Rupiah Menguat ke 14.416/US$ Meski Masih Dibayangi Tapering Off Fed

Image title
23 Agustus 2021, 09:48
rupiah, nilai tukar, tapering off
Arief Kamaludin|KATADATA
Rupiah menguat terhadap dolar AS bersama mayoritas mata uang Asia lainnya.

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,12% ke level Rp 14.435 per dolar AS pada perdagangan pasar spot hari ini. Rupiah dipengaruhi membaiknya sentimen pasar terhadap aset berisiko meski wacana tapering off masih terus membayang-bayangi.

Mengutip Bloomberg, rupiah terus menguat ke level Rp 14.416 per dolar AS hingga pukul 09.30 WIB. Mayoritas mata uang Asia lainnya juga kompak menguat. Ringgit Malaysia menguat 0,22%, diikuti bath Thailand 0,22%, yuan Tiongkok 0,16%, peso Filipina 0,31%, won Korea Selatan 0,56%, dolar Hong Kong 0,03%, dolar Singapura 0,15% dan dolar Taiwan 0,18%. Sementara yen Jepang dan rupee India melemah masing-masing 0,05% dan 0,20%.

Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan bergerak menguat di kisara Rp 14.380 per dolar AS, dengan potensi resisten di kisaran Rp 14.460. Hal ini didorong membaiknya sentimen pasar terhadap aset berisiko.

"Meskipun kondisi ekonomi dibayangi covid-19 tapi pasar juga terlihat masih optimis terhadap peluang pemulihan ekonomi ke depan," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Senin (23/8).

Mayoritas bursa saham di Asia terpantau menguat pagi ini. Nikkei 225 Jepang menguat 1,21%, Shanghai SE Composite Tiongkok 0,28%, Hang Seng Hong Kong 1,25%, Kospi Korea Selatan 1,04%, Taiex Taiwan 1,82%, KSE Pakistan 0,71%, FTSE Malaysia 0,20%, Strait Times Singapura 0,14%, Thai Set 50 Thailand 0,56% dan PSEi Filipina 0,78%.

Penguatan juga terjadi di bursa global lainnya, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,41%, Xetra Dax Jerman 0,27%, Dow Jones Industrial AS 0,65%, S&P 500 AS 0,81%, Nasdaq Composite AS 1,19%, CAC 40 Perancis 0,31%, IBEX 35 Spanyol 0,15%, OMX Stockholm 30 Swedia 1,30%

Kendati demikian, Ariston masih memperingatkan sejumlah sentimen negatif masih akan membayangi penguatan hari ini. Asumsi ini terutama didorong lonjakan kasus Covid-19 di sebagian besar negara dunia dan kuatnya sentimen tapering off sejak pekan lalu.

"Kekhawatiran pasar terhadap kenaikan kasus covid-19 dan tapering telah mendorong aset berisiko tertekan pekan lalu. Kekhwatiran tersebut kelihatannya masih ada pekan ini," ujar Ariston.

Wacana tapering off alias pengetatan stimulus oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (Fed) membayangi pergerakan rupiah yang melemah sepanjang pekan lalu. Pada penutupan hari Jumat (20/8), rupiah melemah 0,45% dari posisi pekan sebelumnya. Notulen rapat komite pasar terbuka federal (FOMC) yang dirilis Rabu dini hari mendorong wacana Tapering off semakin kencang diperbincangkan.

Dalam risalah rapat tersebut, sebagian pejabat Fed mendukung rencana pengetatan stimulus dengan mengurangi pembelian obligasi pemerintah sebelum akhir tahun ini. Nilai pembelian itu mencapai US$ 120 miliar setiap bulannya. Namun notulen tersebut mengungkap pejabat Fed masih berbeda pendapat terkait rencana kenaikan suku bunga. Sehingga mereka juga menegaskan rencana pengurangan pembelian obligasi tidak akan ada kaitannya dengan rencana kenaikan suku bunga.

Pada pekan ini, pasar tampaknya masih menanti pernyataan baru Fed. Pada Jumat (27/8) mendatang, Gubernur Fed Jerome Powell akan hadir dalam simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole yang akan diselenggarakan secara virtual. Pasar mengantisipasi Powell akan menyinggung terkait Tapering Off dalam sambutannya di acara tersebut.

Kendati demikian, analis memperkirakan Powell tidak akan memberikan pernyataan yang mengejutkan dalam sambutannya nanti. "Kami tidak memperkirakan ada kebijkan besar yang akan diungkap pada pertemuan ini. Saya pikir Powell tidak berpikir mendahului rapat September nanti, terlebih ada banyak suara di luar sana, saya tidak berpikir ini waktu yang tepat baginya membuat kejutan." kata Kepala Strategi Jangka Pendek AS di Bank of America seperti dikutip dari CNBC.

Selain Fed, pekan ini juga akan dirilis sejumlah data ekonomi AS, yakni penjualan rumah, penjualan durable goods serta rilis inflasi bulanan di hari yang sama dengan pelaksanaan simposium. Perilisan data-data ini penting, pasalnya Powell dalam pernyataannya bulan lalu menyebut Fed akan melihat beberapa indikator penting sebelum menarik gas tapering off, yakni kondisi ketenagakerjaan dan inflasi.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait