BI: Dampak Tapering Off Kali Ini Tak Akan Separah Taper Tantrum 2013

Image title
19 Agustus 2021, 15:40
tapering off, bank indonesia, the federal reserve, amerika serikat, gubernur bi, perry warjiyo, rapat dewan gubernur BI
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kiri) memastikan pihaknya memiliki kebijkan yang sudah diimplementasikan selama ini, yakni strategi triple intervention untuk menjaga stabilitas rupiah.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memastikan langkah penarikan stimulus atau tapering off yang tampaknya akan dilakukan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (Fed) dalam waktu dekat tidak akan berdampak signifikan. Efeknya tidak akan separah taper tantrum yang terjadi pada 2013.

"Dampaknya terhadap global maupun negara berkembang, termasuk Indonesia tidak akan sebesar taper tantrum The Fed yang terjadi tahun 2013," kata perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil rapat dewan gubernur Bank Indonesia, Kamis (19/8).

Perry menjelaskan, ada tiga alasan pengetatan stimulus The Fed tidak akan mempengaruhi kondisi domestik sebesar saat taper tantrum 2013. Pertama, komunikasi yang dibangun The Fed selama ini sudah sangat jelas. Transparansi yang dimaksud Perry menyangkut kerangka kerja yang akan dilakukan bank sentral, prospek ekonomi khususnya inflasi dan pengangguran, serta keterbukaan The Fed terkait rencana akan dilakukannya tapering off. Hal ini mendorong pasar semakin memahami pola kerja otoritas moneter AS tersebut.

Kedua, Perry memastikan Bank Indonesia memiliki kebijakan yang sudah diimplementasikan selama ini, yakni strategi triple intervention untuk menjaga stabilitas rupiah. Langkah ini, menurut dia, sempat dilakukan pada bulan-bulan awal 2021 ketika US Treasury melonjak hingga 1,9%. Bank Indonesia mengantisipasi kaburnya dana asing dari pasar surat berharga negara (SBN) mencapai Rp 8,6 triliun dari total Rp 11 triliun dana yang keluar.

Selain itu, Perry juga meyakinkan bahwa, pihaknya rutin berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan terkait pengelolaan yield surat berharga negara (SBN) di dalam dan luar negeri agar tetap menarik minat investor asing.

Ketiga, kondisi moneter dalam negeri juga dipastikan lebih stabil dengan adanya cadangan devisa yang cukup tinggi yakni US$ 137,4 miliar. "Ini jauh lebih cukup untuk melakukan stabilisasi," ujarnya.

Wacana tapering off semakin kencang beberapa minggu terakhir, terutama setelah sejumlah pejabat Fed memberikan isyarat pengetatan stimulus akan diambil dalam waktu dekat. Wakil Gubernur Fed Richard Clarida dalam sebuah webinar awal bulan ini menyebut, bank sentral berpeluang menaikan suku bunga mulai tahun 2023, artinya tingkat suku bunga rendah  saat ini hanya akan berlangsug sampai akhir tahun depan.

Namun, Clarida juga menyebut langkah lebih dulu mungkin akan dilakukan dengan mengurangi pembelian obligasi pemerintah. Hal ini kemudian ditimpali oleh Dewan Gubernur Fer Christopher Waller yang mengatakan Fed tampaknya akan mengurangi pembelian obligasi mulai Oktober mendatang. Langkah ini diambil apabila memenuhi sejumlah tolok ukur, terutaam kondisi ketenagakerjaan.

Wacana pengurangan pembelian obligasi oleh Fed makin dekat dengan kenyataan, terutama setelah Risalah rapat komite pasar terbuka federal (FOMC) dirilis Rabu dini hari (18/8).  The Fed selama ini membantu pemulihan negara dengan langkah moneter pembelian obligasi pemerintah senilai US$ 120 miliar setiap bulannya. Notulen rapat tersebut menunjukkan pejabat Fed berencana melakukan pengurangan pembelian obligasi tersebut atau tapering off sebelum akhir tahun ini.

"Sebagian besar peserta mencatat bahwa, asalkan ekonomi berkembang secara luas seperti yang mereka antisipasi, mereka menilai bahwa mungkin tepat untuk mulai mengurangi laju pembelian aset tahun ini," demikian tertulis dalam risalah FOMC seperti dikutip dari CNBC.

Namun, dalam dokumen tersebut, Fed juga menekankan langkah pengurangan pembelian obligasi tidak ada kaitannya dengan rencana kenaikan suku bunga. Risalah tersebut juga membuka fakta adanya perbedaan pendapatan yang substansial di antara pejabata Fed dalam FOMC bulan lalu. Beberapa pejabat mengkhawatirkan inflasi mungkin saja akan kembali turun jika kasus Covid-19 terus meningkat sehingga menghambat pemulihan ekonomi yang tengah berlangsung.

Di sisi lain, beberapa pejabat juga khawatir masih adanaya ketidakpastian yang cukup tinggi terutama adanya varian delta akan makin memperparah inflasi yang tinggi saat ini. Oleh karena itu, mereka yang mendukung kenaikan suku bunga memperkirakan inflasi tinggi mungkin akan tertahan lebih lama lagi.

The Fed dalam rapat yang lalu juga mengumumkan bank sentral masih mempertahankan tingkat suku bunga rendah mendekati nol, di kisaran 0% hingga 0,25%. Bank sentral negara dengan ekonomi terbesar dunia ini telah mempertahankan suku bunga acuannya di level yang rendah sejak Februari 2020, seperti terlihat dalam databoks di bawah ini. 

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait