Sri Mulyani: Pemulihan Ekonomi RI Lebih Cepat Daripada Singapura

Image title
31 Agustus 2021, 17:51
sri mulyani, pemulihan ekonomi, pertumbuhan ekonomi
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj.
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut, tidak semua negara mampu rebound setelah terkontraksi dalam tahun lalu.

Ekonomi Indonesia pada kuartal II tumbuh 7,07%, dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai kinerja tersebut telah berhasil membawa Indonesia melampaui level sebelum pandemi, lebih baik dibanding negara Asia Tenggara lainnya seperti Singapura dan Malaysia. 

"Ekonomi Indonesia dengan berbagai langkah yang dilakukan pemerintah telah berhasil melebihi level sebelum krisis pandemi. Kalau pada kuartal II 2019 PDB riil kita Rp 2.735 triliun, pada kuartal II 2021 sudah Rp 2.773 triliun," kata Sri Mulyani dalam Kongres ISEI XXI, Selasa (31/8).

Bendahara negara membandingkan kinerja pemulihan kuartal II 2021 Indonesia dengan negara Asia Tenggara lainnya yang belum berhasil melampaui level sebelum pandemi. Menurut dia, tidak semua negara mampu rebound setelah terkontraksi dalam tahun lalu.

"Kita lihat negara-negara di sekitar kita, seperti Malaysia, Filipina, Thailand dan Singapura bahkan dengan berbagai upaya mereka PDB pada kuartal II tahun ini belum bisa melewati kondisi sebelum Covid-19," ujar Sri Mulyani.

Perekonomian Malaysia tumbuh 16,1% pada kuartal II 2021, secara nominal PDB riilnya 336 miliar ringgit Malaysia. Nilai tersebut masih di bawah 350 miliar ringgit Malaysia pada kuartal II 2019. Hal serupa juga terjadi pada Singapura yang tumbuh 14,7% pada kuartal II 2021. Secara nominal, PDB riil Singapura pada Maret-Juni 2021 tercatat 119 miliar dolar Singapura, lebih rendah dari 120 miliar dolar Singappada tahun 2019.

Thailand pada kuartal II 2021 tercatat tumbuh 7,5% dengan nilai PDB riil sebesar 2.526 miliar baht Thailand. Nilai ini masih berada di bawah PDB kuartal II 2019 THB 2.672. Filipina tumbuh 11,8% dengan nilai PDB riil PHP 4.628 miliar, belum melampaui PHP 4.986 miliar pada kuartal II 2019.

Namun, kinerja Indonesia masih bisa disaingi Amerika Serika (AS) yang juga sudah pulih ke level sebelum pandemi. "Amerika Serikat barang kali yang merupakan negara maju dengan kekuatan countercyclical dan fiskal supportnya telah bisa melewati level sebelum pandemi," kata Sri Mulyani.

Perekonomian AS mencatat pertumbuhan 12,2% pada kuartal II tahun ini. Nilai PDB riil pada periode tersebut sebesar US$ 4.839 miliar, sudah melampaui pencapaian periode yang sama tahun 2019 US$ 4.750 miliar.

Sri Mulyani menyebut perekonomian nasional sudah melewati masa resesi setelah terkontraksi empat kuartal berutur-turut. Dia berharap momentum pemulihan pada kuartal II dapat berlanjut di paruh kedua tahun ini.

"Ini tentu menjadi bekal baik untuk kita terus melakukan perbaikan dan penyempurnaan kebijakan, ekonomi kita sudah melewati masa resesi tapi ini masih sangat ditentukan oleh kemampuan kita mengendalikan Covid-19," katanya.

Ia menyebut, momentum pemulihan pada kuartal III dan IV tahun ini akan terus dijaga dengan memperhatikan tiga langkah kunci berikut:

  1. Penanganan kesehatan. Pemerintah akan mendorong mendorong masyarakat disiplin menerapkan protokol kesehatan 5M, yakni menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan. Pemerintah juga akan meningkatkan 3T (testing, tracing dan treatment)  serta vaksinasi dengan melibatkan TNI, Polri, BIN dan BKKBN.
  2. Mempertebal bantuan sosial dan program perlindungan sosial bagi kelompok rentan 40%-50% termiskin. Sri Mulyani menyebut, pemerintah telah menambah sejumlah program perlinsos pada saat lonjakan kasus terjadi bulan lalu dan telah berjalan saat ini. Berbagai stimulus tersebut juga disalurkan bagi pelaku UMKM.
  3. Reformasi struktural. Sri Mulyani menekankan pentingnya memperbaiki fondasi ekonomi nasional. Hal ini dilakukan dengan berbagai langkah yang bisa meningkatkan daya saing dan kualitas ekonomi.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait