-year.  Angka ini masih berada di level pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun, namun jika melihat kenaikan indeks harga konsumen (IHK) secara bulanan, IHK Juli hanya naik 0,5%, lebih lambat dari kenaikan 0,9% pada bulan sebelumnya.

Hal ini makin memperkuat peringatan Gubernur Fed Jerome Powell pada konferensi pers pertengahan Juli lalu. Saat itu Powell mengingatkan bahwa inflasi yang terus melambung dalam beberapa bulan terakhir mungkin hanya akan bersifat sementara. Di sisi lain wacana tapering off menguat seiring data-data ekonomi lainnya yang menunjukkan pemulihan, terutama laporan ketenagakerjaan yang menunjukkan penurunan angka pengangguran.

Adapun penguatan rupiah hari ini tertahan oleh kondisi penyebaran Covid-19 varian Delta yang masih tinggi di sebagian besar negara dunia. Ini mendorong pasar untuk tidak terlalu cepat meninggalkan aset aman dolar AS.

"Meski melemah, dolar tetap berada pada level yang tinggi karena kekhawatiran terhadap pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung, mendorong pasar untuk mengurangi posisi mereka di mata uang yang lebih berisiko," ujar Ibrahim.

Mengutip Worldometer, jumlah kasus positif Covid-19 dunia hingga Selasa (17/8) terkonfrimasi lebih dari 209 juta kasus. Angka kematian sebanyak 4,3 juta dan sembuh lebih dari 187 juta orang.

Laporan kasus positif Covid-19 harian menunjukkan kenaikan sejak awal Juli, sementara hingga kemarin, jumlah kasus positif harian sebanyak 649.028 kasus. Laporan tertinggi dalam tiga bulan terakhir tercatat sebanyak 726.745 kasus positif baru pada 13 Agustus.

Sedangkan untuk perdagangan besok, Ibrahim memperkirkan rupiah akan dibuka  berfluktuatif namun  ditutup menguat  terbatas di kisara  Rp.14.360 hingga Rp.14.390 per dolar AS.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait