Lelang SUN Pekan Depan, Pemerintah Akan Tambah Utang Rp 21 T

Dalam lelang SUN pekan depan, pemerintah mematok target indikatif Rp 21 triliun dan maksimal Rp 31,5 triliun.
Image title
10 September 2021, 12:16
lelang sun, utang
Arief Kamaludin|KATADATA
Posisi utang pemerintah pada Juli 2021 sebesar Rp 6.570 triliun, meningkat 20,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 5.434 triliun.

Pemerintah akan kembali menambah utang melalui lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Kamis (16/9) mendatang. Dalam lelang SUN tersebut, pemerintan akan melepas tujuh seri SUN dengan target indikatif Rp 21 triliun dan maksimal Rp 31,5 triliun.

"Pemerintah akan melakukan lelang SUN dalam mata uang rupiah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2021," demikian tertulis dalam pengumuman yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Kamis (9/9).

Lelang akan digelar mulai pukul 09.00 WIB dan ditutup pada 11.00 WIB, sedangkan setelmen dilakukan dua hari setelah lelang atau pada Kamis (16/9). 

SUN akan dilepas dengan harga Rp 1 juta per unit.  SUN yang akan dilepas pada lelang mendatang terdiri atas dua seri Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dan lima seri Obligasi Negara (ON) jenis fixed rate (FR).

Dua seri SPN yang akan dirilis yakni SPN03211215 dan SPN12220915. Keduanya berstatus sebagai obligasi dengan penawaran baru atau new issuance. Seri SPN03211215 ditawarkan dengan tangggal jatuh tempo 15 Desember 2021, sementara SPN12220915 memiliki tanggal jatuh tempo 15 September 2022. Keduanya ditawarkan dengan tingkat kupon diskonto.

Kemudian, ketentuan dari lima seri ON antara lain,
1. FR0090, tanggal jatuh tempo 15 April 2027 dengan kupon 5,125%
2. FR0091, tanggal jatuh tempo 15 April 2032 dengan kupon 6,375%
3. FR0088, tanggal jatuh tempo 15 Juni 2036 dengan kupon 6,250%
4. FR0092, tanggal jatuh tempo 15 Juni 2042 dengan kupon 7,125%
5. FR0089, tanggal jatuh tempo 15 Agustus 2051 dengan kupon 6,875%

Berdasarkan ketentuan lelang, DJPPR menentukan alokasi pembelian non-kompetitif hanya boleh maksimal 50% dari yang dimenangkan untuk seri SPN. Sementara untuk seri ON hanya maksimal 30% dari yang dimenangkan.

Pemenang lelang yang mengajukan penawaran pembelian kompetitif akan membayar sesuai dengan yield yang diajukan. Sedangkan pemenang lelang yang mengajukan penawaran pembelian non-kompetitif akan membayar sesuai dengan yield rata-rata tertimbang dari penawaran pembelian kompetitif yang dinyatakan menang.

Lelang akan dibuka  untuk investor institusi maupun investor individu. Pembeli hanya perlu mengajukan penawaran melalui dealer utama yang ditunjuk sebagai peserta lelang.

Pemerintah telah menunjuk 20 dealer utama sebagai peserta lelang, terdiri atas empat perusahaan sekuritas dan 16 bank. Empat perusahaan sekuritas yang ditunjuk pemerintah yakni PT Bahana Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia.

Sementara bank yang akan ikut lelang SUN pekan depan antara lain, Citibank N.A., Deutsche Bank AG, Bank HSBC Indonesia, BCA, Bank Danamon Indonesia, Bank Maybank Indonesia, Bank Mandiri, BNI, Bank OCBC NISP, Bank Panin, BRI, Bank Permata, Bank CIMB Niaga, Bank ANZ Indonesia, Bank Standard Chartered, dan Bank JP Morgan Chase Bank N.A.

Kementerian Keuangan melaporkan posisi utang pemerintah pada Juli 2021 sebesar Rp 6.570 triliun, meningkat 20,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 5.434 triliun.

Utang pemerintah tersebut sebagian besar bersumber dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) Rp 5.727,71 triliun atau 87,18% dari utang pemerintah. SBN domestik mencapai Rp 4.437.61 triliun dan SBN valuta asing (valas) Rp 1.290,09 triliun.

Selain itu, pemerintah juga memiliki utang berupa pinjaman sebesar Rp 842,46 triliun atau 12,82% dari total utang pemerintah. Utang berupa pinjaman tersebut terdiri atas pinjaman sebesar Rp 12,7 triliun berasal dari dalam negeri serta pinjaman sebesar Rp 829,76 triliun yang berasal dari luar negeri.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait